20260225

Kebaktian PA Kisah Para Rasul, Rabu 25 Februari 2026 Pdt. Handri Otniel Legontu

Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Kisah Para Rasul 1:12-14

1:12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.

1:13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. 

1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

 

Rasul-rasul menanti-nanti pencurahan Roh Kudus. Sekarang kita juga merindukan supaya Roh kudus dicurahkan kepada kita. Dan kalau kita sudah mengalami kepenuhan Roh Kudus biar dijaga sampai Roh Kudus meluap-luap di dalam kita.

 

Ada 2 hal yang rasul-rasul lakukan dalam menanti pencurahan Roh Kudus.

1.      Naik ke ruangan atas. Ruang atas yang dimaksud adalah tempat di mana Yesus dan murid-muridNya makan perjamuan Paskah. Jadi naik ke ruang atas berarti untuk mengalami pencurahan Roh Kudus kita harus setia dan tekun makan Firman pengajaran yang benar dan perjamuan suci. Kita disucikan, Roh Kudus bekerja di dalam kita.

 

2.      Bertekun dalam doa dengan sehati.

 

Tentu ini doa penyembahan, bukan hanya sampai pada doa permohonan. Ada 4 tingkatan doa, doa permohonan, doa syafaat, doa ucapan syukur dan doa penyembahan. Doa penyembahan artinya merendahkan diri serendah-rendahnya di bawah kaki Tuhan dan mengakui segala kelemahan kita, kita tidak mampu apa-apa. Makanya dalam mencari kepenuhan Roh Kudus, tidak usah kita bagus-baguskan, tidak usah lap ingus, memang kita jelek di hadapan Tuhan. Kita merendahkan diri serendah-rendahnya dan akui kelemahan kita.

 

Yang bertekun dalam doa penyembahan di sini adalah orang yang banyak kelemahannya. Pertama 11 murid, kelemahan mereka adalah degil, keras hati. Yang kedua beberapa perempuan di antaranya Maria Magdalena, juga ditandai dengan kelemahan. Maria sudah hebat dipakai oleh Tuhan tetapi ternyata ada kelemahannya, ketika Yesus bangkit dia tidak mengenal Yesus dengan kuasa kebangkitanNya. Sore ini kita akan belajar tentang Maria ibu Yesus dan saudara-saudara Yesus.

 

Apa kelemahan Maria dan saudara-saudara Yesus?

Yohanes 7:3-5

7:3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: "Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan.

7:4 Sebab tidak seorang pun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia."

7:5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya.

 

Markus 3:21

3:21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

 

Kelemahannya mereka tidak percaya kepada Yesus bahkan menganggap Yesus tidak waras. Namanya saudara mereka ada pertalian darah, seharusnya mendukung pelayanan Yesus. Tetapi di sini mereka tidak percaya malah menganggap Yesus tidak waras. Bukannya menempatkan diri sebagai pendukung tetapi malah menjadi penghalang atau menjadi sandungan. Kalau orang banyak melihat, saudara Yesus saja tidak percaya, maka mereka juga tidak percaya. Ring 1 nya tidak percaya, bagaimana yang di luar mau percaya Yesus.

 

Ada 2 pelajaran yang bisa kita ambil dari saudara-saudara Yesus itu.

1.      Hidup Kristen dan ibadah pelayanan kita jangan berdasarkan keturunan atau keluarga daging, tetapi karena iman yang berakar di dalam Yesus. Apalagi orang tuanya sudah Kristen, dia lahir dalam keluarga Kristen, jadi dia Kristen berdasarkan keturunan saja. Ibadah pelayanannya hanya berdasarkan keturunan. Atau suaminya Kristen, isterinya karena keluarga daging ikut masuk Kristen, anak-anaknya juga ikut masuk Kristen. Tetapi bukan karena iman yang berakar di dalam Yesus.

 

Akar itu sangat penting untuk menopang pertumbuhan tanaman itu sampai menghasilkan buah-buah yang baik.

Efesus 3:14-17

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,

3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.

3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,

3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

 

Termasuk dalam hal pengajaran, kita masuk dalam pengajaran jangan karena keturunan daging atau keluarga daging, tetapi karena kita punya iman yang berakar di dalam Yesus Kristus, itu kuat. Kalau masuk pengajaran tidak bayar harga, mudah dia lepaskan.

 

Saya lahir sudah dalam pengajaran. Dari kecil sudah diperdengarkan lagu-lagu psallo dan seterusnya. Akarnya harus kuat, jangan hanya karena keturunan daging.

 

Ada 2 akar yang menentukan buah apa yang dihasilkan:

a)      Akar iman yang tidak kuat yaitu hidup Kristen yang bergantung pada keturunan atau keluarga daging sehingga menghasilkan buah-buah daging. Betapa banyak orang Kristen di dunia ini, tetapi lihat keadaan orang Kristen yang terlihat bagaimana praktek hidupnya sehari-hari? Lebih banyak yang menghasilkan buah-buah daging, karena akarnya berdasarkan keturunan keluarga daging.

Galatia 5:19-21

5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

 

Kristen seperti ini cenderung tidak percaya Firman bahkan melawan Firman. Seperti saudara-saudara Yesus, menganggap Yesus tidak waras. Kalau diposisikan kita saudara-saudara Yesus yang sama-sama hidup di bawah naungan Yusuf dan Maria, lalu ketika dewasa Dia berkata Akulah Mesias, bisa-bisa kita juga seperti saudara-saudara Yesus, tidak percaya.

 

Begitulah orang Kristen kalau hanya karena keturunan, tidak punya akar yang kuat. Seperti itu juga yang saya alami sebagai anak hamba Tuhan, dengar khotbah saya rasa itu cuma suara papa. Jadi tidak pernah merasakan jamahan tangan Tuhan, karena Firman yang didengar dianggap hanya perkataan orang tua saja. Apalagi kalau anak pendeta, dia bisa lawan papanya.

 

b)      Akar iman yang kuat yaitu hidup Kristen karena percaya dan mengasihi Tuhan. Menghasilkan buah-buah roh.

Galatia 5:22-23

5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Mari kita periksa, akar iman kita kuat atau tidak kuat? Apakah hanya karena keturunan atau karena kita percaya dan mengasihi Dia sehingga menghasilkan buah-buah roh, tabiat Allah Tritunggal.

 

Kalau kita hitung buah daging itu jumlahnya 15, buah roh 9. Memang pertumbuhan daging lebih cepat dari pada pertumbuhan rohani. Orang mau diajak pada yang benar dan lurus, sulit! Tetapi kalau mau diajak pada yang bengkok-bengkok cepat sekali. Mau dibawa kepada keselamatan sulit, tetapi kalau diajak menuju kebinasaan, banyak yang ikut! Itu sebabnya kita harus berusaha untuk menyalibkan daging. Kalau akar imannya kuat, pasti selalu berusaha menyalibkan daging. Dengan apa kita menyalibkan daging? Lewat pedang Firman pengajaran dan lewat doa penyembahan. Waktu Yesus mau masuk proses penyaliban, Dia datang kepada Bapa di Sorga di taman Getsemani, Yesus menyembah.

 

Proses menyalibkan daging lewat pedang Firman Tuhan:

a)      Untuk mendengar Firman kita harus menyalibkan daging yang suka melamun, ngobrol, bergurau, bermain dan daging yang suka mengantuk! Kita lawan, jangan diikuti. Dikalahkan rasa capek dan ngantuk untuk bisa mendengarkan Firman.

 

b)      Untuk percaya dan yakin pada Firman, kita harus menyalibkan daging yang bimbang, pikiran daging, logika, sehingga kita bisa menerima Firman sekalipun itu mustahil. Seperti Musa, kalau seandainya dia mendengar Firman menggunakan pikiran dagingnya, tidak bisa dia menyeberang laut Teberau. Apa yang Tuhan perintahkan pada Musa? Berangkat! Di depan ada laut Teberau, kiri kanan tidak ada jalan, padang gurun, lalu dibelakang Firaun dengan 300 kereta mengejar. Kalau pakai logika, buat kapal. Tetapi tidak akan sempat, baru cari kayu sudah sampai pasukan Firaun. Firman bilang berangkat saja, kalau ikut logika tidak masuk akal.

 

Orang buta sejak lahir dioles lumpur di matanya, lalu Tuhan katakan pergilah basuh di kolam Siloam. Sudah buta, dikasih lumpur di matanya, disuruh jalan ke kolam Siloam, kan tidak masuk akal, tetapi dia lakukan, dia sembuh.

 

Jangan pakai pikiran daging kita, kita tidak mampu menyelami pikiran Allah. Sepandai-pandainya manusia tidak bisa menyelami pikiran Allah. Makanya setelah dari Lempinel kami diajar melanjutkan sekolah di bawah kaki Tuhan. Di situ bergumul untuk cari pembukaan Firman. Karena kalau kita menggunakan logika kita bisa stress, pusing. Injil Matius menceritakan ada 2 orang gila di Gerasa, di Injil Markus hanya Satu. Matius menceritakan 2 orang buta, Markus hanya 1 yaitu Bertimeus. Kalau pakai pikiran daging kita, injil 1 dan yang lain bertolak belakang.

 

Salibkan daging untuk bisa mengerti, percaya, yakin pada Firman. Pikiran daging harus disalibkan sehingga kita bisa menerima Firman dan Firman menjadi iman dalam hati kita.

 

c)      Untuk melakukan Firman, salibkan kehendak daging yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ketika Yesus mau melakukan kehendak Bapa di Sorga, Dia berdoa kepada Bapa di Sorga ‘lalukanlah cawan ini dari padaKu, tetapi bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMu yang jadi’.

 

I Yohanes 5:3

5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

 

Firman itu tidak berat, yang membuat berat adalah kehendak daging kita, keinginan daging kita. Contoh, di taman Eden perintah Tuhan kepada manusia, semua buah pohon dalam taman ini boleh kau makan dengan bebas, hanya 1 yang dilarang, seharusnya tidak berat. Mau makan durian bisa, makan apel bisa, semua bisa, cuma 1 yang dilarang. Beda lagi kalau Tuhan bilang semua buah pohon dalam taman ini tidak boleh kau makan buahnya, kecuali 1 saja yang boleh. Jalan lihat apel, lihat pepaya, lihat pisang, ngiler karena yang bisa dimakan hanya satu!

 

Abraham persembahkan anakmu. Sudah ada anaknya, tidak berat, bisa dilakukan. Orang kaya datang kepada Yesus, bertanya bagaimana supaya selamat. Yesus bilang jual hartamu, bagikan pada orang miskin dan ikutlah aku. Tidak berat sebab hartanya ada. Kecuali dia tidak punya harta lalu disuruh jual harta. Harta yang mana yang mau dijual.

 

Firman tidak berat, yang membuat berat adalah keinginan daging kita. Ini harus disalibkan untuk bisa melakukan kehendak Tuhan.

 

Ketaatan pada Firman menghasilkan kesucian.

I Petrus 1:22

1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

 

Kalau kita sudah hidup suci, Yesus tidak malu menyebut kita saudaraNya. Jadi bukan saudara daging, tetapi saudara Yesus yang sejati. Orang yang mau hidup dalam kekudusan, yang mau disucikan, mau taat pada Firman, itu saudara Yesus!

Ibrani 2:11

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

 

Jadi, kalau kita semua bisa hidup dalam kekudusan, kita saudara Yesus. Bukan menjadi penghalang dalam kegerakan Firman, justru dipakai dalam kegerakan Firman. Terutama yang punya kaitan darah daging dengan gembala, kalau hidup dalam kekudusan, itu saudara sejati dari Yesus, menjadi pendukung dan penopang pelayanan, kegerakan Firman.

 

Kesucian menghasilkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, sehingga sesama saudara daging bisa saling menopang dan mendukung pekerjaan Tuhan. Jadi saudara daging semakin kuat, sama-sama mendukung pekerjaan Tuhan, kegerakan Firman. Yang banyak terjadi, justru saudara-saudara daging ini yang menghambat pekerjaan Tuhan. Saudara dalam Tuhan lebih rohani dari pada saudara daging, lebih memiliki kasih persaudaraan, dibandingkan saudara daging.

 

Jadi kita bisa berkata ‘kau saudaraku dan kau saudariku’ karena sama-sama taat pada Firman, sama-sama mau disucikan, sehingga bahu membahu dalam pekerjaan Tuhan.

 

2.      Hubungan kita dengan sesama jangan hanya sampai pada saudara daging tetapi harus meningkat menjadi keluarga Allah, saudara di dalam Tuhan. Mengapa harus meningkat?

a)      Keluarga daging itu tidak kekal, bisa putus. Banyak yang memutuskan hubungan daging dengan alasan ini dan itu.

 

b)      Keluarga daging bisa menjadi penghalang dalam kerohanian.

Ulangan 13:6

13:6 Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu,

 

Keluarga daging bisa menjadi penghalang dalam kerohanian, malah bisa menjerumuskan pada kesesatan. Makanya harus diikat menjadi keluarga Allah. Isteri ajak suami, ayo kita ibadah. Suami bilang, nanti dulu saya capek, nanti ibadah berikutnya, isterinya ikut saja suaminya. Suami sudah tergerak ikut dalam pengajaran yang benar, isterinya bilang jangan dulu, nanti saja.

 

Seperti Ananias dan Safira, mau berkorban, malah sepakat menahan sebagian. Inilah keluarga daging, kalau tidak meningkat pada keluarga Allah, bisa menjadi penghalang dalam kerohanian.

 

c)      Keluarga daging bisa menghasilkan buah daging yang membinasakan.

 

Kita pelajari bagaimana proses meningkatkan keluarga daging menjadi keluarga Allah.

Efesus 2:19-22

2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

 

Keluarga Allah adalah orang yang aktif dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Keluarga daging seringkali malah menjadi penghalang, keluarga daging malas melayani. Keluarga Allah aktif melayani pembangunan Tubuh Kristus di atas dasar yang benar:

a)      Di atas dasar para nabi. Nabi menunjuk Firman nubuat.

II Petrus 1:19

1:19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

 

Firman nubuat adalah Firman yang mengungkap apa yang akan terjadi dan pasti terjadi di depan. Terutama ada 2 peristiwa besar yang akan dan pasti terjadi:

1)      Yesus akan datang sebagai Mempelai Pria Sorga dalam kemuliaan untuk menjemput Mempelai WanitaNya. Akan terjadi pertemuan di udara, pesta nikah Anak Domba Allah.

2)      Aniaya antikristus selama 3,5 tahun disertai 3x7 penghukuman dari Allah Tritunggal atas dunia ini. Sekarang mulai terasa, karena saat terjadi penghukuman 7 meterai, gereja masih ada, belum disingkirkan. Salah satu meterai begitu dibuka keluar kuda merah, peperangan! Kita lihat sekarang di dunia suhunya begitu panas. Peperangan ini akan dan pasti terjadi. Peperangan yang melibatkan 200 juta tentara, begitu ngeri. Begitu banyak yang menjadi korban karena api, asap dan belerang, habis 1/3 manusia.

 

Tetapi Yesus akan datang menjemput Mempelai WanitaNya, Mempelai WanitaNya tidak akan bisa diapa-apakan sebab dia adalah biji mata Tuhan.

 

b)      Di atas dasar rasul. Rasul menunjuk Firman pengajaran.

Kisah Para Rasul 2:42

2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

 

Pengajaran adalah Firman yang menuntun kita mencapai kegenapan nubuatan yaitu menjadi Mempelai Wanita Tuhan untuk luput dari antikristus, luput dari penghukuman Tuhan.

 

Nubuatan menampilkan Mempelai, Pengajaran juga mengarahkan kita menjadi mempelai, maka disebut Kabar Mempelai, ini dasar kita sebagai keluarga Allah. Aktiflah dalam pembangunan Tubuh Kristus dengan dasar Kabar Mempelai, Firman pengajaran yang benar. Milik semua gereja karena ada di dalam Alkitab, tinggal mau menerima atau tidak. Ini keluarga Allah, aktif dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus dengan dasar yang benar.

 

Efesus 2:13-17

2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.

2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 

2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",

 

Jadi untuk bisa menjadi keluarga Allah, kehidupan yang dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus prosesnya adalah harus berdamai, merobohkan tembok pemisah. Jangan ada perseteruan. Tidak akan bisa kita melayani kalau ada perseteruan. Bagaimana mau dipakai Tuhan kalau berseteru dengan Tuhan, berseteru dengan sesama. Rubuhkan tembok pemisah, itulah perseteruan.

 

Berdamai dengan Tuhan, jangan ada perseteruan. Dosa-dosa akui dengan sejujur-jujurnya kepada Tuhan. Setelah diampuni jangan berbuat lagi. Apa bukti dosa diampuni oleh Tuhan? Hati kita tidak menuduh lagi, dosa tidak menuduh lagi.

I Yohanes 3:19-21

3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,

3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.

3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,

 

Berdamai dengan sesama, saling mengaku, saling mengampuni. Kalau perseteruan karena dosa, saling mengaku, saling mengampuni. Yang salah mengaku dan jangan diulangi lagi. Yang benar mengampuni dan melupakan. Beres, selesai, tembok perseteruan dirobohkan. Gembala dan jemaat ada jarak, jemaat dengan jemaat ada jarak, suami isteri, saudara dalam rumah tangga ada jarak, karena tidak mau mengaku dan tidak mau mengampuni. Kalau dibiarkan jarak itu akan semakin lebar sampai terpisah, tercerai dari Tubuh Kristus.

 

Kalau perseteruan karena pengajaran ayo duduk bersama kembali ke Alkitab. Dengan hati yang murni, hati yang jujur dan tulis, ayo baca Alkitab. Kalau tertulis dalam Alkitab, diterangkan oleh ayat menerangkan ayat, dengan hati lembut terima, itu kebenaran. Jangan paksakan apa yang tidak tertulis di dalam Alkitab.

 

Kadang ngotot pertahankan yang tidak ada di Alkitab. Sementara yang ada di Alkitab malah dilawan dengan berbagai macam argumentnya. Dengan hati tulus, terima kebenaran.

Titus 2:7,10

2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

2:10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.

 

Lebih baik kita duduk bersama dari pada bicara di belakang, serang yang satu dengan yang lain. Kita mau dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, ini pelayanan pendamaian. Bagaimana kalau kita saling serang? Lebih baik duduk bersama, yang kamu bilang menyimpang di mana? Ada ayatnya? Tidak ada, yah jangan dipaksakan. Kan pengajaran ini ayat menerangkan ayat. Kalau ada ayatnya terima, kalau tidak ayatnya yah jangan ngotot. Kalau hati tulus dan jujur, biar dipaksa harus terima ini, kalau tidak ada ayatnya tidak bisa digeser!

 

Keluarga Allah disebut dasar kebenaran, tidak bisa digeser.

I Timotius 3:15

3:15 Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.

 

Itu keluarga Allah, tidak bergeser dari kebenaran Firman. Coba kalau bangunan ini bergeser, mana berani kita masuk di dalamnya. Semakin tinggi bangunannya lalu bergeser dasarnya, semakin berbahaya. Dari pada berseteru, berbantah-bantahan, lebih baik kembali ke Alkitab. Tembok perseteruan dirubuhkan. Bukan malah tambah dibangun sampai seperti tembok Yerikho, sampai jemaat sudah dipengaruhi. Kembali saja ke Alkitab, itu yang benar.

 

Menjadi keluarga Allah harus berdamai. Kalau kita salah dalam hal pribadi, karena dosa, segera minta ampun. Kalau salah soal pengajaran segera kembali kepada kebenaran Firman supaya tembok perseteruan rubuh.

 

Hasil kalau kita mau berdamai:

a)      II Korintus 5:18-21

5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

 

Hasil pendamaian, kita dibenarkan oleh darah Yesus sehingga dipercaya pelayanan pendamaian dan berita pendamaian =  dipakai Tuhan sebagai senjata kebenaran, menjadi hamba kebenaran. Dulu kita gunakan anggota tubuh kita menjadi senjata kelaliman, setelah berdamai kita gunakan anggota tubuh kita menjadi senjata kebenaran. Yang kita perbuat hanya untuk kebenaran, kita melayani dalam tanda kebenaran.

Roma 6:13-14,18

6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.

6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

 

Orang bisa melihat dan menilai, ini senjata kebenaran, hamba kebenaran atau bukan. Dari tutur katanya, dari penampilannya, dari perbuatannya, dari nikahnya, semua untuk kebenaran, tidak ada yang bisa dituduhkan. Apalagi kalau dia seorang gembala, salah satu syarat seorang gembala tidak bercacat.

I Timotius 3:2,7

3:2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang,

3:7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.

 

Punya nama baik, tidak bercacat berarti tidak ada yang dapat dituduhkan. Soal keuangan dia benar. Mau dituduh soal nikah, nikahnya benar. Dituduh soal pengajaran, pengajarannya benar. Ini yang kita kejar hari-hari terakhir ini, kita menjadi senjata kebenaran. Semua yang kita lakukan untuk kebenaran, sehingga tidak ada yang bisa dituduhkan kepada kita. Terutama saya sebagai gembala, tidak ada yang bisa dituduhkan, kalau diperiksa semua benar, inilah dahsyatnya darah pendamaian itu, maka bisa dipercaya berita pendamaian. Kalau hamba Tuhan dipercaya berita pendamaian maka dipercaya pembukaan Firman yang mengungkap dosa-dosa yang ada pada gereja untuk diperdamaikan oleh darah Yesus, kesalahan-kesalahan diungkap untuk diperbaiki.

 

Seringkali yang banyak terjadi dari mimbar ini berita perang bukan berita pendamaian. Kalau berita pendamaian, jemaat datang dengan beban berat, dengan pergumulan, dengan dosanya, dia pulang lega, plonk hatinya, damai. Dosanya disucikan, kesalahannya diperbaiki. Tetapi kalau pulang mendongkol, marah-marah, mengamuk, itu seruan perang dari mimbar.

 

Nomor 1 untuk saya, makanya nasihat yang saya simpan dari bapak gembala, kalau ada sesuatu dalam jemaat lalu ngana mau sampaikan sesuatu, kalau masih belum tenang, simpan dulu di kulkas, jangan langsung sajikan. Kalau langsung ngana sajikan, orang itu tidak tertolong, dia mengamuk, marah. Kalau sudah liner, baru kasih keluar dari kulkas, panasi baru sajikan, dia tertolong.

 

Yesus menghadapi perempuan Samaria tidak berkata ‘kau ini perempuan kawin-kawin terus!’. Sampaikan saja Firman, berita pendamaian yang disampaikan, Firman masuk, perempuan itu tertolong.

 

Ini untuk saya sebagai hamba Tuhan. Doakan supaya selalu dipercaya berita pendamaian, Firman yang dibuka rahasianya menyatakan kesalahan kita untuk kita diperbaiki. Kecuali di dalam Alkitab ada orang-orang tertentu yang dikhususkan untuk dihukum. Kalau seperti itu, biar berita pendamaian bagaimanapun disampaikan dia tidak terima, dia anggap berita perang. Dijauhkan Tuhan di sini jangan ada.

Yudas 1:4

1:4 Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.

 

Kita dipakai membawa berita pendamaian untuk menolong. Sampaikan Firman dengan bahasa kasih, bukan menghakimi dan menghukum.

 

Jemaat juga dipercaya berita pendamaian, dia bersaksi apa yang Firman sudah kerjakan dalam hidupnya. Bagaimana dia diperbaiki dari keadaan yang buruk menjadi baik. Jadi bersaksi bukan untuk tembak-tembak orang lain. Apa yang sudah dikerjakan Firman itu yang kita saksikan. Bukan yang belum dikerjakan, bersaksi ‘saya akan’ nanti malah setan sabotase.

 

Contohnya kesaksian perempuan Samaria, apa yang sudah dikerjakan oleh Firman itu dia saksikan sehingga banyak jiwa datang kepada Yesus.

Yohanes 4:29,39

4:29 "Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?"

4:39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."

 

Kesaksian kita adalah kesaksian yang membangun. Jangan kita bersaksi malah ada reaksi tidak senang dari jemaat, karena bukan berita pendamaian, bukan Firman yang disampaikan. Mimbar itu kudus dan suci, bersaksi yang baik, perkataan-perkataan yang benar. Bukan kita mau menyampaikan uneg-uneg di situ untuk menyerang satu dengan yang lain.

 

Ingat, hasil pendamaian kita dipercaya pelayanan pendamaian dan dipercaya berita pendamaian. Jangan dirusak kepercayaan Tuhan.

 

b)      Ibrani 10:8-10

10:8 Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" — meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat —.

10:9 Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.

10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

 

Hasil kedua kita dikuduskan oleh darah Yesus. Mulai dari hati dikuduskan. Dulu ketika anak domba Paskah disembelih, darahnya disapukan di pintu rumah orang Israel, itu bicara hati. Hati dikuduskan, disucikan. Kemudian pikiran, perasaan, perbuatan dan perkataan kita disucikan oleh darah Yesus. Darah Yesus inilah yang membuka rahasia Firman.

 

Tujuan kita disucikan:

Mazmur 24:3-4

24:3 "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"

24:4 "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

 

Jadi tujuan kita dikuduskan supaya bisa naik gunung penyembahan, bisa menyembah, sampai nanti bisa naik gunung Yerusalem Baru.

 

Dari 12 murid Yesus, yang diajak naik gunung untuk menyembah hanya 3 murid, 9 murid di bawah gunung.

Matius 17:1-2

17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.

17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

 

Waktu masuk di taman Getsemani, hanya 3 yang diajak masuk menyembah, yang 8 duduk-duduk di luar. Namanya murid-murid Yesus, mereka diutus, mereka adalah hamba kebenaran. Sudah menjadi hamba kebenaran, sudah melayani Tuhan, dipercaya berita pendamaian tetapi hanya sedikit yang bisa menyembah. Ini pelajaran bagi kita, banyak hamba Tuhan pelayan Tuhan melayani, tetapi yang bisa menyembah sampai pada ukuran Tuhan hanya sedikit. Banyak yang melayani pekerjaan Tuhan, tetapi yang bisa melayani pribadi Tuhan, yang bisa menyembah Tuhan sungguh-sungguh dengan dasar kesucian, hanya sedikit sekali!

 

Kelihatan kalau diumumkan doa puasa dan doa semalaman, pelayan Tuhan yang datang berapa. Banyak pelayan Tuhan, tetapi yang mau aktif dalam doa penyembahan hanya berapa. Buktikan kita sudah berdamai, disucikan oleh darah Yesus sehingga kita bisa menyembah. Robek daging dengan segala keinginan dan hawa nafsu dagingnya lewat penyembahan. Termasuk kami gembala, harus bisa menaikan doa penyembahan. 

 

Tuhan tidak menipu, ada hasil dari doa penyembahan:

1)      Melihat kemuliaan Yesus, artinya mengalami kuasa keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus. Pelayanan kita bukan pelayanan daging lagi tetapi pelayanan yang bernilai rohani, mempersembahkan persembahan yang rohani. Main musik, pimpin pujian, khotbah, pelayanan apa saja, semua bernilai rohani karena kita manusia rohani.

 

Contohnya saja musik ini, di dunia banyak pemain musik, kalau disuruh mainkan lagu rohani mereka lebih jago, lebih hebat dari pemain musik gereja. Tetapi bernilai rohani atau tidak? Kita melayani sebagai manusia rohani atau manusia daging?

I Petrus 2:5

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

 

Manusia daging penuh ambisi, mau cari hormat, cari pujian. Kita melayani bagaimana? Seharusnya kita persembahkan semua. Darah Yesus menebus kita, menjadikan kita imam dan raja. Kemudian terdengar suara segala hormat, kuasa, kemuliaan, puji-pujian untuk Tuhan. Jangan itu kita ambil!

Wahyu 5:9-12

5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. 

5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."

5:11 Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa,

5:12 katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!"

 

Ayat 12 ini penyembahan. Jadi bukan hanya sampai pada hamba, senjata kebenaran, tetapi harus meningkat sampai bisa menyembah. Ini 7 hal yang harus dipersembahkan kepada Tuhan. Seringkali ini malah dikejar oleh hamba Tuhan pelayan Tuhan kalau tidak berubah, karena tidak menyembah. Apalagi di organisasi, rebutan cari kedudukan, karena kalau ada kedudukan punya kuasa.

 

Kemudian kekayaan, kejar uang. Kejar hikmat dunia, sementara rasul Paulus katakan itu semua sudah dia anggap sampah dan dia buang untuk mengenal Yesus. Sekarang ini pendeta-pendeta malah cari hikmat dunia. Yang seharusnya dikejar hikmat Tuhan, pembukaan Firman, bukan hikmat dunia!

 

Kekuatan, punya kuasa, ini yang dikejar. Apalagi kalau jemaatnya sudah banyak, yang lain sudah tidak dilirik. Hormat, banyak yang cari hormat, kemuliaan dan puji-pujian, ini dicari padahal itu semua milik Tuhan.

 

Makanya pelayanan kita harus meningkat, bukan hanya sampai pada hamba kebenaran tetapi meningkat pada penyembah Tuhan, supaya kita melihat kemuliaan Tuhan, mengalami kuasa keubahan hidup itu. Melayani sebagai manusia rohani, bukan manusia daging yang hanya mencari kuasa, kekuatan, hikmat, kekayaan, kemuliaan dan lain-lain. itu semua kita serahkan kepada Tuhan.

 

Kadang jemaat seperti itu, kalau dia punya kuasa, gembalanya dia lawan. Dia punya kedudukan, gembalanya dia serang. Dia punya hikmat, lebih pandai dari gembalanya. Makanya jadi penyembah supaya semua itu kita serahkan. Kalau ada Tuhan berikan kepada kita, bukan untuk kita jadikan kebanggaan dan kesombongan. Belajar dari Yesus, mengosongkan diri, mengecilkan diri. Itu manusia rohani.

 

2)      Melihat Musa. Musa sudah divonis tidak boleh masuk Kanaan dan dia sudah mati. Tetapi di sini dia ada di atas gunung di tanah Kanaan. Melihat Musa berarti mengalami kuasa untuk menghapus kemustahilan. Tidak usah kita ucapkan, Tuhan sudah tahu, kita hanya berseru haleluya. Roh Kudus yang menyampaikan keluhan kita kepada Tuhan dan Tuhan turut bekerja mendatangkan kebaikan. Ada kuasa menghapus kemustahilan. Masalahnya besar dan mustahil, kita menyembah berseru haleluya, Tuhan yang bekerja menghapus kemustahilan.

 

Roma 8:26-29

8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

 

Masalah apa yang kita hadapi sekarang, yang sudah berat, sudah mustahil, sudah tidak mungkin, ayo menyembah. Saya sudah melayani, tetapi masalahku kenapa tidak selesai-selesai, jangan-jangan saya salah melayani di sini, itu sudah berperasangka buruk. Menyembah, tingkatkan pelayanan kita sampai pada penyembahan sehingga Tuhan menghapus segala yang mustahil. Dia jadikan baik indah pada waktunya.

 

3)      Melihat Elia. Elia berdoa hujan tidak turun, dia berdoa lagi hujan turun. Jadi melihat Elia artinya kita melihat curahan hujan berkat. Kita menyembah maka Tuhan curahkan hujan berkat kepada kita.

Yakobus 5:17-18

5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.

5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.

 

Mamzur 24:5

24:5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

 

Secara jasmani, daerah pegunungan curah hujannya lebih tinggi dari pada yang di bawah. Kalau kita naik gunung, hujan berkat dicurahkan kepada kita. Apa yang kita butuhkan Tuhan berikan. Berkat jasmani, terutama berkat rohani, semakin melimpah pembukaan Firman. Seperti dulu bangsa israel, roti manna dicurahkan kepada mereka.

 

Jadi, dari penyembahan kita mengalami kuasa keubahan hidup, kita ditolong ada kuasa menghapus kemustahilan dan ada berkat dicurahkan. Mari meningkat, setelah dibenarkan oleh darah Yesus, menjadi hamba kebenaran, disucikan oleh darah Yesus untuk menjadi penyembah-penyembah Tuhan.

 

c)      Ibrani 10:14

10:14  Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.

 

Hasilnya disempurnakan oleh darah pendamaian, Korban Kristus, kita menjadi Mempelai Wanita Tuhan yang sempurna.

II Petrus 3:14

3:14  Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.

 

Sudah menjadi hamba kebenaran, sudah sempurna, harus ada prosesnya lewat percikan darah, sengsara daging bersama Yesus tanpa dosa! Kita tidak salah tetapi dipersalahkan. Kita difitnah, digosipkan, dikucilkan, sampai mungkin penganiayaan secara fisik, itu proses untuk mencapai sempurna. Harus kita alami, tidak bisa kita mengelak! Jadi jangan heran sudah melayani, sudah menyembah, koq saya sengsara padahal tidak ada yang salah yang saya perbuat. Yah sudah, itu percikan darah, nikmati saja. Rasul Paulus katakan aku berupaya untuk memenuhi apa yang masih kurang dari penderitaan Yesus.

Kolose 1:24

1:24 Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.

 

Apa yang kurang dari penderitaan Yesus? Dia sudah rela difintah, diludahi, dipukuli, dicambuk, sampai disalibkan. Apa yang kurang waktu Yesus mati di kayu salib? Tubuh Kristus belum terwujud. Tugas kita sekarang menderita untuk dibangun menjadi Tubuh Kristus yang sempurna. Itu menggenapkan apa yang kurang dari penderitaan Kristus. Kita rela menderita, rela sengsara untuk dibangun menjadi Tubuh Kristus yang sempurna. Gereja belum sempurna, sementara diproses, prosesnya sakit bagi daging. Kita masuk di situ sampai selesai diproses, jangan cepat-cepat keluar, nikmati pengalaman sengsara.

 

Sikap kita bagaimana dalam pengalaman sengsara bersama Yesus? Bukan mengeluh, bukan bersungut-sungut, bukan saling mempersalahkan atau mempersalahkan Tuhan. Sikap kita belajar dari perjamuan suci.

Lukas 22:17,19

22:17 Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: "Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.

22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."

 

Yesus ambil cawan itu darahNya, Dia ambil roti itu tubuhNya, tetapi Dia mengucap syukur. Begitu juga kita, diizinkan difitnah, terima kasih Tuhan. Digosipkan, terima kasih Tuhan. Memang percikan darah itu sakit bagi daging. Kita tidak salah tetapi dipersalahkan, tinggal mengucap syukur, terima kasih Tuhan.

 

Dan Tuhan tidak meninggalkan kita. Tahun ini tahun penyertaan Tuhan, percikan darah semakin hebat tetapi Tuhan sertai dengan Roh KudusNya, Tuhan memberikan kekuatan.

I Petrus 4:12-14

4:12 Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.

4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

 

Kadangkala percikan darah bukan kita difitnah, digosipkan tetapi dalam bentuk kita tidak dipercaya sementara kita percaya orang itu, tetapi omongan kita tidak dianggap. Jangan-jangan orang itu sampai kita jadikan panutan, kita jadikan contoh untuk kita teladani, tetapi orang itu tidak percaya kita, bahkan terkesan seperti mempersalahkan kita. Itu percikan darah, nikmati, kita mengucap syukur.

 

Bisa jemaat, gembala ragu sama dia padahal dia jadikan gembala sebagai panutannya, tetapi gembala lebih mendengar omongan orang lain dari pada omongan dia, lebih percaya orang lain dari pada percaya dia. Itu percikan darah! Bukan berarti kita mundur dari penggembalaan karena gembala tidak peduli saya. Kami bersekutu, lalu hamba Tuhan itu seperti tidak mau dengar kita, hanya mau dengar yang lain. Bukan malah berhenti dari persekutuan, itu diizinkan terjadi seperti itu, Roh Kudus menyertai memberikan kebahagiaan kepada kita. Kita bisa kuat bertahan sampai garis akhir, sampai kita dipermuliakan bersama dengan Yesus.

 

Di depan ada perjamuan suci. Teladani Yesus, dalam perjamuan suci pertama Yesus mengucap syukur. Kita juga mau mengucap syukur, tidak mundur, tidak kecewa, tidak putus asa. Kita dibenarkan, disucikan dan disempurnakan.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar