Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Yohanes 15:9-12,17
15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."
Ayat 1 sampai 8 menekankan hubungan dengan Yesus sebagai pokok anggur yang benar. Ayat 9 sampai 17 menekankan hubungan dengan sesama = hubungan ranting dengan ranting. Hubungan dengan sesama adalah hubungan saling mengasihi dan ini adalah perintah Tuhan.
I Yohanes 3:23
3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
Kalau perintah Tuhan ini kita langgar berarti berbuat dosa, karena dosa adalah pelanggaran atas hukum-hukum Allah. Namanya perintah, harus dilakukan. Kita belajar saling mengasihi. Kasih itu berasal dari kayu salib, seperti seorang sahabat memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya. Kita manusia berdosa tidak punya kasih. Kasih itu diberikan dari kayu salib, karena sudah diberi maka datanglah perintah harus saling mengasihi itu dimulai dari rumah tangga kita.
Saling mengasihi jangan cuma diukur dari saling memberi berkat-berkat jasmani, bukan itu ukurannya. Lalu apa prakteknya saling mengasihi?
Matius 18:15
18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Praktek saling mengasihi adalah menegur sesama yang berdosa di dalam kasih supaya dia bisa terlepas dari dosa dan hidup di dalam kebenaran. Kalau berbuat dosa itu mati, hidup benar itu bangkit.
Dalam terang Tabernakel Matius pasal 18 ini terkena pada gamis baju Efod. Itu bicara tentang pakaian dalam tanda kebangkitan. Bukti mengalami kebangkitan kita lepas dari dosa dan hidup dalam kebenaran. Makanya mari kita saling menasihati, saling menegur dan mengingatkan untuk kita bisa lepas dari dosa.
Teguran yang terutama kita dapatkan dari Firman pengajaran.
II Timotius 4:2
4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
Jadi dasar menegur sesama adalah Firman pengajaran yang benar, bukan emosi daging. Kita sendiri tidak mempraktekan Firman lalu mau menegur orang lain, tidak akan masuk. Dasarnya adalah Firman pengajaran, kita praktekan Firman, hidup sesuai Firman baru bisa menegur sesama kita.
Berbuat dosa itu terhilang, tegur supaya kita terima kembali, jangan dia binasa. Melihat sesama dalam nikah berbuat dosa, berbahaya jiwanya! Kadangkala kita bukan menegur tetapi malah menceritakan kekurangannya, hanya bergosip, menghakimi. Lebih baik tegur! Datang kepadanya, saya lihat apa yang kamu buat ini tidak baik, janganlah seperti itu. Dari pada kita cerita ke mana-mana, kita bergosip, menghakimi, lebih baik tegur. Kalau dia terima puji Tuhan, kalau dia tidak terima doakan. Masa tega melihat sesama kita dalam nikah binasa, isteri kita, suami kita, anak kita, saudara kita binasa. Sebab itu tegur, diingatkan lewat Firman pengajaran yang benar, sesuai Firman Tuhan, maka kita mendapatkan dia kembali, menyelamatkan jiwanya.
Bayangkan apa akibat dari dosa itu? Kalau dosa sudah matang dia berbuah maut. Jadi kita ingatkan, tegur supaya dia bisa bertobat. Kalau tidak kita tegur, kita berhutang darah.
Yakobus 1:15
1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.
Dosa itu membawa maut, membawa pada kebinasaan. Kita lihat sesama kita, terutama sesama dalam nikah rumah tangga, tetapi tidak mau tegur dengan alasan nanti ribut, nanti ramai. Kalau dia binasa kita berhutang darah! Perintah Tuhan supaya saling mengasihi, prakteknya kita menegur. Apalagi anak kita masih dibawah bimbingan kita, tegur dengan keras, ingatkan bahaya kamu itu. Diingatkan dari pada dia binasa. Diingatkan supaya dia selamat.
Kalau kita tidak menegur padahal kita lihat dengan mata kita sendiri, itu mendatangkan dosa bagi kita sendiri!
Imamat 19:17
19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.
Dia binasa karena kita tidak menegur, kita yang dituntut oleh Tuhan. Itu mendatangkan dosa pada diri kita sendiri.
Mari saling menegur dan menasihati, terutama menegur soal ibadah. Kalau sudah lihat sesama kita sudah malas beribadah, jangan diikuti, jangan dituruti dia. Tegur, ingatkan untuk dia beribadah.
Ibrani 10:25
10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Kalau dia tidak dengar nasihat, lebih meningkat lagi teguran. Kita yang Tuhan percayakan punya anak harus tetap nasihati, bawa dalam doa. Dikatakan harus semakin giat melakukannya menjelang datang hari Tuhan, kita menasihati dan menegur.
Matius 18:16-17
18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Bagaimana cara menegur?
1. Secara 4 mata.
2. Kalau dia tidak mau terima, lanjutkan di depan 2 atau 3 saksi.
3. Kalau tidak mau mendengar lagi, tegur di depan jemaat. Memang malu kalau sudah ditegur di depan jemaat, tetapi itu bukan untuk mempermalukan dia, namun supaya dia selamat.
Kalau tetap tidak mau menerima teguran maka dia dipandang sebagai orang kafir, orang yang tidak mengenal Allah. Kita memang orang kafir tetapi kita sudah mengenal Allah, sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat. Ini malah kembali pada hidup yang tidak mengenal Yesus. Orang yang tidak mau menerima teguran, hidupnya kembali pada kekafiran.
Keadaan orang kafir:
1. Efesus 2:11
2:11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —
Tidak bersunat artinya tanpa kekudusan, tanpa kesucian. Apalagi kalau sudah tidak beribadah, bagaimana bisa disucikan dan dikuduskan. Sementara penyucian itu kita dapatkan secara intensif di dalam ibadah lewat Firman. Di mana 2 3 orang berkumpul di situ Tuhan hadir.
Matius 18:20
18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
Bukti Tuhan hadir:
I Samuel 3:21
3:21 Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.
Bukti Tuhan hadir ada pembukaan rahasia Firman. Bagaimana bisa suci kalau sudah tidak beribadah! Makanya saya tegur, apalagi kaum muda kalau tidak beribadah. Lihat sesama kita paduan suara, mungkin sudah kosong yang suka menyanyi di samping, ayo nasihati, besuk, ingatkan, tegur, supaya bisa kembali beribadah melayani Tuhan.
2. Efesus 2:12a
2:12a bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus,
Tanpa Kristus artinya tanpa urapan Roh Kudus. Kalau tidak beribadah seperti itu, hidup dalam kedagingan, hawa nafsunya liar. Hidup dalam kebuasan daging seperti anjing dan babi! Kembali pada hidup lama, berkubang pada dosa seperti babi, menjilat muntah seperti anjing.
Dari pada kita yang pusing melihat sesama kita seperti itu, lebih baik ingatkan, tegur. Apalagi sesama dalam rumah tangga, coba kalau dalam rumah tangga kita ada anjing yang menggonggong terus, tidak enak, terganggu terus. Begitulah dalam rumah tangga, kalau sesama kita tidak kita tegur, akhirnya kita hidup dengan anjing dan babi, tidak nyaman kita. Ayo ingatkan, kasihan dia kalau tanpa Kristus, tanpa urapan.
3. Tanpa janji Allah. Berarti tanpa Firman. Kalau tanpa Firman jadi liar.
4. Tanpa pengharapan. Ini mudah kecewa, mudah putus asa, termasuk mudah bangga, sombong. Kalau sudah diberkati lalu kita tegur, dia bisa balik menantang. Ini buktinya saya tidak beribadah lihat hasil yang saya dapat banyak, dari pada dulu saya setia beribadah melayani saya kosong. Tetapi dia sedang menabung di pundi-pundi berlubang. Kehidupan itu kering, tanpa Allah.
5. Tanpa kasih Allah. Kalau sudah tanpa kasih Allah, itu sudah sama seperti antikristus yang hidup dalam kebencian. Antikristus itu mau membunuh dan menganiaya, penuh dengan kebencian. Dan mulutnya penuh dengan hujat. Ngeri kalau sudah sampai pada menghujat. Begitu kita tegur dan nasihatkan malah dia menghujat, bahaya ini! Saya ingatkan teman saya soal ibadah, saya cuma diejek, malah dia tantang saya. Kami pergi ibadah, lalu ditampung di rumah jemaat. Waktu ibadah dia malah keluyuran tetapi menikmati tampungan dari panitia, makanan dari panitia, ibadah tidak dia ikuti. Saya bilang jangan begitu, kita datang di sini untuk ibadah KKR. Dia langsung marah dan menghujat, dia tantang saya ‘awas kalau nanti saya lihat ngana di neraka!’. Bukannya sadar, malah ngomong seperti itu. Ini jangan terjadi dalam kehidupan kita sekalian.
Ini akibatnya kalau tidak mau ditegur, menjadi orang kafir dan pemungut cukai. Pemungut cukai itu terikat akan uang. Pandangannya hanya yang jasmani. Kalau kelihatan melayani, pandangannya hanya yang jasmani, mencari untung yang tidak halal.
Memang untuk menegur ada resikonya. Pdt. Pong Dongalemba mengatakan untuk menolong orang siap digantung. Seperti Yesus menolong, Dia digantung di kayu salib.
Amos 5:10
5:10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas.
Waktu kita tegur malah kita yang dibenci!
Mazmur 109:1-5
109:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Ya Allah pujianku, janganlah berdiam diri!
109:2 Sebab mulut orang fasik dan mulut penipu ternganga terhadap aku, mereka berbicara terhadap aku dengan lidah dusta;
109:3 dengan kata-kata kebencian mereka menyerang aku dan memerangi aku tanpa alasan.
109:4 Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku, sedang aku mendoakan mereka.
109:5 Mereka membalas kejahatan kepadaku ganti kebaikan dan kebencian ganti kasihku.
Kita mengasihi dia makanya kita tegur, kita malah difitnah, digosipkan, dibenci, dilawan, diperangi, itulah resikonya. Apalagi kalau itu sesama kita dalam rumah tangga, memang sakit rasanya. Tetapi itu sudah betul kalau kita diperhadapkan dengan hal seperti itu. Itu salib yang harus kita pikul. Yesus mau menolong malah disalibkan. Yesus mau menyelamatkan malah dibunuh. Jadi jangan surut langkah, terima saja, itu berkat dari Tuhan.
Tentu untuk menegur kita harus lebih dahulu menerima teguran Firman, kita lebih dulu mau disucikan maka teguran kita berasal dari kasih.
I Petrus 1:22
1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.
Kita lebih dulu mau menerima teguran Firman, mau disucikan, sehingga kita memiliki kasih persaudaraan yang tulus ikhlas. Kita bisa menasihati dan menegur dengan kasih yang tulus ikhlas.
I Timotius 1:3-5
1:3 Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain
1:4 ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka, dan bukan tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman.
1:5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.
Jadi untuk kita bisa menerapkan saling mengasihi, menegur menasihati orang lain, lebih dahulu kita mau ditegur dan dinasihati oleh Firman, kita mau disucikan oleh Firman, sehingga teguran dan nasihat kita berasal dari hati yang suci, yang tulus, hati yang murni.
Jangan takut kalau mau menegur dengan hati yang tulus dan murni. Mungkin mau mengingatkan suami, bagaimana saya mau mengingatkan suami, bisa-bisa saya dibentak, saya kena pancasila. Suamiku ini cuma main handphone terus, tidak ada lagi sembayang baca Alkitab. Lalu bagaimana cara mengingatkan?
Matius 18:18
18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Ini wibawa sorga. Jadi kalau kita menegur dari hati yang suci dan murni, Tuhan berikan kita wibawa sorga. Jadi tidak usah takut, nasihati saja, tetapi tentu pakai hikmat, apalagi menghadapi orang yang tempramen. Seperti Abigael mengingatkan Nabal, dia tunggu. Tidak langsung pulang Nabal langsung dia ingatkan. Apalagi Nabal sementara mabuk, coba nasihati orang yang sementara mabuk, tidak akan bisa masuk. Pakai hikmat, kebijaksanaan karena dia ada wibawa sorga, Nabal marah malah Nabal yang mati. Jadi kalau kita menasihati dengan hati yang tulus, hati yang suci, pada kita ada wibawa sorga, kalau dia marah, dia berhadapan dengan Tuhan, dia melawan Sorga. Bahaya dia! Jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita.
Suami isteri yang harus lebih dahulu mempraktekan saling menasihati atas dasar kesucian. Kalau kita bisa menegur dan menasihati atas dasar kesucian, kita akan menjadi satu hati. Kita tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, kalau ada orang yang menegur kita karena kita salah dan kita menerima maka kita dengan dia menjadi satu hati. Dalam penggembalaan seperti itu, antara penggembalaan juga seperti itu. Hamba Tuhan mengingatkan hamba Tuhan yang lain dengan hati yang tulus, hati yang suci dan hamba Tuhan itu bisa menerima, maka bisa menjadi satu hati.
Matius 18:19
18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Kalau bisa saling menasihati, saling menegur, saling mengingatkan dan bisa saling menerima maka bisa sepakat dan sehati. Kalau sudah sehati, doanya diterima. Betapa bahagianya kalau suami isteri sehati, nikah itu menjadi rumah doa. Karena saling menasihati, menegur, mengingatkan, sama-sama mau hidup benar dan suci, doa yang dinaikan didengar oleh Tuhan, dijawab oleh Tuhan, nikahnya menjadi rumah doa.
Tetapi kalau saling membiarkan, istilahnya bodoh amat, kamu mau bagaimana terserah, akibatnya bukan menjadi rumah doa tetapi menjadi sarang penyamun! Kalau namanya sarang, itu tempat berkembang biak. Dosanya bertelur 2 , bertelur 3, tambah banyak dosa di situ berkembang.
Ayo saling mengingatkan dan menasihati. Jangan takut, kalau kita hidup dalam kekudusan dan kesucian maka pada kita ada wibawa sorga. Berani dia lawan, berani dia hujat, berarti menghujat Tuhan. Tetapi kalau diterima, kita bisa sehati. Dalam satu persekutuan belum tentu sehati. Karena ketika ditegur dan diingatkan tidak terima, mengamuk, marah! Tetapi kalau bisa menerima teguran dan nasihat dari hati yang suci, bisa satu hati.
Ini yang menjadi kerinduan hati Tuhan supaya kita sehati.
Filipi 2:1 (Perikop:Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus)
2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
Jadi tujuan menasihati dan menegur supaya kita menjadi satu hati = menjadi satu Tubuh Kristus. Lihat saja tubuh kita, 1 tubuh tentu hatinya 1. Kita mau satu Tubuh Kristus, harus satu hati. Mari saling menegur, saling menasihati, saling mendoakan. Kalau teguran kita tidak diterima, doakanlah. Sampai kita menjadi satu hati, satu tubuh untuk menyatu dengan Yesus sebagai kepala.
Ini yang menjadi kerinduan kita bersama supaya menjadi satu, mulai dari dalam nikah. Mari saling mengingatkan terutama soal ibadah. Supaya nikah itu menjadi satu, doa dijawab oleh Tuhan, nikah menjadi rumah doa, home sweet home. Rumahnya menjadi tempat kemanisan. Kita berdoa dan Tuhan menjawab doa-doa kita. Satu hati, satu tubuh Kristus yang sempurna menyatu dengan Yesus sebagai kepala.
Tuhan Memberkati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar