Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.
Siang ini adalah penataran imam yang kedua, supaya pelayanan kita semakin baik, kita melayani Tuhan semesta alam, Raja segala raja, kita bisa memberikan pelayanan yang terbaik.
Wahyu 16:1-2
16:1 Dan aku mendengar suara yang nyaring dari dalam Bait Suci berkata kepada ketujuh malaikat itu: "Pergilah dan tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allah itu ke atas bumi."
16:2 Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.
7 malapetaka adalah penghukuman dari Allah Bapa kepada manusia yang tidak memiliki kasih atau tidak menghargai Kasih Allah. Ini malapetaka pertama yaitu bisul jahat dan berbahaya. Bisul adalah daging yang membengkak. Jadi bisul adalah hukuman kepada manusia yang menjadi hamba daging, dia menuruti hawa nafsu keinginannya, tidak mau diatur oleh Firman. Makanya bisul ini kena kepada orang yang memakai tanda antikristus yaitu 666. Secara nyata tanda ini belum ada karena antikristus belum berkuasa. Tetapi secara rohani cap ini sudah kena kepada manusia yang menuruti hawa nafsu dagingnya. 6 itu angka daging, manusia diciptakan pada hari ke-6.
666 jadi 6 nya ada 3.
6 pertama tubuhnya daging
6 kedua jiwanya daging
6 ketiga rohnya daging, tabiatnya daging.
Bahkan melayani dengan hawa nafsu daging. Banyak hamba Tuhan pelayan Tuhan, tetapi sebenarnya yang dia layani dagingnya sendiri, tidak mau diatur oleh Firman. Firman mengatur A, dia mau lakukan B. Kalau hamba daging melayani, tahbisannya pasti tidak akan benar.
Supaya kita tidak kena bisul, tidak dihukum oleh Tuhan, maka:
1. Kita harus menjadi hamba Tuhan, mengabdi kepada Tuhan. Hamba Tuhan bukan nanti pendeta. Seperti Maria berkata ‘aku ini hamba Tuhan, jadilah seperti yang Engkau katakan itu’ bukan berarti dia pendeta. Kita mau menghamba kepada Tuhan, mau melayani Tuhan.
2. Memiliki tahbisan yang benar. Bisa main musik, bisa khotbah, fasih lidah, pintar merangkai kata tetapi bagaimana tahbisannnya?
Ditahbiskan artinya:
1. Disucikan
2. Diangkat oleh Tuhan
3. Menyerahkan hidup sama sekali kepada Tuhan.
Kita yang melayani Tuhan ingat ini, saya sudah ditahbiskan berarti saya menyerahkan hidup sama sekali kepada Tuhan, tidak boleh hitung-hitungan. Betul-betul kita berbakti, mengabdikan diri kepada Tuhan.
Jadi kalau disimpulkan tahbisan yang benar adalah diangkat oleh Tuhan untuk melayani Tuhan. Jadi bukan pendeta yang angkat. Sehingga kita melayani dalam kekudusan, karena yang mengangkat adalah Tuhan, Tuhan itu Maha Kudus. Masakan kita mau melayani Tuhan yang Maha Kudus itu dengan keadaan diri cemar. Kita bisa mengabdi sungguh-sungguh kepada Tuhan, ada penyerahan sepenuh kepada Tuhan. Dan kita melayani bukan untuk kepentingan sendiri, bukan untuk kepentingan gereja atau organisasi, tetapi kepentingan Tubuh Kristus.
Melayani jiwa-jiwa untuk menjadi anggota Tubuh Kristus bukan untuk menjadi anggota gereja, itu tahbisan yang benar. Kalau pandangan hamba Tuhan seperti ini, tidak akan ada yang marah-marah berebut domba. Siapa bilang itu dombanya kami, kami gembala-gembala hanya menjaga. Dalam Yohanes pasal 10 ada penjaga domba, ada Gembala Agung. Penjaga domba itulah kami, gembala yang diangkat oleh Tuhan. Kalau pandangannya melayani dengan tahbisan yang benar untuk kepentingan Tubuh Kristus, tidak usah bertengkar. Ada jemaat pindah kepada gembala yang lain, berarti sudah selesai tugas saya untuk menjaga dia. Tidak usah ribut, tidak usah tengkar.
Ada 3 bagian dasar tahbisan.
Keluaran 29:1-3
29:1 "Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela,
29:2 roti yang tidak beragi dan roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak; dari tepung gandum yang terbaik haruslah kaubuat semuanya itu.
29:3 Kautaruhlah semuanya dalam sebuah bakul dan kaupersembahkanlah semuanya dalam bakul itu, demikian juga lembu jantan dan kedua domba jantan itu.
1. Korban binatang atau darah = kasih dan kebenaran. Dulu memang ada korban binatang, tetapi sekarang korban binatang itu sudah digenapi dalam Korban Kristus, kurban yang sempurna. Itu wujud kasih Allah untuk membenarkan kita.
Artinya untuk melayani Tuhan harus dibenarkan oleh pengampunan darah Yesus yang adalah wujud kasih Allah. Misalkan nikahnya belum benar, yah dibenarkan dulu baru melayani. Keuangannya tidak benar, dibenarkan dulu baru melayani. Di dunia saja kalau tidak benar, tidak bisa memegang jabatan. Begitu juga dalam pekerjaan Tuhan, lebih dari dunia. Makanya harus benar! Kita yang sudah melayani, periksa SIM-nya, periksa KTP-nya semua harus benar karena kita melayani kerajaan Sorga. Kalau tidak benar, bagaimana bisa melayani! Misalkan saya mau khotbah lalu pergi melayani tidak pakai helm, mau khotbah kebenaran tetapi tidak pakai helm, mau khotbah apa. Anggota zangkoor pake dasi datang ke gereja melayani tetapi tidak benar, ini mau melayani siapa! Sorga itu kebenaran, jadi harus benar, semua benar. Biarlah tertuduh hati kalau tidak benar!
Roma 3:23-24
3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,
3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Kita dibenarkan oleh darah Yesus, masakan karena sesuatu lalu kita mau berlaku bengkok lagi padahal sudah dibenarkan oleh darah Yesus. Itu berarti menghina darah Yesus, menginjak-injak darah Yesus untuk melakukan sesuatu yang tidak benar.
Jadi bagian pertama korban binatang, dibenarkan oleh Korban Kristus yang adalah wujud kasih Allah. Ada dosa apapun selesaikan, biar kita dibenarkan, melayani dalam kebenaran.
Korban binatang dibagi 3:
a) Lembu jantan muda sebagai korban pendamaian.
Keluaran 29:10,14
29:10 Kemudian haruslah kaubawa lembu jantan itu ke depan Kemah Pertemuan, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan itu.
29:14 Tetapi daging lembu jantan itu, kulitnya dan kotorannya haruslah kaubakar habis dengan api di luar perkemahan, itulah korban penghapus dosa.
Jadi, supaya tahbisan kita benar maka kita harus melayani dengan roh perdamaian. Dosa-dosa diselesaikan, perdamaian. Berdamai dengan Tuhan dulu kemudian berdamai dengan sesama, saling mengaku, saling mengampuni. Melayani dengan roh perdamaian. Jangan ada sesuatu yang mengganjal, menuduh di hati. Kalau ada dosa yang kita buat, itu menuduh di hati, jadinya melayani dengan perasaan tertuduh. Itu pekerjaan Roh Kudus yang menginsafkan akan dosa. Kalau perasaan itu dilawan akhirnya perasaannya sudah mati, itu sudah dicap oleh antiikristus.
Kalau tertuduh, saya ini sudah salah, yah segera minta ampun. Jangan sampai kita melayani dengan hati tertuduh. Melayani dengan dosa itu sama dengan melayani sambil memikul beban yang berat, maka pelayanannya jadi berat. Seringkali karena pelayanan jadi berat, pelayanan dibuang, dosa dipertahankan. Seharusnya dosa dibuang, pelayanan yang dipertahankan.
I Yohanes 3:19-21
3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,
3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,
Jadi kalau masih ada dosa yang dipertahankan, kita melayani jauh-jauh, tidak mendekat kepada Tuhan, tidak akan berkenan! Coba saya bawa air minum mau disuguhkan kepada tamu, tetapi karena saya merasa badan saya kotor, agak bau, jadi tehnya ditaruh jauh-jauh, dia mau datang ambil saya tambah menjauh, tidak akan berkenan! Tetapi kalau sudah bersih, sudah wangi, berani datang mendekat. Kita bisa dekat pada tamu, berikan minuman kepada dia.
Begitu juga dengan melayani Tuhan, hati menuduh sehingga melayani jauh-jauh, tidak akan berkenan. Pelayanan tidak berkenan, tidak sampai kepada Tuhan, tidak disambut oleh Tuhan. Kalau pelayanannya saja tidak disambut apalagi orangnya. Makanya dalam Matius pasal 7 Tuhan katakan enyahlah kamu pembuat kejahatan. Padahal sudah melayani, mengusir setan, bernubuat, melakukan banyak mujizat, tetapi Tuhan enyah karena tidak sesuai kehendak Tuhan.
Ayo selesaikan dosa. Para imam mungkin ada perselisihan dengan sesama, ayo selesaikan! Sama-sama menyanyi, pegang map zangkoor, tetapi tidak berdamai. Harus diselesaikan! Makanya jemaat yang datang ke sini harus pulang dulu selesaikan dengan gembalanya. Jangan sudah pindah ke sini lalu melayani padahal tidak selesai dengan yang di sana. Ayo diselesaikan semuanya supaya pelayanan kitta berkenan kepada Tuhan, tidak ada yang mengganjal di hati.
Berdamai dulu baru Tuhan percayakan pelayanan pendamaian.
II Korintus 5:18-21
5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
b) Domba jantan pertama sebagai korban penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan.
Keluaran 29:15-18
29:15 Kemudian haruslah kauambil domba jantan yang satu, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu.
29:16 Haruslah kausembelih domba jantan itu dan kauambillah darahnya dan kausiramkan pada mezbah sekelilingnya.
29:17 Haruslah kaupotong-potong domba jantan itu menurut bagian-bagian tertentu, kaubasuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kautaruh itu di atas potongan-potongannya dan di atas kepalanya.
29:18 Kemudian haruslah kaubakar seluruh domba jantan itu di atas mezbah; itulah korban bakaran, suatu persembahan yang harum bagi TUHAN, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN.
Dosa membuat sulit, bahkan tidak bisa menyerahkan diri kepada Tuhan. Jadi pelayanannya separuh-separuh. Setengah mati kalau melayani setengah-setengah. Pelayanan harus memberi diri sepenuh. Apa itu penyerahan diri sepenuh? Kita belajar dari Yesus. Praktek penyerahan diri sepenuh adalah taat pada komando Firman. Taat sampai daging ini tidak bersuara lagi. Kadang kita taat, tetapi daging ini masih bersuara. Di depan gembala bisa berkata iya om, tetapi hati bagaimana. Apa yang di mulut dengan di hati tidak sama, itu munafik namanya!
Filipi 2:8
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Waktu Yesus mau mati Yesus berseru ‘Bapa ke dalam tanganMu Ku serahkan nyawaKu’ itu penyerahan diri sepenuh, taat. Diatur bagaimana oleh Firman, lakukan. Kalau dalam penggembalaan saya sebagai gembala dipercaya oleh Tuhan untuk mengatur pelayanan. Kalau sudah diatur, taat! Saya juga gembala yang tergembala, belajar taat, diatur oleh Firman Tuhan.
Bahkan ketika kita dalam penderitaan, kita dalam keadaan susah, dalam keadaan sengsara, kita tetap taat.
Ibrani 5:8
5:8 Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
Pergumulan hebat kita hadapi, tantangan yang berat, ujian, sengsara bagi daging, di situ kita belajar untuk taat, di situlah penyerahan diri sepenuh kita terlihat. Betul-betul kita ada penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan. Dan ketaatan itu merupakan jaminan keberhasilan di dalam pelayanan. Yesus taat dan Dia berhasil. Mari kita melayani dengan ketaatan, belajar taat dari apa yang diderita. Kita sengsara tetap taat, itu domba jantan yang pertama, maka pasti berhasil.
Tidak taat itu permulaan kegagalan. Seperti Saul, waktu taat berhasil. Waktu tidak taat dia gagal sampai ditolak menjadi raja, bahkan sampai mati. Matinya tragis, dipancung kepalanya, dipaku lagi mayatnya di tembok. Tuhan tolong jangan terjadi pada kita.
c) Domba jantan kedua sebagai korban tahbisan.
Keluaran 29:19-28
29:19 Kemudian haruslah kauambil domba jantan yang lain, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu.
29:20 Haruslah kausembelih domba jantan itu, kauambillah sedikit dari darahnya dan kaububuh pada cuping telinga kanan Harun dan pada cuping telinga kanan anak-anaknya, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, dan darah selebihnya kausiramkanlah pada mezbah sekelilingnya.
29:21 Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kaupercikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya.
29:22 Dari domba jantan itu haruslah kauambil lemaknya, ekornya yang berlemak, lemak yang menutupi isi perutnya, umbai hatinya, kedua buah pinggangnya, lemak yang melekat padanya, paha kanannya — sebab itulah domba jantan persembahan pentahbisan —
29:23 kauambillah juga satu keping roti, satu roti bundar yang berminyak dan satu roti tipis dari dalam bakul berisi roti yang tidak beragi, yang ada di hadapan TUHAN.
29:24 Haruslah kautaruh seluruhnya ke atas telapak tangan Harun dan ke atas telapak tangan anak-anaknya dan haruslah kaupersembahkan semuanya sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.
29:25 Kemudian haruslah kauambil semuanya dari tangan mereka dan kaubakar di atas mezbah, yaitu di atas korban bakaran, sebagai persembahan yang harum di hadapan TUHAN; itulah suatu korban api-apian bagi TUHAN.
29:26 Selanjutnya haruslah kauambil dada dari domba jantan yang adalah bagi pentahbisan Harun dan kaupersembahkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN, dan itulah bagian untukmu.
29:27 Demikianlah harus kaukuduskan dada persembahan unjukan dan paha persembahan khusus yang dipersembahkan dari domba jantan yang adalah bagi pentahbisan Harun dan anak-anaknya.
29:28 Itulah yang menjadi bagian untuk Harun dan anak-anaknya menurut ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya bagi orang Israel, sebab inilah suatu persembahan khusus, maka haruslah itu menjadi persembahan khusus dari pihak orang Israel, yang diambil dari korban keselamatan mereka, dan menjadi persembahan khusus mereka bagi TUHAN.
Artinya kalau hati sudah damai, sudah taat, pasti ditahbiskan oleh Tuhan, dipakai oleh Tuhan. Kalau kita sudah damai, sudah taat, tidak ada alasan untuk tidak dipakai oleh Tuhan. Makanya saya heran ketika orang sudah menyelesaikan dosanya masih tidak diperbolehkan melayani. Tuhan tidak seperti itu, kalau sudah didoakan, didamaikan, kenapa mau dihalangi melayani. Silahkan melayani dengan catatan tahbisannya di jaga. Sampai Pdt. Totijs menulis kadangkala kita merasa lebih suci dari roh suci, orang sudah berdamai, sudah taat, masih tidak boleh melayani malah dosanya dicerita ke mana-mana.
Kalau sudah dipakai Tuhan dijaga 2 hal:
a) Jangan jual mahal alias gampang meraju. Ada masalah sedikit, saya mau berhenti dulu melayani. Seringkali yang jadi korban malah Tuhan, tetapi berdoa minta berkat kepada Tuhan. Tuhan bilang eh kau meraju. Coba kalau Tuham meraju, setengah jam tidak Tuhan beri nafas, sudah mati! Kalau kita kadang meraju bukan hanya setengah jam tetapi meraju bulanan tidak mau melayani, ngambek sama Tuhan. Tuhan tidak pernah kekurangan orang, satu tidak mau melayani, ada orang lain siap menggantikan orang itu. Yudas keluar, tidak lama langsung diganti Matias. Jangan jual mahal, jangan suka meraju, nanti Tuhan ganti orang lain. Kalau sudah diganti orang lain, kuatirnya tidak bisa kembali ke jabatan kita.
b) Jangan sombong! Apalagi kalau sudah dipuji ‘bagus yah pelayanannya’. Mulai sombong. Sombong = minder. Aduh tidak layak saya ini. Tidak ada yang layak kita ini melayani, tetapi kalau Tuhan yang angkat berarti Tuhan yang layakkan melayani. Kami diajar di Lempinel, kamu kalau disuruh melayani jangan tolak, tetapi jangan minta-minta pelayanan, jangan ambisi!
2. Korban makanan. Ini adalah kasih dan persekutuan. Semua makanan disatukan di dalam bakul, tidak bisa pisah. Satu bakul bicara persekutuan. Roti itu Firman pengajaran. Jadi kalau disimpulkan korban makanan adalah persekutuan kita harus benar yaitu atas dasar satu Firman pengajaran yang benar. Jangan ajaran campur! Persekutuan yang benar itu berdasarkan Firman pengajaran, Firman yang hidup yang bisa didengar, dilihat dan diraba.
I Yohanes 1:1-3
1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu.
1:2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.
1:3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.
Hamba Tuhan terima, hamba Tuhan sampaikan kepada jemaat supaya beroleh persekutuan yang benar. Jadi kita periksa diri, kalau ikut persekutuan A, ikut persekutuan B, yang diajar sudah beda-beda, sudah tidak sesuai yang ada di Alkitab, itu berarti tahbisannya sudah tidak benar! Tahbisan yang benar itu persekutuannya satu, pengajaran yang benar, yang sehat, jangan gado-gado. Mari imam-imam ikuti komando gembala. Kalau diarahkan ayo bersekutu, kalau tidak diarahkan, jangan! Supaya kita tetap berada dalam satu bakul, satu Tubuh Kristus.
Bagaimana bisa satu kalau pengajarannya tidak satu. Kita katakan kita satu Tubuh Kristus tetapi yang satu ajarkan A yang lain ajarkan B, tidak akan bisa! Kalau A yah A semua, kalau B yah B semua, itu satu Tubuh Kristus. Yang lain-lain boleh berbeda-beda. Organisasi boleh beda, suku boleh beda, tetapi satu tidak boleh beda yaitu pengajaran. Ada 7 kesatuan roh, dimulai dengan satu tubuh berarti satu kepala, satu Tuhan, satu pengajaran.
Ada 3 macam roti di sini:
a) Roti tidak beragi. Roti adalah Firman, tidak beragi berarti murni, jadi ini Firman Allah yang murni. Ini yang harus kita konsumsi, jangan dicampur. Makanan kita sebagai imam-imam pelayan Tuhan adalah Firman Allah yang murni, ini yang kita makan supaya kuat melayani. Supaya pelayanan kita sampai garis akhir.
Tanda Firman yang murni:
1) Tertulis dalam Alkitab. Menghadapi setan yang mencobai, Yesus katakan ada tertulis. Setan bilang, ada tertulis akan dikirim malaikat menatang Engkau. Setan ini pakai Firman untuk kepentingan daging. Yesus tidak seperti itu! Yesus pakai Firman untuk kepentingan Tubuh Kristus. Ada tertulis janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu. Tertulis dalam Alkitab sehingga mengandung kuasa kemenangan. Kita makan ini, maka kita juga menang, apapun persoalan yang kita hadapi.
Dalam Wahyu pasal 6 ada kuda putih, itu menunjuk kegerakan Roh Kudus hujan akhir. Penunggangnya adalah Firman. Disebut Dia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan. Jadi kalau kita makan Firman apapun tantangannya maju terus dan pasti menang!
Kenapa banyak hamba Tuhan pelayan Tuhan kalah oleh dosa, kalah oleh godaan dunia? Karena dia tidak makan Firman yang murni, yang dia makan Firman campur, ajaran campur, jadinya kalah terus. Menghadapi godaan saja sudah kalah, baru diancam sudah kalah. Tetapi kalau makan Firman yang murni apapun yang dihadapi maju terus, pasti menang untuk merebut kemenangan dan mendapat mahkota Mempelai.
2) Dikatakan oleh Yesus
Yohanes 15:3
15:3 Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Apa Firman yang dikatakan oleh Yesus? Firman yang dibukakan rahasianya oleh Tuhan, ayat yang satu di dalam Alkitab menerangkan ayat yang lain di dalam Alkitab. Jadi kita mendengar Firman dari awal sampai akhir ayat menerangkan ayat, itu murni. Tetapi kalau ayat diterangkan logika, diterangkan pengetahuan dunia itu omongan kosong yang tidak murni.
I Timotius 6:20-21
6:20 Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan,
6:21 karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Kasih karunia menyertai kamu!
3) Firman itu kuat, murni,dan bisa diraba. Diraba artinya dipraktekan. Jadi tanda yang ketiga adalah dipraktekan oleh hamba Tuhan, jadi pengalaman hidupnya baru disampaikan kepada jemaat. Sehingga jemaat bisa percaya yakin mau menerima Firman itu, karena sudah jadi pengalaman pendeta. Tidak mungkin saya khotbah di sini ‘jangan lihat saya, saya banyak kekurangan, banyak dosa, lihat saja Firman’. Saya mau khotbah kesucian lalu saya tidak suci. Saya khotbah kebenaran saya sendiri tidak benar. Saya khotbah tentang berkorban saya sendiri kikir, bagaimana bisa seperti itu.
Firman itu hidup, diraba, dipraktekan dulu baru sampaikan kepada jemaat. Tidak ada yang bisa dituduhkan karena apa yang dia khotbahkan sesuai dengan hidupnya.
b) Roti bundar yang tidak beragi. Roti bicara Firman, tidak beragi berarti murni, bundar = kasih Allah, tidak ada ujungnya, tidak ada pangkalnya. Kasih yang kekal. Artinya Firman yang murni itu kalau kita dengar dan kita praktekan, maka menumbuhkan kasih di dalam diri kita. Kita bisa melayani dengan kasih Tuhan. Bukan emosi, bukan ambisi, tetapi karena Firman itu sudah kita praktekan menimbulkan kasih. Kita melayani dengan kasih Tuhan.
I Petrus 1:22
1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
Kita melayani dengan kasih, bisa melayani dengan tulus ikhlas. Kita melayani karena kita mengasihi Tuhan. Kita diizinkan melayani sesama, kita layani karena kita mengasihi dia. Bahkan orang yang menyakiti kita, bisa kita berikan pelayanan karena Firman sudah kita praktekan. Tidak akan ada melayani dengan iri, kebencian, dendam, mau menjatuhkan satu dengan yang lain.
Kalau saya gembala, dari mimbar ini selalu mengumbar kebencian, bahkan mengajar jemaat untuk benci kepada orang lain, berarti saya tahbisannya tidak benar. Rugi jemaat datang ke sini, itu berarti saya sendiri tidak makan roti bundar. Di dalam bakul tahbisanku tidak ada roti bundar. Jadinya jemaat ikut membenci pendeta A, ikut tidak senang pada pendeta B. Tidak usah, jangan begitu.
Mari kita melayani dengan kasih. Kita bisa melayani karena kita mengasihi Tuhan, kita mengasihi sesama sampai mengasihi orang yang memusuhi kita. Kasih itu kekal, pelayanan kita akan membawa pada hidup kekal bersama Yesus. Tidak akan pernah berhenti, dalam pelayanan tidak ada isilah pensiun.
Yohanes 8:51
8:51 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."
Kalau kita menuruti Firman, kita tidak akan mengalami maut. Bukan berarti tidak akan mati. Kalau Tuhan izinkan meninggal dunia, akan Tuhan bangkitkan dalam tubuh kemuliaan. Jadi tidak mengalami maut selama-lamanya. Maut dan kerajaan maut dilempar ke dalam lautan api yang menyala-nyala bersama dengan orang yang tidak terdaftar namanya di dalam kitab kehidupan. Tetapi kita yang melayani menuruti Firman, ada kasih yang tulus ikhlas, kita akan mencapai hidup kekal bersama Yesus.
c) Roti tipis yang tidak beragi. Artinya Firman yang kita terima, menjadi tabiat. Bicara tipis itu menunjuk rendah hati. Hamba Tuhan dan pelayan Tuhan melayani dengan rendah hati, itu sudah menjadi tabiat.
Filipi 2:2-3
2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Kalau memiliki tabiat rendah hati, bisa bekerja sama! Kita tidak memandang status sosialnya, tidak memandang yang jasmani. Saya bersukacita melihat sidang jemaat melayani ada kebersamaan. Saya mengucap syukur kepada Tuhan, semua bisa bekerja sama. Tidak ada pilih-pilih yang punya ijazah di sini, yang tidak punya ijazah di sana, semua melayani bersama-sama, mau membaur. Itu berarti Firman sudah menjadi tabiat, harus dipertahankan. Dan kalau melayani dengan rendah hati tidak mungkin jatuh. Kecuali kalau sombong, pasti jatuh!
Saya juga bersukacita sidang jemaat bisa menerima saya sebagai gembala di sini sekalipun terpaut jauh usia. Secara ijazah juga ijazah saya terbatas, banyak yang punya ijazah lebih tinggi tetapi bisa menerima. Saya juga melayani begitu, harus dengan rendah hati. Kadang kami hamba Tuhan menghadapi orang tua tidak ada kerendahan hati. Sampai orang tua diperlakukan seperti anak-anak. Jangan seperti itu!
I Timotius 5:1-2
5:1 Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu,
5:2 perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.
Ini melayani dengan rendah hati. Kita perlakukan sesama jemaat selayaknya keluarga kita. Jadi kalau ada yang tua lalu salah, kita tegur seperti kita ingatkan orang tua kita. Yang muda kita tegur sebagai saudara. Yang perempuan tua ditegur sebagai ibu, perempuan muda ditegur sebagai adik dengan penuh kemurnian. Jaga kemurnian, jaga kekudusan.
Ini melayani dengan rendah hati. Kalau dalam penggembalaan semua kita anggap sebagai keluarga, jadi aman. Kalau ada yang kesusahan bisa kita tolong, ada dalam kebutuhan kita bisa beri bantuan. Semua tanpa komando bisa melakukan pelayanan karena Firman sudah menjadi tabiat kita.
3. Keluaran 29:4-7
29:4 Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air.
29:5 Kemudian kauambillah pakaian itu, lalu kaukenakanlah kepada Harun kemeja, gamis baju efod, dan baju efod serta tutup dada; kaukebatkanlah sabuk baju efod kepadanya;
29:6 kautaruhlah serban di kepalanya dan jamang yang kudus kaububuh pada serban itu.
29:7 Sesudah itu kauambillah minyak urapan dan kautuang ke atas kepalanya, dan kauurapilah dia.
Yang ketiga adalah minyak urapan. Ini adalah kasih dan urapan Roh Kudus. Urapan ini di kepala. Kadangkala pikiran kita waktu melayani masih berpikiran daging. Seperti Petrus, sudah hebat melayani, bahkan Yesus sendiri mengatakan ini batu karang. Di atas batu karang ini jemaatKu akan dibangun. Petrus diakui oleh Yesus, dia hamba Tuhan jempolan. Tetapi pikirannya daging ketika menghadapi salib. Waktu Yesus bilang Aku akan ditangkap dan dibunuh, 3 hari kemudian Aku akan bangkit, Petrus tarik Yesus ke samping dan menegur Yesus ‘hal itu tidak akan menimpa Engkau’. Kelihatan dia seperti membela Yesus tetapi sebenarnya tidak, pikirannya daging!
Matius 16:21-23
16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Yang dia pikirkan pikiran manusia, pikiran daging. Kadangkala kita sudah hebat dipakai Tuhan, tetapi waktu menghadapi salib, pikiran daging muncul. Kenapa begini, kenapa Tuhan tidak adil, kenapa saya seperti ini, sudah melayani sungguh-sungguh saya koq sengsara, saya menderita. Kenapa dia yang tidak beres melayani, enak-enak hidupnya. Itu semua pikiran daging, sampai sudah berprasangka buruk kepada Tuhan.
Makanya harus ada urapan Roh Kudus di kepala kita. Kalau ada pikiran daging di sini lain kita memang melayani tetapi sebenarnya menentang Tuhan.
II Korinntus 10:5
10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
Kristus itu yang diurapi. Ditawan kepada Kristus berarti ditaklukan kepada urapan Roh Kudus. Mari melayani pikiran kita dikuasai Roh Kudus, sehingga tidak ada lagi pikiran-pikiran daging. Pikiran kita tidak ke mana-mana, pikiran kita hanya satu, mencari dan memikirkan kerajaan Sorga, perkara yang rohani, hanya itu. Kita tidak pikirkan sengsaranya tetapi yang kita pikirkan di balik salib ada kemuliaan yang menanti kita. Sehingga kita tidak akan pernah berhenti melayani, tidak akan mundur dari pelayanan tetapi maju terus untuk merebut kemenangan.
Sudah ada korban pendamaian berarti sudah berdamai, sudah ada korban penyerahan diri berarti taat, ada korban tahbisan berarti melayani, kemudian bersekutu dengan pengajaran, praktek Firman, menjadi tabiat, tetapi jangan lupakan urapan Roh Kudus. Ini penting, harus ada urapan Roh Kudus di kepala. Bukan hanya diurapi tetapi sampai Roh Kudus menguasai kehidupan kita, sehingga tidak pernah muncul pikiran daging.
Petrus hebat tapi sempat muncul pikiran daging. Bahkan waktu Yesus bangkitpun Petrus masih punya pikiran daging. Waktu Petrus bercakap-cakap dengan Yesus di tepi pantai, Yohanes mengikuti dari belakang, Petrus bertanya apa yang akan terjadi dengan Yohanes. Yesus bilang kalau Aku kehendaki dia hidup itu bukan urusanmu! Pikiran dagingnya Petrus jalan, dia bilang sama teman-temanNya Yohanes tidak mati.
Yohanes 21:21-23
21:21 Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
21:22 Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."
21:23 Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu."
Siapa yang sampaikan? Mereka hanya bertiga, tentu Petrus! Karena pikirannya daging. Kalau baca dalam surat Galatia, sampai Paulus menegur Petrus karena waktu dia makan bersama dengan orang-orang tidak bersunat, lalu datang yang dari Yerusalem, Petrus menjauh. Itu pikiran daging!
Minta urapan Roh Kudus sehingga pikiran daging tidak menguasai kita, ditaklukan dan kita dikuasai oleh Roh Kudus, pelayanan kita adalah pelayanan yang terbaik untuk Tuhan. Mari tahbiskanlah diri kita untuk melayani Tuhan sungguh-sungguh. Kita beri hidup kita, saya mau melayani. Sampai hidup kita ini hanya untuk Tuhan, tidak mau lagi kita melakukan hal-hal yang menyakiti Tuhan, hanya untuk menyenangkan Tuhan. Bukan karena kita hebat sehingga Tuhan memilih kita tetapi karena kasihNya kepada kita. Tuhan memanggil, memilih dan Dia mau pakai kita sekalian.
Tuhan Yesus memberkati.