20261003

Kebaktian Doa Penyembahan, Sabtu 3 Oktober 2026 Pdt. Handri Otniel Legontu

 




























Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Yohanes 17:1-3

17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.

17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

 

Ini isi doa Tuhan Yesus yang pertama yaitu mengenal Allah Bapa dan AnakNya. Di sini Yesus berkata ‘telah tiba saatnya’ ini menunjuk kematian Yesus di kayu salib. Jadi Yesus berbicara tentang salib yang akan segera Dia terima dan kemuliaan dibalik salib yang akan Dia terima. Jadi kita mengenal Allah Bapa dan Yesus AnakNya lewat kasih. Allah Bapa adalah kasih dan Yesus yang disalibkan adalah wujud kasih Allah kepada kita manusia.

I Yohanes 4:8-10

4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.

4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

 

Dari ayat ini kita bisa meraba diri kita, saya sudah mengenal Allah dan mengenal pribadi Yesus AnakNya atau belum.  Bukti kita mengenal Allah dan mengenal Yesus Anaknya adalah memiliki kasih dari kayu salib dengan praktek:

1.      Berdamai dengan Tuhan dan sesama sehingga dosa dipaku di kayu salib, disalib oleh darah Yesus. Hari-hari terakhir ini mari kita kejar kekudusan, berdamai dengan Tuhan dan dengan sesama, bukan malah menambah dosa, bukan semakin memusuhi Tuhan.

Matius 5:23-25

5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,

5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

 

Ayat 24 itu berdamai dengan sesama. Lawanmu yang dimaksud adalah Tuhan. Kalau kita berbuat dosa maka Tuhan menjadi lawan kita. Jadi ayat 25 itu berdamai dengan Tuhan.

 

Bagaimana proses berdamai dengan Tuhan dan sesama?

a)      Engkau ingat sesuatu. Artinya sadar dan menyesali dosa. Teringat ini salahku kepada Tuhan dan sesama, sadar, menyesali dosa dan mengaku dosa kepada Tuhan kepada sesama oleh dorongan Firman. Kita bisa ingat dosa karena Firman yang menunjukan. Lalu ingat oh kemarin saya berbuat seperti itu. Kalau sudah diampuni, jangan diperbuat lagi. Dosanya sudah dihapus oleh darah Yesus, jangan diulang lagi. Yang kita ingat dosa yang belum diselesaikan, yang sudah diselesaikan jangan diingat-ingat lagi.

 

b)      Mengampuni dosa sesama dan melupakan oleh dorongan Firman. Orang itu dengar Firman, dia sadar dan minta ampun kepada kita. Kita juga dengar Firman maka kita mengampuni dan melupakan dosa sesama.

 

Kalau berdamai ada hasilnya:

a)      Amsal 28:13

28:13 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.

 

Kasih Allah dicurahkan kepada kita sehingga membuat kita beruntung. Beruntung itu berarti kita berhasil pada waktunya. Yang membuat kita gagal adalah dosa yang belum diselesaikan, yang masih dipertahankan. Baik dosa kita sendiri yang masih dipertahankan, juga dosa orang lain yang sudah diakui kepada kita, kita belum mau lupakan, masih diungkit-ungkit. Itu yang membuat gagal, berbeban berat terus. Tetapi kalau kita bisa berdamai, kita beruntung, berhasil tepat pada waktunya. Beruntung ini juga artinya berharga di mata Tuhan dan berguna bagi pembangunan Tubuh Kristus. Hanya orang yang mau berdamai yang dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus.

 

Kadang kita bilang kita sayang orang itu, mau kita tolong. Tetapi kita cerita ke mana-mana dosanya! Itu bukan menolong tetapi melolong! Akhirnya tersebar ke mana-mana orang itu begini begitu. Kalau memang kita mau menolong orang lain karena dia salah, tegur secara pribadi, ingatkan. Kalau memang dia tidak mau terima doakan saja, tidak usah cerita ke mana-mana! Kita mau dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, pelayanan pendamaian. Bukan pelayanan menyebar aib!

II Korintus 5:18-19

5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

 

Hasil berdamai kasih Allah dicurahkan membuat kita beruntung. Beruntung ini berhasil, berharga dan berguna dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus serta bahagia.

 

b)      Menjadi rumah doa.

Yakobus 5:16

5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

 

Kalau kita berdamai kita menjadi rumah doa. Doa kita didengar, doa kita dijawab sehingga kita sehat, sembuh. Sehat jasmani, terutama sehat rohaninya. Kenapa penyakit tak kunjung sembuh? Saya belum berdamai, belum diselesaikan. Kalau sudah diselesaikan, sekalipun jasmaninya tidak sembuh sampai meninggal tetapi rohaninya sudah sehat. Waktu Yesus datang tidak ada cacat cela lagi, sempurna sebagai Mempelai Wanita Tuhan.

 

2.      I Yohanes 5:3

5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

 

Menuruti perintah Tuhan, taat pada Firman Tuhan sampai daging tidak bersuara lagi. Mungkin kita sudah taat, tetapi kadang masih ada letupan-letupan suara daging. Harus sampai daging tidak bersuara lagi seperti Yesus taat pada Allah Bapa sampai mati di kayu salib.

 

Sikap mendengar Firman menentukan kita bisa taat atau tidak. Kalau tidak sungguh-sungguh bagaimana bisa taat? Kita dengar Firman tidak sampai 2 jam, handphonenya disingkir saja! Tidak usah dilihat-lihat itu handphone. Kalau merasa saya ini butuh Yesus, butuh Bapa di Sorga, saya mau dengar FirmanNya untuk saya taati. Kalau tidak butuh yah terserah! Saya juga tidak mau marah-marah. Tuhan percayakan Firman untuk saya sampaikan, jemaat mau terima atau tidak terserah! Kalau mau taat maka bisa menerima kasih itu, kasih semakin melimpah di dalam kita. Kasih ini yang membawa kita pada hidup yang kekal. Kalau hidup kekal bisa, hidup jasmani juga bisa.

 

Jadi tergantung sikap kita, kadangkala pengajaran yang disalahkan. Periksa dulu sikapnya waktu dengar Firman, bagaimana sikapnya. Kalau taati Firman, dengar sungguh-sungguh, pasti Tuhan tolong. Kasih membawa kita pada hidup yang kekal, maka yang jasmani juga Tuhan sanggup berikan kepada kita.

 

Sikap kita mendengar Firman dengan suatu kebutuhan, betul-betul kita butuh Firman!

II Timiotius 2:7

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

 

Mendengar Firman itu dalam urapan Roh kudus sehingga bisa perhatian penuh, fokus! Mungkin untuk sekarang rasanya dengar Firman terlalu lama, tetapi kalau kita dengar Firman sungguh-sungguh nanti kita rasakan manfaatnya ke depan. Hidup kekal saja sudah Tuhan jamin, apalagi cuma hidup sehari-hari.

Yohanes 10:27-28

10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,

10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

 

Tidak ada yang bisa merebut berarti kemenangan Tuhan berikan, keberhasilan juga Tuhan berikan. Semua kita terima di dalam Firman.

 

Mari fokuslah dengar firman, perhatian penuh. Saya khotbah minta urapan, yang mendengar juga minta urapan. Dengan perhatian dan juga dengan teliti supaya jangan dibawa arus kesesatan.

Ibrani 2:1

2:1 Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.

 

Arus kesesatan, arus dosa. Sekarang ini arus dosa semakin deras. Kalau ditanya kenapa berbuat itu? Karena lihat di handphone. Kalau teknologi dimanfaatkan dengan baik, membuat rohani bertumbuh. Tetapi kalau salah dimanfaatkan di situlah iblis tancapkan kukunya di mata, di telinga, di hati sehingga buyarlah konsentrasi dengan Firman. Yang teringat di pikiran, yang ada di hati bagaimana berbuat ini, berbuat itu dari yang dilihat di handphone. Akhirnya dibawa arus dosa, dibawa arus kesesatan.

 

Kalau kita taat ada hasilnya yaitu terjadi penyucian dan timbul kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Bisa mengasihi sesama sehingga terbentuklah Tubuh Kristus. Mulai dari nikah kita diisi dengan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, kasih dari hati yang suci.

I Petrus 1:21

1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

 

Dalam rumah tangga tidak ada pertikaian dan pertengkaran karena ada kasih yang tulus ikhlas. Dalam rumah tangga dulu baru nanti membesar dalam penggembalaan. Gembala taat, jemaat taat, ada kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Tidak ada lagi saling berperasangka buruk, berpikiran negatif, saling mempersalahkan, yang ada kasih yang tulus ikhlas. Kalau sesama salah kita ingatkan dan kita tegur. Yang diingatkan dan ditegur bisa menerima, betapa bahagia nikah kalau seperti itu. Betapa bahagia kalau penggembalaan seperti itu. Kemudian lebih membesar lagi persekutuan antara penggembalaan. Tidak akan ada cerita sana sini kekurangan yang lain. Saling menegur, saling menasihati, seperti papan-papan jenang saling menyatu. Ada pasaknya, ada lubangnya. Kitalah papan-papan jenang itu, ada kelebihan, ada kekurangannya, tetapi saling melengkapi, bukan saling menjegal, saling menjatuhkan. Yang merasa lebih tidak menghina yang kurang, yang kurang juga tidak minder. Saling melengkapi karena ada kasih persaudaraan yang tulus ikhlas.

 

Papan jenang itu ada kayu lintangnya, itu menunjuk salib. Kasih dari kayu salib itu dasar persekutuan kita. Mulai dari persekutuan nikah, lalu persekutuan penggembalaan dan persekutuan antara penggembalaan.

 

Kalau sudah suci diberikan jabatan, menjadi batu hidup.

Efesus 4:11-12

4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

 

Pembangunan Tubuh Kristus adalah pembangunan rumah rohani.

I Petrus 2:5

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

 

Jadi hasil ketaatan adalah penyucian, timbul kasih yang tulus ikhlas dan kita diberikan jabatan pelayanan karunia Roh Kudus, dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Kita menjadi batu hidup, artinya kita hidup dari kemurahan Tuhan. Sehingga di mana saja, kapan saja, dalam situasi kondisi apa saja bisa hidup.

 

Sebaliknya kalau tidak taat, tidak suci lalu mau melayani, jadinya saling melempar batu! Cuma saling menyakiti. Suami isteri mau melayani tetapi tidak taat, tidak suci, cuma saling menyakiti. Isteri sudah bikin akan dabu-dabu, mungkin kebanyakan garam atau kebanyakan vitsinnya jadi lempar batu, lempar piring! Dalam penggembalaan tidak taat, tidak suci, mau melayani, akhirnya saling melempar batu, saling menyakiti. Batu bukan dibangun menjadi Bait Allah, malah dilempar-lempar.

 

Ini kesalahan kita, mau tampil melayani tetapi tidak taat, tidak suci. Jadi pelayan seperti melempari orang dengan batu. Orang jadi tersinggung, jadi tersandung. Dia itu menyanyi, kelakuannya begitu, kenapa pak gembala izinkan dia melayani! Itu gembala koq masih khotbah, dia itu masih begini kelakuannya. Nanti masuk cerita negatif kepada gembala, gembala bukan lagi lempar batu tetapi lempar bom dari mimbar. Apalagi kalau sudah ancam-ancam jemaat, saya tidak mau doakan kamu, nanti jadi begini begitu, terkutuk hidupmu. Kasihan, pelayanan jadi hancur!

 

3.      Tersungkur di kaki Tuhan menyembah Tuhan dengan hancur hati, bergumul bersama dengan Tuhan.

Yohanes 11:31-35

11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.

11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:

11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"

11:35 Maka menangislah Yesus.

 

Yesus mengasihi Maria, Marta dan Lazarus. Mereka juga mengasihi Tuhan Yesus. Di sini praktek menerima kasih dari kayu salib adalah tersungkur di kaki Tuhan. Maria menghadapi Lazarus yang sudah mati 4 hari, ini menunjuk kebusukan-kebusukan.

 

Jangan heran kita sudah mau berdamai, mau taat pada Firman, melayani dalam kekudusan, melayani dengan kasih, malah diperhadapkan dengan kebusukan-kebusukan. Antara lain kebusukan yang sekarang lagi mewabah seperti virus adalah kebusukan moral. Moral itu sesuatu yang langkah. Kalau dulu murid-murid takut kepada guru dan ada pendidikan moral pancasila. Sekarang guru yang dipukul murid. Kalau guru keras sedikit, dilaporkan, diviralkan, guru dipenjara, murid tambah brutal.

 

Kita sudah tergembala, sudah mengasihi Tuhan, sudah taat, melayani Tuhan dalam kasih dan dalam kesucian lalu diperhadapkan sesama dalam rumah tangga kita, mungkin suami, mungkin isterinya, mungkin anaknya atau orang tuanya atau saudaranya yang dalam keadaan busuk moralnya. Lalu mau apa? Kita mau hajar, mau pakai kekuatan fisik? Tidak bisa. Anak sudah dewasa, mau dihajar malah balik dia hajar. Tinggal tersungkur kepada Tuhan, minta ampun sungguh-sungguh di kaki Tuhan kenapa bisa terjadi.

 

Juga kebusukan nikah buah nikah. Kebusukan dalam pelayanan, pelayanan tambah hancur. Sudah berupaya sungguh-sungguh melayani tetapi tambah hancur. Kebusukan ekonomi. Termasuk kemustahilan! 1 jam saja sudah mati tidak mungkin bangkit, apalagi ini sudah 4 hari.

 

Saat diperhadapkan dengan kebusukan ada 2 kemungkinan:

a)      Meratap. Menyalahkan Tuhan. Saya sudah berdamai, sudah selesaikan dosa, kenapa Kau izinkan begini, kenapa! Juga saling mempersalahkan. Suami salahkan isteri, kau di rumah kenapa tidak bisa didik anak. Isterinya balas, papa yang terlalu sering keluar tidak pernah pulang makanya anak-anak jadi begini. Saling mempersalahkan, gembala salahkan jemaat, jemaat salahkan gembala. Tidak tertolong, semakin busuk bahkan berulat.

 

b)      Tersungkur di kaki Tuhan, mengaku saya hanya tanah, saya tidak mampu, saya tidak layak, saya banyak kelemahan, kebusukan ini terjadi karena saya! Masih ada kelemahan yang saya pertahankan. Tuhan izinkan kebusukan terjadi supaya kita bisa tersungkur di kaki Tuhan, merendahkan diri serendah-rendahnya di kaki Tuhan, hanya bergantung tangan belas kasihan Tuhan. Saya tidak mampu lagi Tuhan, menghadapi anak saya tidak mampu, menghadapi suami, menghadapi isteri, menghadapi jemaat, menghadapi gembala, saya tidak mampu lagi. Saya hanya tanah liat tidak bisa berbuat apa-apa, butuh tangan belas kasihan Tuhan.

 

Kalau kita tersungkur, bergumul di kaki Tuhan, Yesus juga menangis. Yesus juga bergumul bersama dengan kita yang penting kita mau tersungkur mengaku. Saya hanya tanah, karena saya ini terjadi. Saya masih banyak kelemahan, saya hanya tanah.

 

Kalau terjadi sesuatu pada jemaat saya sebagai gembala pukul diri, saya gembala masih banyak kelemahan. Kalau ibadah kaum muda itu sepi penyembahan, saya pukul diri. Saya gembala masih kurang dalam penyembahan, saya hanya tanah liat. Sangking tidak tahu bagaimana mau mengatasi jemaat Galatia sampai Paulus bilang aku mau datang dengan suara lain. Jadi saya mau datang kepada kaum muda dengan suara lain. Tinggal dengan suara penyembahan.

 

Kaum muda, kalianlah yang mau ditunggangi Yesus, keledai muda. Kami induk keledai mendampingi. Kaum muda sungguh-sungguhlah dengan Tuhan dan akan menuai hasilnya. Saya alami saya merasakan, sebagai kaum muda saya bertobat dan sungguh-sungguh dengan Tuhan, sekarang menuai hasilnya. Tuhan bisa memakai kita dan Tuhan memberkati lebih dari orang lain.

 

Hasilnya kalau kita mau tersungkur di kaki Tuhan, mau bergumul, terjadi mujizat rohani dan jasmani. Lazarus bangkit, mujizat rohani terjadi, kita diubahkan dari yang busuk diubahkan menjadi harum. Lazarus menjadi kesaksian. Kita dibaharui dari manusia daging menjadi manusia rohani, sampai sempurna seperti Yesus. Mujizat jasmani juga terjadi, kebusukan jasmani dipulihkan. Yesus datang, kita siap menyambut kedatanganNya. Dari tersungkur di kaki, diangkat duduk di takhta Tuhan.

 

Sidang jemaat Laodekia sidang jemaat paling busuk, busuk moral, busuk pelayanan, semua busuk, tetapi Tuhan bilang:

Wahyu 3:21

3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

 

Kita mau dibawa duduk setakhta dengan Tuhan di Yerusalem Baru. Kita bergumul sekarang dan Yesus bergumul bersama dengan kita memulihkan segala sesuatu yang busuk.

 

GPT “Kristus Penebus”

Jl. Langgadopi No.4 Tentena

Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663

HP: 081334496911

Email: imamat_raja@yahoo.com

www.gptkp.blogspot.com

Tuhan Memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar