Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.
Kita dihimpunkan pada malam hari ini karena suatu peristiwa, di mana ini adalah suatu kedaulatan Tuhan yang tidak bisa kita campur tangan, Tuhan yang mengatur semuanya. Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil.
Hari ini Tuhan sudah memberi kepada opa waktu untuk beristirahat dari jerih payah di dunia ini, dari perjuangan rohani, perjuangan iman di dunia ini. Sebab Ayub berkata hari-hari kita di dunia seperti hari orang perang. Tetapi kita bersama dengan Tuhan, sebagai orang percaya kita yakin bahwa apa yang Tuhan lakukan dalam kehidupan kita sekalian adalah sesuatu yang baik adanya di mata Tuhan. Dan biarlah kita tetap berpengharapan kepada Tuhan.
I Korintus 9:24-27
9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Tuhan Yesus menyediakan mahkota abadi bagi kita yang berjuang dalam pertandingan iman sampai garis akhir. Dalam pertandingan jasmani hanya yang sampai garis finish yang mendapat medali, kalau berhenti di tengah jalan di diskualifikasi.
Ada 3 tingkatan mahkota abadi yang Tuhan mau berikan kepada kita.
1. Mahkota kebenaran
II Timotius 4:6-8
4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
Mahkota kebenaran mau Tuhan berikan bagi kita. Tetapi ada syaratnya, kita harus memelihara iman sampai garis akhir hidup kita. Garis akhir hidup manusia ada 2:
a) Meninggal dunia seperti yang dialami oleh opa.
b) Sampai Yesus datang kedua kali.
Biar kita memelihara iman kita sampai garis akhir. Dalam suatu pertandingan iman ini memang banyak tantangannya, tetapi kita mau memelihara iman kita yaitu mau tetap percaya dan mempercayakan hidup sepenuh kepada Tuhan, tetap berpegang teguh pada Firman pengajaran yang benar, apapun yang kita hadapi dan tetap hidup benar. Terutama nikah kita tetap benar sampai garis akhir.
Memang percakapan kami terakhir dengan opa hanya seputar hamba Tuhan yang sudah meninggal. Saya tidak tahu apa maksud Tuhan, mungkin opa sudah merasa bahwa sudah mencapai garis akhir. Kemudian kalau bercakap-cakap dengan opa, opa seringkali berkata di usia yang sudah lanjut ini saya mau hidup sesuai Firman Tuhan. Opa sudah berjuang dan sudah mencapai garis akhir.
Memang kita diperhadapkan banyak tantangan, tetapi pertahankan iman, pertahankan hidup benar, pertahankan pengajaran yang benar, pertahankan tahbisan yang benar, nikah yang benar sampai garis akhir hidup kita.
2. Mahkota kehidupan
Wahyu 2:10
2:10 Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
Ada syaratnya untuk mendapatkan mahkota kehidupan:
a) Setia sampai mati. Setia dalam ibadah pelayanan sampai garis akhir sekalipun menderita bagi daging.
II Timotius 3:12
3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,
Untuk hidup beribadah memang kita harus menderita. Jadi bukan sekedar beribadah tetapi ibadah itu sudah menjadi kebutuhan hidup. Biarlah kita setia sampai garis akhir.
3 minggu yang lalu opa terakhir datang di Tentena kemudian kami ada ibadah doa semalaman. Saya bilang sama opa ‘opa istirahat jo, tidak usah ikut’ tapi opa bilang saya mau ikut sampai akhir. Begitu semangat, begitu setia melayani sampai garis akhir. Tadi waktu ke sini saya melihat ini jalan yang opa tempuh tiap minggu, dari meko ke Tampe, lalu ke Bunta lagi, sampai garis akhir melayani. Ini menjadi teladan bagi kami hamba Tuhan yang masih muda. Kalau orang tua begitu semangat melayani, kami yang masih muda harus lebih semangat, lebih setia sampai garis akhir.
b) Harus tahan uji
Yakobus 2:1
2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
Tahan uji yang dimaksud di sini sekalipun diperhadapkan dengan tantangan, dengan pergumulan, tetap tahan uji.
Matius 7:24
7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Orang yang mendengar dan menuruti Firman dia tahan uji. Biar diterpa oleh hujan, angin, banjir, tahan uji! Tetap taat pada Firman Tuhan sampai daging ini tidak bersuara lagi. Mari kita teladani ketaatan hamba-hamba Tuhan yang sudah mendahului kehidupan kita, bagaimana tahan uji menghadapi tantangan apapun. Sehingga biarpun angin pengajaran palsu menerpa, tetap kita taat pada Firman Tuhan. Menghadapi roh jahat roh najis yang mau menjatuhkan kita dalam dosa, tetap taat pada firman Tuhan. Menghadapi banjir, ini godaan-godaan dan pengaruh dari dunia, ikatan-ikatan di dunia, kita tetap pada Firman Tuhan.
3. Mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.
I Petrus 5:4
5:4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.
Pasal 5 ini adalah pasal penggembalaan. Supaya mendapat mahkota kemuliaan maka kita harus menjadi kehidupan yang tergembala dengan benar dan baik. Tidak pernah layu, tidak loyo dalam penggembalaan. Kita teladani orang tua kita, bahkan dalam doa pagi yang terakhir masih mendoakan jemaat yang sakit, sementara beliau sendiri sakit. Bisa melayani, tidak layu, tidak loyo. Kita yang masih hidup, belum mencapai garis akhir, mari berjuang, jangan layu, jangan loyo di dalam penggembalaan apapun ujiannya.
Saya merasa sangat kehilangan, karena opa hamba Tuhan yang pertama memberi penghiburan. Ketika saya mengalami tantangan yang berat di awal-awal pelayanan menggantikan almarhum papa, opa yang menguatkan saya. Saya tidak curhat apa yang saya alami, tetapi waktu kami duduk sambil nonton langsung opa bilang, ngana sekarang ada di tengah-tengah pusaran air, ba kuat ngana, jangan loyo. Opa datang di Tentena opa mau support pelayanannya ngana.
Bagaimana praktek tidak layu, tidak loyo di dalam penggembalaan?
a) I Petrus 5:2
5:2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.
Beribadah melayani Tuhan dengan tidak terpaksa tetapi dengan suatu pengabdian diri dan rela berkorban. Tetapi kalau melayani cari sesuatu, pasti layu di tengah jalan. Kalau kita melayani dengan pengabdian, dengan suatu hati yang rela berkorban pasti kuat sampai mendapat mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.
b) I Petrus 5:3
5:3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.
Menjadi teladan, artinya ada kesaksian keubahan hidup yang bisa dilihat oleh sesama. Mungkin kesaksian-kesaksian yang kecil, tetapi kalau dikumpulkan itu seperti Daud mengumpulkan 5 batu kecil, bisa mengalahkan Goliat yang besar, tantangan-tantangan yang besar, pergumulan-pergumulan yang berat. Tuhan pasti menolong kehidupan kita.
Ini adalah ciri utama Mempelai Wanita Tuhan. Mempelai Wanita Tuhan adalah kehidupan yang tergembala, tidak layu dalam penggembalaan.
Kidung Agung 2:16
2:16 Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.
Kerinduan kita yang utama untuk menjadi Mempelai Wanita Tuhan yang sempurna. Jangan layu dalam penggembalaan, tetap tergembala. Sekalipun posisi kita seperti bunga bakung di antara duri-duri. Suasana penggembalaan bagaikan menghadapi duri-duri, sakit bagi daging, kadang menusuk pikiran, kadang menusuk hati perasaan kita, menusuk mata kita melihat orang-orang yang menyakiti kita, berulah di depan kita. Itu memang sakit rasanya bagi daging. Tetapi Tuhan menjamin, kekasihKu kepunyaanKu, Aku kepunyaan kekasihKu. Kita kepunyaan Yesus Mempelai Pria Sorga, sekalipun ada di tengah duri tidak mungkin Tuhan biarkan. Keluarga dan sidang jemaat yang ditinggal tidak mungkin Tuhan tinggalkan karena kita kepunyaan Tuhan. Opa kepunyaan Tuhan, sudah bersama-sama dengan Tuhan. Kita yang masih tinggal, yakin kita juga kepunyaan Tuhan. Sekalipun ada duri-duri, kali ini duri yang menusuk kita adalah kepedihan hati ditinggal oleh orang tua kekasih, tetapi kita adalah kepunyaan Tuhan.
Satu ketika waktu Yesus datang kita bisa menyambut Dia masuk pesta nikah Anak Domba Allah.
Kidung Agung 3:11
3:11 puteri-puteri Sion, keluarlah dan tengoklah raja Salomo dengan mahkota yang dikenakan kepadanya oleh ibunya pada hari pernikahannya, pada hari kesukaan hatinya.
Ini nubuatan pernikahan Anak Domba Allah. Ada mahkota yang disiapkan untuk kita masuk pesta nikah Anak Domba Allah, mahkota mempelai. Biar kita pelihara iman sampai garis akhir kita, kita setia tahan uji, setia taat sampai garis akhir hidup kita. Jangan pernah layu, jangan pernah loyo dalam pengembalaan. Sekalipun menghadapi suasana berduri tetapi kita kepunyaan Tuhan dan yakin Tuhan kepunyaan kita, tidak mungkin Dia biarkan dan tinggalkan kehidupan kita.
Kita terus berjuang sampai masuk pesta nikah Anak Domba Allah mendapatkan mahkota Mempelai itu, mendapatkan mahkota abadi dari Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar