Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.
Kisah Para Rasul 1:15-17
1:15 Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata:
1:16 "Hai saudara-saudara, haruslah genap nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu.
1:17 Dahulu ia termasuk bilangan kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini."
Di sini rasul-rasul berkumpul, mereka ada 120 orang untuk menanti kepenuhan Roh Kudus. Ada 120 orang yang merupakan cikal bakal berdirinya gereja hujan awal. Sebenarnya waktu Yesus bangkit, Dia menampakan diri kepada 500 orang, tetapi yang bertekun menanti pencurahan Roh Kudus hanya 120 orang.
I Korintus 15:6
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
Jadi pengertian angka 120 adalah setia dan tekun. Sekarang kita menanti pencurahan Roh Kudus. Yang sudah mengalami pencurahan Roh Kudus dijaga, jangan Roh Kudus padam dalam kita. Karena Alkitab katakan jangan dukakan Roh Kudus, jangan padamkan Roh Kudus, jangan menghujat Roh Kudus. Cara menjaga Roh Kudus tidak padam adalah lewat setia dan tekun.
Tekun dalam hal apa? Kalau dipisahkan angka 120 kalau dipecah menjadi 12x10. 12 adalah angka persekutuan. Anak Yakub ada 12, suku Israel ada 12, murid-murid Yesus ada 12. Di Yerusalem Baru juga banyak angka 12, batu dasarnya ada 12, pintu gerbangnya ada 12 dan ada 12 malaikat, 1 pintu 1 malaikat, pintunya ada 12 malaikat. Jadi angka 12 banyak di Yerusalem Baru. 10 adalah Firman sepenuh atau pengajaran yang sehat. Rasul Paulus dalam suratan Timotius dan Titus berkali-kali Paulus tekankan tentang ajaran sehat. Berarti ada ajaran yang tidak sehat.
Jadi tekun dan setia dalam hal apa? Kita harus setia dan tekun dalam persekutuan dengan pengajaran yang sehat, pengajaran yang benar.
II Timotius 1:13
1:13 Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.
Apa itu ajaran yang sehat? Itulah Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab dan diilhamkan oleh Tuhan, diwahyukan oleh Tuhan atau dibukakan rahasianya, ayat menerangkan ayat di dalam Alkitab sehingga bermanfaat untuk mengajar, menyatakan salah dan untuk memperbaiki. Sesudah itu mendidik kita di dalam kebenaran.
II Timotius 3:16
3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Kita mau menuju ke langit dan bumi yang baru yaitu tempatnya kebenaran. Makanya perlu ajaran yang sehat untuk memimpin ke langit dan bumi yang baru, kerajaan Sorga.
II Petrus 3:13
3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
Untuk kita setia dan tekun dalam persekutuan yang di dalamnya ada Firman pengajaran yang sehat, ada halangannya. Itu yang menjadi pokok 120 orang berkumpul, mereka mau mencari pengganti Yudas, pemimpin orang yang menangkap Yesus. Jadi halangan untuk bisa setia dan tekun dalam pengajaran yang sehat adalah roh Yudas Iskariot. Ini yang harus kita perangi, harus kita lawan dengan pedang Firman. Firman itu bagaikan pedang yang menusuk sampai ke dalam hati dan pikiran. Ini yang harus kita lawan, kita perangi.
1. Yudas seorang rasul tetapi menjadi pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus. Artinya sudah Tuhan percayakan jabatan pelayanan tetapi motivasi pelayanannya salah! Yudas sudah dipercaya sebagai rasul tetapi motivasinya salah yaitu hanya untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan yang jasmani. Ini jangan ada pada kita. Ada orang-orang yang mengira ibadah sebagai sumber keuntungan jasmani. Ini roh Yudas yang harus kita gumuli, harus kita singkirkan.
I Timotius 6:3-5
6:3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat — yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus — dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,
6:4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,
6:5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
Jadi tahbisannya sudah tidak jelas lagi. Sementara melayani Tuhan itu berarti kita menahbiskan atau mengabdikan diri kita kepada Tuhan. Menyerahkan diri, mempersembahkan korban tahbisan. Ketika Harun dan anak-anaknya mau ditahbiskan menjadi Imam Besar dan imam-imam, mereka membawa lembu jantan, 2 ekor domba jantan, roti tidak beragi, roti tipis, roti bundar. Ada persembahan, bukan mencari keuntungan tetapi mempersembahkan kepada Tuhan. Sampai menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Semoga kita memperhatikan tahbisan pelayanan kita. Jangan sampai Tuhan sudah berikan jabatan pelayanan kepada kita, tetapi motivasi pelayanan salah.
2. Tidak setia dan tidak tekun dalam persekutuan yang benar dan malah masuk dalam persekutuan yang salah. Benar salahnya itu berdasarkan Alkitab, bukan berdasarkan perkataan manusia.
Markus 14:10-11
14:10 Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka.
14:11 Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Persekutuan yang benar dengan 11 murid yang lain bersama Yesus dia tinggalkan lalu masuk persekutuan dengan imam-imam kepala, persekutuan yang salah. Tanda persekutuan yang salah, kita lihat dari Firman Tuhan:
a) Tanpa Yesus. Yesus adalah Firman yang menjadi manusia, Firman itu sudah dilihat kemuliaan. Firman yang membawa kita pada kemuliaan yang kekal bersama Yesus, itulah ajaran yang sehat yang tertulis dalam Alkitab. Tanpa Yesus berarti tanpa penyucian di situ.
b) Diisi dengan roh iri dan dengki. Imam-imam kepala ini begitu dengki kepada Yesus, sampai Yesus mau mereka matikan.
Matius 27:18
27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.
Penyebabnya apa? Kembali pada motivasi pelayanan. Imam-imam kepala merasa pengikutnya semakin berkurang, semakin banyak yang datang kepada Yesus.
Yohanes 11:48
11:48 Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita."
Ini persekutuan yang salah. Yang dikejar kuantitas, bukan kualitas. Karena mulai takut berkurang maka mulai mengancam, menghasut, menakut-nakuti, memfitnah. Yang difitnah ini malah yang benar.
Markus 11:18
11:18 Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya.
Yang diserang selalu yang benar. Yang bereaksi yang tidak benar. Kalau persekutuan yang benar terjadi secara wajar. Mau datang silahkan, kalau tidak mau datang tidak apa-apa, tidak usah bingung, tidak usah marah. Kita urus yang datang. Yang tidak datang tidak usah dikomentari. Itulah persekutuan yang benar, terjadi secara wajar. Kalau persekutuan yang salah saling ancam mengancam, awas kalau tidak datang, mulai difitnah, digosipkan. Tetapi persekutuan yang benar tidak bisa dibendung. Semakin dihalangi, semakin ditakut-takuti orang semakin penasaran untuk datang mendengar kebenaran. Daya tarik kebenaran itu kuat, tidak bisa dibendung!
c) Yesus membersihkan Bait Allah dari praktek jual beli. Imam-imam kepala bukannya setuju dengan apa yang Yesus lakukan, malah mereka marah! Berarti mereka setuju ada jual beli di dalam Bait Allah. Ini persekutuan yang hanya menonjolkan perkara yang jasmani, di dalamnya ada roh jual beli, dorongannya uang. Kalau pengajaran yang benar dorongannya Firman.
Semua jelas dalam Alkitab dan diperingatkan kepada kita supaya kita hati-hati bersekutu. Kalau didalamnya ada pengajaran yang sehat maka terjadi penyucian dan terjadi kegerakan berkorban, sampai menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Tetapi kalau dorongannya yang lain bukan Firman, bukan memberi malah mencari. Persekutuan semacam ini tidak tepat kalau disebut persekutuan tetapi pengelompokan atau penggolongan atau lebih keras lagi bahasa Alkitab, itu adalah persekongkolan.
Markus 3:2-6
3:2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.
3:3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!"
3:4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja.
3:5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.
3:6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.
Jadi bukan persekutuan, itu hanya karena ada kepentingan. Padahal orang Farisi dan Herodian itu beda pandangan tetapi mereka bisa kelihatan bersekutu untuk melawan yang benar. Bahkan pada gereja hujan akhir ini juga terjadi demikian. Ketika gereja mula-mula terbentuk, dari 120 menjadi 3.000 lalu 5.000 dan berkembang terus, mulai muncul pengelompokan, penggolongan. Ada yang mengatakan golongan Paulus, golongan Kefas, golongan Apolos. Sekarang juga begitu di akhir zaman ini. Golongan pendeta A, golongan pendeta B, persekutuan A, persekutuan B dan seterusnya. Sementara kita mau dibawa pada penyatuan Tubuh Kristus, bukan penggolongan!
I Korintus 3:3-4
3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
3:4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?
Kapan terjadi penyatuan kalau semua seperti ini. Saya dari golongan pendeta A, saya golongan pendeta B, saya dari persekutuan A, saya dari persekutuan B, saya organisasi A, saya organisasi B, tidak akan pernah terjadi persekutuan! Pokok persekutuan adalah pribadi Yesus. Itu yang kita cari, pengajaran yang benar dan sehat. Di situ kita bersekutu, tidak memandang kelompok, organisasi atau lain-lain, tetapi memandang satu pribadi yaitu Yesus, pengajaran yang sehat, di situ dia bersekutu.
Dalam Tabernakel, persekutuan ditunjukan dengan papan-papan jenang yang disambung rapat membentuk ruangan suci dan ruangan maha suci. Papan ini berdiri tegak, tidak ada celah, sehingga tidak ada yang bisa masuk.
Keluaran 26:15,19,29,30
26:15 Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu penaga yang berdiri tegak,
26:19 Dan haruslah kaubuat empat puluh alas perak di bawah kedua puluh papan itu, dua alas di bawah satu papan untuk kedua pasaknya, dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan untuk kedua pasaknya.
26:29 Papan-papan itu haruslah kausalut dengan emas, gelang-gelang itu haruslah kaubuat dari emas sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu haruslah kausalut dengan emas.
26:30 Kemudian haruslah kaudirikan Kemah Suci sesuai dengan rancangan yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.
Kemah suci itu menunjuk Tubuh Kristus, papan jenang membentuk kemah suci berarti membentuk Tubuh Kristus. Ini persekutuan yang benar, seperti papan-papan jenang yang disambung rapat satu dengan yang lain sehingga membentuk kemah suci, Tubuh Kristus yang sempurna.
Kerinduan hati Yesus dan pokok doaNya adalah supaya murid-murid menyatu, supaya gereja menyatu. Dalam Yohanes pasal 17 sampai 5 kali kata satu dituliskan dan 4 kali menjadi satu. Waktu membangkitkan Lazarus, Yesus 1 kali saja berdoa dan Lazarus bangkit. Tetapi untuk menyatukan Tubuh Kristus 4 kali Yesus berdoa supaya menjadi satu. Jadi penyatuan Tubuh Kristus lebih sulit dari membangkitkan orang mati. Tetapi tidak ada yang mustahil sebab ini rencana Allah, pasti tergenapi, Tubuh Kristus menyatu. Ini doa kita supaya terjadi kegerakan penyatuan Tubuh Kristus untuk nanti menyambut Yesus sebagai kepala. Kedatangan Yesus sudah semakin dekat, tanda-tandanya sudah sangat jelas. Kita lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, perang sampai sekarang, skalanya semakin besar. Itu semua penggenapan Firman.
Kalau kuda merah dilepas dia merebut damai, terjadi peperangan. Kuda hitam dilepas, kelaparan. Kuda hijau kuning dilepas, maut, kematian lewat penyakit sampar, perang dan lain-lain. Ini akan terjadi dan sedang terjadi. puncak kegoncangan dan kekacauan dunia, antikristus berkuasa. Tetapi gereja sudah disingkirkan di padang gurun jauh dari antikristus, tidak bisa dijangkau oleh antikristus.
Sebelum semua itu terjadi ayo kita masuk di dalam kegerakan penyatuan Tubuh Kristus. Bukan penggolongan, pengelompokan atau persekongkolan. Penyatuan Tubuh Kristus dimulai dari nikah, sebab persekutuan yang terkecil adalah nikah, kemudian membesar dalam penggembalaan, persekutuan antara penggembalaan dan nanti Israel yang asli dengan kita bangsa kafir yang sudah ditebus. Ini akan menyatu, tembok pemisah dirubuhkan. Yang jauh menjadi dekat untuk menyatukan dengan Israel, dengan Yesus sebagai Kepala.
Untuk menyatu ada syaratnya.
a) Keluaran 26:15
26:15 Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu penaga yang berdiri tegak,
Syaratnya papan harus berdiri tegak di atas dasar 2 alas perak. Tabernakel ini didirikan di padang gurun, kalau tidak ada alas peraknya bisa miring. Tidak boleh miring, kalau miring tidak akan rapi. Dan kalau miring ada celah untuk apa saja masuk di situ. Jadi papan jenang itu harus berdiri tegak, tidak boleh miring.
Kalau masuk dalam penggolongan tidak mungkin bisa berdiri tegak. Condong ke pendeta A, condong ke pendeta B, condong ke persekutuan C, itu papan yang miring, ada celah yang bisa dimasuki oleh iblis untuk menghancurkan gereja Tuhan. Makanya saya mengajar sidang jemaat di sini, kita bersekutu bukan condong kepada pendeta A, pendeta B, sebab nanti mengkultuskan. Tetapi kita melihat pengajaran yang sehat sehingga papan itu berdiri tegak, tidak miring. Kalau miring nanti baku tarik, suatu saat ambruk.
Kita harus berdiri tegak, berdirinya di atas dasar alas perak. Perak itu bicara penebusan. Kita ditebus oleh Yesus, Dia dijual dengan harga 30 keping perak. Perak = penebusan = korban Kristus. Jadi supaya kita berdiri tegak, papan itu tidak miring sana sini, maka harus berdiri di atas dasar Korban Kristus.
Yesus mau dibunuh oleh imam-imam kepala karena mereka iri dan dengki. Jadi praktek berdiri tegak di atas Korban Kristus adalah hancurkan dosa-dosa supaya kita berdiri tegak. Dalam nikah bisa satu kalau dosa-dosa dihancurkan, bukan disembunyi. Banyak kali suami isteri, orang lihat baik, tetapi ada dosa yang disembunyi. Akhirnya begitu ketahuan, papan-papan ambruk, nikah itu hancur. Mungkin masih 1 tempat tidur tetapi hati sudah tercerai karena ada dosa yang disembunyikan. Dalam penggembalaan juga begitu, kalau ada dosa yang disembunyikan akan membuat terpisah. Yang memisahkan kita dengan Tuhan, dengan sesama adalah dosa-dosa itu.
Yesaya 59:1-2
59:1 Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
59:2 tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
Selesaikan dosa, apalagi puncaknya dosa, dosa makan minun dan dosa kawin mengawinkan. Itu berarti berdiri tegak di atas batu karang yang teguh, di atas korban Kristus. Hancurkan dosa supaya jangan papannya yang hancur, jangan nikahnya hancur, jangan penggembalaan hancur, dosanya yang harus dihancurkan. Dosanya dibuang, jangan pelayanannya. Pelayanan yang harus kita pertahankan.
Yudas pertahankan dosa, dia yang terbuang. Dia papan yang hancur, papan yang patah. Kesempatan terakhir, Firman yang keras menegur Yudas. Sampai Tuhan katakan adalah lebih baik sekiranya dia tidak pernah dilahirkan. Tetapi bukannya dia sadar, malah mempertahankan dosanya ‘bukan aku yang Rabi’. Dia mengelak dari Firman, akhirnya dia yang terbuang dari persekutuan dan mati binasa!
Matius 26:25
26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."
Iri hati dan perselisihan kadang kita anggap biasa. Kalau dosa yang kelihatan besar, mabuk, narkoba, dosa kawin mengawinkan, itu diselesaikan. Tetapi kalau iri hati dianggap biasa. Jarang orang berkata saya minta maaf karena saya sudah iri sama kamu. Kalau iri hati, pendirian sudah mulai goyang, tidak usah didorong, suatu waktu akan rubuh dengan sendirinya. Kalau saya hamba Tuhan iri hati kepada hamba Tuhan lain, tidak usah dibilang nanti pelayanan saya hancur, kalau ada iri pasti hancur sendiri! Kalau ada yang lebih dipakai, puji Tuhan. Dia dipakai untuk pembangunan Tubuh Kristus. Mungkin pemakaian saya tidak seperti dia, tetapi saya juga dipakai untuk pembangunan Tubuh Kristus. Tujuannya sama untuk pembangunan Tubuh Kristus, kenapa mau iri. 2 kaki melangkah, kalau kaki kanan maju, kaki kiri jangan menjegal. Kalau kaki kanan maju, kaki kiri pasti ditarik untuk maju juga. Kalau mau saling jegal, atau hanya satu kaki yang mau maju terus, susah!
Ayo berdiri di atas korban Kristus sampai dosanya dihancurkan. Sampai dosa-dosa yang kecil yang dianggap tidak apa-apa, itulah iri hati, harus dihancurkan. Itu bagaikan rubah-rubah kecil yang merusakan kebun anggur yang sedang berbunga. Padahal kebun anggur sedang berbunga, sebentar lagi berbuah, tetapi karena rubah kecil gugurlah bunganya, tidak jadi buahnya, rusaklah kebun anggurnya. Ini jangan terjadi di dalam diri kita.
Kidung Agung 2:15
2:15 Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!
Coba yang punya kebun durian, pergi di lihat sudah mulai ada bunga, 3 bulan lagi sudah panen, sudah mulai hitung-hitung bisa dapat berapa. Tetapi begitu besoknya dilihat bunganya gugur, waduh sekian juta melayang. Begitu juga dengan Tubuh Kristus, sebenarnya sudah mau terbentuk untuk menyatu dengan Yesus, tetapi karena iri, gugur bunganya. Sementara yang Tuhan cari itu buah. Tuhan datang kepada penjaga kebun mencari buah yang menjadi bagian pemilik kebun, tetapi begitu dicari tidak ada. Tuhan bilang percuma sudah mendirikan menara jaga, sudah menggali lubang pemerasan, menanam pagar sekeliling tetapi tidak ada yang dihasilkan. Percuma beribadah melayani Tuhan, bertahun-tahun datang gereja. Bahkan melayani ke mana-mana, tetapi ada perkara yang dianggap tidak apa-apa, itulah iri. Akhirnya gugur, ambruk papannya.
b) Papan itu harus disalut dengan emas. Emas bicara kesucian Ilahi. Jadi hidup kita harus disalut dengan kesucian Ilahi. Jangan ada kedagingan! Keinginan daging, hawa nafsu daging, ambisi daging, emosi daging, perbuatan daging, tabiat daging ini harus disingkirkan. Prosesnya emang sakit bagi daging, tetapi harus! Sebab kalau papan dengan papan bersentuhan, daging dengan daging bersentuhan, akan hancur. Tetapi kalau emas dibungkus dengan emas, bisa menjadi satu. Begitu juga hubungan papan dengan papan, kita dengan sesama. Kalau masih kedagingan akan baku gesek terus.
c) Nanti kita menggelar ibadah persekutuan, kita kerja sama semua. Kalau masih kedagingan, dari rapat saja sudah bisa baku gesek. Saya usul begini, lalu usulannya tidak diterima, bisa-bisa dia tidak mau kerja. Tetapi kalau sudah disalut dengan emas, mungkin usulannya tidak diterima, dia ambil pikiran positif saja, usulan yang lain lebih bagus dari usulan saya. Maka nanti semua bekerja dengan baik.
Yang nanti menerima tamu yang datang, masing-masing beda karakternya, ada yang mau begini, ada yang mau begitu. Kalau kita masih kedagingan, di luar bisa ramah tetapi dalam hati mendongkol, kasih tidur di got saja! Itu kalau masih kedagingan. Makanya harus dibungkus dengan kesucian Ilahi, harus memiliki sifat tabiat Ilahi.
Galatia 5:22-23
5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
9 buah roh:
Kasih, sukacita, damai sejahtera tabiat Allah Bapa.
Kesabaran, kemurahan dan kebaikan, tabiat Anak Allah.
Kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri, tabiat Allah Roh Kudus.
Kayu penaga itu hitam, pori-porinya mengeluarkan getah, makanya harus disalut dengan emas. Tabiat dosa itu tersembunyi di dalam hati, nanti keluar kalau digesek dengan sesama! Itu bapak saya kira sabar, ternyata dia punya emosi bikin takut.
Saat kita dalam kegerakan rohani, tabiat daging harus betul-betul dimatikan, tidak boleh ada lagi, harus dimatikan sepenuhnya, jangan ada sedikitpun kelihatan kayunya. Lalai dalam pelayanan itu berarti sudah ada getah keluar. Tersinggung, itu sudah keluar getah, tersandung, itu sudah keluar getahnya. Harus disalut semuanya. Di mana tempat penyalutan? Dalam penggembalaan. Tekuni penggembalaan di sana kita dengar Firman. Dalam ibadah raya kita dengar Firman, ibadah pendalaman Alkitab dengar Firman, ibadah doa dengar Firman. Disalut terus dengan Firman, Roh Kudus dan Kasih Allah. Dalam ibadah raya kita disalut dengan Roh Kudus. Dalam ibadah pendalaman Alkitab kita disalut dengan Firman. Dalam ibadah doa, kita disalut dengan kasih Allah sampai kayunya tidak kelihatan lagi, maka kita bisa saling menyatu.
Tanda-tanda saling menyatu:
1) Saling mengampuni. Dosa membuat kita terpisah dari sesama, ayo saling mengampuni. Petrus pernah bertanya kepada Yesus, berapa kali harus mengampuni.
Matius 18:21-22
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
70x7x kalinya di belakang sudah tidak terhingga, seperti Yesus mengampuni dosa kita.
Matius 18:23-27
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
10.000 talenta = 60 juta dinar. 1 dinar upah bekerja 1 hari.
Jadi harus bekerja 166.667 tahun baru bisa lunas hutangnya.
Tidak ada orang bisa hidup sampai usia begitu. Jadi betul-betul kita tidak bisa menyelesaikan hutang dosa kita karena terlalu banyak. Hanya darah Yesus yang sanggup menghapus hutang dosa kita. Dipaku di kayu salib, semua dihapus oleh darah Yesus. Kalau kita manusia yang begitu banyak dosa mau Tuhan Yesus ampuni, masa kita dalam rumah tangga tidak bisa melepaskan pengampunan. Mungkin bisa mengampuni tetapi dia ungkit terus.
Matius 18:28-30
18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Kadang dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan, tetapi untuk mengampuni dosa orang lain berat sekali ‘pokoknya sampai kapanpun saya tidak akan ampuni!’. Jangan seperti itu, tidak akan bisa menyatu. Harus saling mengampuni, kadang kita yang salah, kadang juga kita dalam posisi yang benar dan orang lain yang salah, mari belajar saling mengampuni, mulai dari rumah tangga. Setiap penataran nikah saya bertanya berapa tabunganmu, dijawab sama pasangan yang mau menikah cuma sekian di bank. Saya bilang bukan itu tetapi tabungan pengampunan. Mau masuk nikah harus bisa mengampuni. Perbanyak tabungan pengampunan. Masuk nikah itu tidak gampang, apalagi kalau suami isteri sudah berbeda suku, beda kebudayaan. Harus belajar untuk bisa saling mengampuni.
Menikah itu baru persekutuan 2 orang. Kalau belum bisa mengampuni bagaimana bisa masuk dalam persekutuan yang lebih besar. Apalagi saya gembala, saya tidak bisa mengampuni isteri saya, saya mau mengajar jemaat bagaimana! Jemaat jangan lihat saya, lihat saja Firman. Itu berarti saya menipu! Saya lebih dulu mempraktekan saling mengampuni.
2 orang saja belum bisa saling mengampuni, bagaimana saya bisa ajar jemaat, persekutuan yang lebih dari 2 untuk bisa saling mengampuni. Mari bapak ibu kekasih dalam Tuhan, belajar melepaskan pengampunan. Kalau tidak bisa saling mengampuni, biar mau dibawa kemanapun nikah itu tidak bisa terbenahi.
Tetapi saat kita bisa saling mengampuni, nikah itu terbenahi, ada Yesus Imam Besar sebagai pendamai di situ.
Sesudah diampuni jangan diulang lagi. Dosa itu akan diperhitungkan kembali kalau kita ulangi, bahkan akan lebih bertambah-tambah.
2) Saling menerima. Seperti papan-papan jenang, ada pasaknya, ada lubangnya. Jadi ada kelebihan, ada kekurangannya. Dikasih baku masuk dengan papan yang satu. Jadi bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Inilah Tubuh Kristus. Bukan kekurangan orang kita umbar cerita ke mana-mana.
Roma 14:1-4
14:1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.
14:2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.
14:3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.
14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.
Tuhan mengajar kita untuk saling menerima, bukan saling menghakimi. Tetapi yang banyak terjadi saling menghakimi. Yang Tuhan ajarkan untuk saling menerima. Kamu harus menerima orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. Kalau sesama kita pemahamannya masih lemah tentang Firman, tidak usah kita mau ribut. Tunjukan kepadanya kebenaran Firman lewat praktek hidup kita. Tunjukan kita hidup dalam kebenaran, hidup dalam kekudusan. Bukan malah kita kumpul-kumpul cerita orang.
Begitu juga kalau dia masih pertahankan pendirian yang salah. Tidak usah kita bertengkar, tunjukan saja kesaksian hidup kita, mana yang benar. Firman ini seharusnya dipraktekan seperti ini.
Kalau dia dalam keadaan berdosa, pandang dia dengan belas kasihan, bukan sebagai hakim yang mau menghakimi dan menghukum. Tegur, nasihati. Kalau dia masih tidak mau terima, doakan. Tidak mau terima lagi, puasa. Daud berpuasa untuk musuhnya. Saya belajar juga untuk melakukan hal seperti itu. Saya tegur, nasihati dan doakan sampai ambil waktu puasa.
Bukan kita tampil sebagai hakim yang menghakimi dan menghukum. Apalagi kalau sampai menghakimi hamba Tuhan atau gembala. Sekalipun salah di mata kita, itu urusannya dia dengan majikannya di Sorga. Apalagi jemaat mau menghakimi gembala, mau menghakimi hamba Tuhan, tidak usah! Entah dia mau berdiri, mau jatuh itu urusannya dengan Tuhan yang mengutus dia, bukan urusan kita.
Tidak usah kumpul-kumpul cerita pendeta A, pendeta B, tidak usah! Karena dikatakan di situ dia akan tetap berdiri karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Kalau dia tetap dalam pengajaran yang benar, yang menghakimi itu yang akan hancur! Kita tidak tahu kalau dia sudah minta ampun kepada Tuhan, sudah berubah, jangan sampai kita menghakimi. Kalau menghakimi nanti kita yang akan dirobohkan oleh Tuhan, dihukum oleh Tuhan. Dia yang kita hakimi malah dia yang tegak berdiri. Mau dia gembala, hamba Tuhan, dia jemaat, terserah dia, bukan urusannya kita. Kapan kita mau menyatu kalau selalu menghakimi, cerita kekurangan orang.
3) Saling menghargai. Semua kita ini mahal di hadapan Tuhan karena kita sudah dibeli dengan darah Yesus, darah yang mahal. Saling menghargai satu dengan yang lain maka perpisahan, perceraian dan perselisihan tidak mungkin terjadi.
Filipi 2:3
2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Kita menganggap orang lain lebih utama dari pada kita sehingga tidak ada kesempatan untuk kita mau sombong, mau bangga dan merasa lebih dari yang lain, kita bisa menghargai satu dengan yang lain.
4) Saling memperhatikan.
Filipi 2:4
2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Mulai dari dalam rumah tangga, saling memperhatikan. Untuk kami hamba Tuhan, seringkali anak hamba Tuhan terlantar. Memang harus fokus dalam pelayanan tetapi anak sudah tidak diperhatikan sehingga akhirnya terlantar.
5) Saling menolong
Galatia 6:2
6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Bagaimana mau saling menolong kalau kita belum saling mengampuni. Makanya lebih dulu saling mengampuni, saling menerima, saling menghargai, saling menolong. Ketika ada masalah pergumulan dihadapi, kita saling sharing, saling membantu menanggung beban. Dengan mendengar curhatnya kita sudah menanggung sedikit bebannya. Apalagi kalau kita bisa mengulurkan tangan membantu yang bisa kita lakukan. Inilah Tubuh Kristus, saling membantu, saling menolong.
6) Saling menghormati, terutama dalam rumah tangga kita saling menghormati.
Efesus 5:33
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
I Petrus 3:7
3:7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
Suami hormati isteri sebagai kawan pewaris dari janji Allah. Isteri hormat kepada suami. Kadangkala karena isteri merasa dia berasal dari keluarga di atas sehingga suami kurang dihormati, atau sebaliknya. Kadang juga karena ijazah, lebih tinggi ijazah saya dari kau, sehingga sudah tidak ada lagi rasa hormat. Mari bisa saling menghormati satu dengan yang lain.
Kemudian anak hormati orang tuanya.
Efesus 6:1-3
6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:
6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Kadang ketika ijazah sudah lebih tinggi dari orang tua, sudah tidak hormat pada orang tua. Apalagi kalau orang tuanya tidak ada sekolah, orang tuanya dibentak-bentak, dilawan. Jangan yah kaum muda!
Kemudian sesama saudara di dalam Tuhan, saling menghormati di dalam sidang jemaat.
I Timotius 5:1-3
5:1 Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu,
5:2 perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.
5:3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda.
Kami hamba Tuhan muda menghadapi orang-orang tua jangan keras seperti kepada anak-anak, harus pakai hikmat. Hormat kepada orang-orang yang tua.
I Petrus 5:5
5:5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Yang dimaksud di sini adalah orang tua rohaninya itulah gembala. Bahkan rasul Paulus mencatat, hormatilah penatua-penatua yang baik pimpinannya yang bertugas berkhotbah dan mengajar, itu dihormati 2 kali lipat, tetapi bukan disembah.
Dalam penggembalaan kalau bisa saling menghormati, aman, kita tidak merendahkan satu dengan yang lain. Kalau bisa saling menghormati satu dengan yang lain maka hubungan dalam penggembalaan semakin erat, semakin baik, semakin manis, dalam nikah juga semakin manis, semakin baik.
7) Saling melayani
Yakobus 1:26-27
1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
Mari kita saling melayani mulai dari menjaga lidah, mengekang lidah. Kita mau melayani bagaimana kalau mulut perkataan tidak baik, perkataan sia-sia, perkataan kotor, perkataan tidak membangun, perkataan yang hanya melemahkan. Nanti kita menggelar ibadah persekutuan, mari belajar saling melayani. Mulai dari menjaga lidah.
Dalam membangun sesuatu tentu yang banyak kerja adalah tangan, mulut banyak diam. Apalagi kalau pekerjaan yang membutuhkan perhatian khusus lalu cerita terus, jadinya tidak bagus, tidak karu-karuan. Kita mau melayani, kalau mulut yang jalan terus, perkataan sia-sia, gosip, fitnah, tidak akan jadi!
Efesus 4:29
4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Kita bekerja dengan perkataan-perkataan yang membangun, baik dalam nikah, dalam penggembalaan. Mungkin suami sudah loyo, malas ibadah, isteri perkataannya yang membangun, menguatkan, atau sebaliknya. Bukan malah tambah dilemahkan ‘tidak ada guna kamu ibadah-ibadah’ jangan seperti itu!
Saling mengampuni, saling menerima, saling menghargai, saling memperhatikan. Saling menolong, saling menghormati, saling melayani, maka Tubuh Kristus pasti terbentuk. Kita menjadi satu, dalam nikah satu, dalam penggembalaan satu, antara penggembalaan satu, sampai Israel dan kafir bisa menjadi satu Tubuh Kristus yang sempurna.
Angka 7 ini angka sabat atau perhentian. Jadi kalau kita disalut dengan kesucian Ilahi sehingga kita bisa saling mengampuni sampai saling melayani maka kita akan mengalami perhentian dan damai sejahtera. Sekalipun dunia goncang kita tenang, damai, ada perhentian di dalam Tuhan.
Sekarang ini harga-harga semakin naik dan terjadi antrian-antrian. Biar uang banyak kalau tidak ada BBM mau bikin apa. Tetapi kalau kita bisa saling menyatu, biarpun semuanya goncang kita tidak akan goyah. Tidak akan galau, tetap damai sehatera, ada perhentian di dalam Tuhan. Ada sukacita terus di hati kita. Di dalam penggembalaan ada sukacita, antara penggembalaan kita bersekutu ada sukacita. Kita datang dengan beban yang berat beribadah, pulang dengan kelegaan, damai sejahtera. Kalau 7 saling ini tidak ada, tidak ada tabiat Ilahi dalam kita, datang beribadah dengan beban, pulang lebih banyak beban lagi. Karena lihat si anu kekurangannya begini, sini ini begini begitu, pulangnya dia malah tambah beban. Beban dosa kita sendiri ada, tambah dosa orang lain lagi kita pikul. Tidak akan pernah tenang, tidak akan pernah damai.
Di depan kita ada perjamuan suci. Untuk membawa kita menjadi satu Tubuh Kristus, sudah Yesus bayar mahal dengan darahNya, dengan nyawaNya di kayu salib.
Efesus 2:13-16
2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Biar kita hargai Korban Kristus darah Yesus, tidak ada lagi saling menghakimi, saling mempertahankan dosa, saling mempersalahkan. Tetapi kita bisa saling mengampuni sampai saling melayani satu dengan yang lain. Ada perhentian damai sejahtera di dalam Tuhan dan arah kita jelas untuk mencapai kesatuan Tubuh Kristus dengan Yesus sebagai Kepala, Raja segala raja, Mempelai Pria Sorga dan kita Mempelai WanitaNya, kita masuk pesta nikah Anak Allah.
Wahyu 19:6-9
19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.
19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]
19:9 Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."
Tuhan Yesus memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar