20260516

Kebaktian Doa Penyembahan, Sabtu 16 Mei 2026 Pdt. Handri Otniel Legontu


Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Yohanes 16:1-4a

16:1 "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.

16:2 Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.

16:3 Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.

16:4a Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."

 

Kita diperhadapkan kebencian dari dunia yang semakin meningkat. Bahkan untuk beribadah melayani diperhadapkan dengan orang yang menghalangi bahkan dengan pembunuhan. Sekarang ini semakin banyak yang menghalangi orang beribadah, penutupan gereja, melarang orang beribadah, sampai secara fisik dianiaya. Itu semuanya diperhadapkan kepada gereja Tuhan.

II Timotius 3:12

3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

 

Ini adalah sengsara daging tanpa dosa atau percikan darah. Bagaimana sikap kita menghadapinya?

1.      Bertekun. Jadi bukan mundur, malah kita mengambil sikap untuk bertekun.

a)      Bertekun di dalam 3 macam ibadah pokok di mana kita bersekutu dengan Allah Tritunggal sehingga kita mengalami persekutuan dengan Allah Tritunggal.

1)      Meja roti sajian, ketekunan dalam ibadah pendalaman Alkitab dan perjamuan Suci. Kita bersekutu dengan Anak Allah di dalam Firman pengajaran yang benar dan korbannya, kita dapat kekuatan yang melimpah dari Firman.

2)      Pelita emas, ketekunan dalam ibadah raya. Kita bersekutu dengan Allah Roh Kudus di dalam urapan dan karunianya. Roh Kudus adalah roh penghibur, kita dihibur.

3)      Mezbah dupa emas, ketekunan dalam ibadah doa penyembahan. Kita bersekutu dengan Allah Bapa di dalam kasihNya. Kasih ini memberikan kemenangan bahkan menjadikan kita lebih dari pemenang.

 

Ketika diperhadapkan dengan sengsara daging tanpa dosa, jangan dikurangi ibadahnya. Tetap bertekun dalam 3 macam ibadah, tidak bisa dihalangi oleh apapun.

Roma 5:3-5

5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

 

Justru saat sengsara kita semakin bertekun. Kita tidak pernah kecewa karena kekuatan yang kita peroleh datangnya dari Tuhan. Kita dapat pertolongan dari Allah Tritunggal lewat ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok.

 

b)      Roma 5:3 (Terjemahan Lama)

5:3 Tetapi bukannya itu sahaja, melainkan juga kita bermegah-megah di dalam kesukaran, sebab mengetahui, bahwa kesukaran itu mendatangkan sabar,

 

Praktek bertekun yang kedua adalah sabar. Sabar menderita, sabar menunggu waktu Tuhan. Percikan darah atau sengsara daging tanpa dosa itu seperti hisop dicelup dalam darah. Kalau cuma dicelup sebentar, dia tidak bisa menghisap darah itu. Harus sabar ketika dicelup dalam darah. Dia isap darah anak domba Paskah kemudian darah itu disapukan di ambang atas pintu orang Israel dan di kanan kiri, sehingga rumah bangsa Israel luput dari malaikat maut, dari kematian anak sulung karena ada tanda darah. Tanda darah didapatkan dari ketekunan, kesabaran. Sabar menderita, sabar menunggu waktu Tuhan.

 

Apalagi kami hamba Tuhan mau cepat-cepat bangkit, tetapi hanya bangkit secara jasmani, sehingga tidak mau bertekun, tidak mau sabar. Kami menikmati Tuhan tempatkan melayani di Tonusu, sabar menderita, sabar menunggu waktu Tuhan, nikmati pengalaman sengsara itu, tekuni.

 

Yakobus 5:10-11

5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.

5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

 

Ingat Tuhan itu Maha Penyayang dan penuh belas kasihan. Tidak mungkin Dia biarkan kita menderita selamanya. Tuhan akan menolong tepat pada waktunya.

 

Kapan waktu Tuhan menolong? Saat sengsara sudah berada pada puncaknya dan kita betul-betul sudah tidak berdaya. Karena kalau masih berdaya, masih kuat, masih mengandalkan kekuatan. Ditekan sana sini, masih ada yang bisa menolong saya. Nanti ditekan, sudah tidak bisa berbuat apa-apa, saat itulah kita ditolong Tuhan. Seperti Ayub, tinggal kulit membungkus tulang, kulitnya lagi sakit, dia sudah tidak berdaya, di situ Tuhan menolong.

 

Ketekunan menghasilkan buah matang.

Yakobus 1:2-4

1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

 

Berbuah matang itu rohani kita matang. Bisa dinikmati oleh Tuhan, bisa memuaskan Tuhan. Nikmati pengalaman sengsara, jangan mau cepat-cepat. Seperti kalau kita tanam sesuatu, apalagi buah-buahan. Kalau lihat dia sudah berbuah jangan cepat-cepat dipetik, tunggu sampai dia matang. Kalau cepat dipetik masih asam. Tidak terlalu cepat, tepat waktu. Kalau sudah terlambat juga buahnya jadi busuk. Bersabar, tunggu waktu Tuhan sampai kita menghasilkan buah matang, rohani matang yang bisa dinikmati Tuhan. Kalau dimakan itu masuk dalam tubuh, berarti masuk Tubuh Kristus yang sempurna.

 

Penderitaan yang dialami hamba Tuhan pelayan Tuhan adalah bagian dari rencana Allah yang besar supaya kita menjadi sarana kasih karunia Tuhan untuk menjangkau lebih banyak jiwa.

II Korintus 4:15

4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

 

Mungkin keluarga kita belum percaya Yesus, atau sudah percaya tetapi belum meningkat pada ajaran yang sehat. Kita nikmati sengsara untuk menjangkau mereka, bisa dimenangkan dan dibawa kepada Yesus.

 

Menghadapi sengsara daging tanpa dosa sikap kita bertekun dan sabar. Tekuni 3 macam ibadah dan sabar menderita, sabar menunggu waktu Tuhan.

 

2.      Memelihara kasih Tuhan.

Mulai dari Yohanes 15:18-27 sampai pasal 16 Yesus berbiccara tentang kebencian yang akan dihadapi anak-anak Tuhan. Tetapi ayat sebelumnya bicara tentang kasih. Jadi kita harus memelihara kasih Tuhan dipraktekan kepada Tuhan dan kepada sesama.

a)      Kita mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, mau taat pada Firman Tuhan apapun resikonya. Semakin ditekan, semakin sengsara, semakin taat.

Yohanes 15:9-10

15:9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

 

Memelihara kasih itu dipraktekan dengan mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu yaitu taat pada Tuhan apapun yang kita hadapi. Semakin sengsara, semakin ditekan, semakin taat. Seperti rasul-rasul semakin ditekan mereka semakin taat.

Kisah Para Rasul 5:28-29

5:28 katanya: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." 

5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

 

Mereka semakin ditekan supaya jangan mengajar dengan nama Tuhan, bagi kita sekarang ditekan untuk jangan menerima pengajaran yang benar.

 

Kisah Para Rasul 4:18-21

4:18 Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus.

4:19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah.

4:20 Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar."

4:21 Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi.

 

Akhirnya nanti dilepaskan juga, jadi itu hanya untuk sementara saja. Mungkin mau masuk pengajaran ditekan oleh keluarga, mau dikeluarkan dari silsilah keluarga dan lain-lain. Tetapi itu hanya untuk sementara, akhirnya melepaskan juga. Biarlah kita sabar, sebab tidak selamanya. Jadi sengsara itu ada batas waktunya, tidak selamanya. Sidang jemaat Smirna sengsara selama 10 hari.

 

Tunggu waktu Tuhan, tetap taat pada Firman Tuhan apapun resiko yang dihadapi.

 

b)      Mengasihi sesama

Ada 3 tingkatan mengasihi sesama

1)      Matius 5:46-47

5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?

 

Ini tingkatan yang paling rendah yaitu mengasihi sesama yang mengasihi kita. Membalas kebaikan dengan kebaikan. Kalau suamiku baik, saya juga baik sama dia. Kalau isteriku baik, saya juga baik sama dia.

 

Ini tingkatan paling rendah. Kenapa? Sebab orang berdosa juga melakukan yang demikian. Dia jatuh bangun dalam dosa, dia bisa baik pada orang yang baik sama dia. Orang di luar Yesus juga melakukan ini. Banyak orang di luar Yesus yang baik.

 

2)      Markus 12:31

12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

 

Mengasihi sesama seperti diri sendiri. Yaitu apa yang kita inginkan sesama perbuat kepada kita, lakukanlah itu kepada sesama. Tidak ada orang yang mau disakiti, jadi kalau kita tidak mau disakiti, jangan sakiti orang lain. Tidak mau digosipkan, jangan gosipkan orang lain. Itu mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Matius 7:12

7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

 

Kita merasa sakit kalau dikata-katai dan dicerita orang, yah tidak usah mengata-ngatai dan cerita orang lain. Mulai dari dalam nikah rumah tangga, kalau tidak suka suami banting-banting pintu, isteri jangan begitu. Atau sebaliknya, kalau tidak mau isteri cerewet, suami jangan begitu. Apa yang kita inginkan sesama lakukan kepada kita, kita perbuat itu kepada sesama.

 

Kalau mengasihi sesama seperti diri sendiri, kita jadi punya rem, punya kontrol untuk bertindak. Berkepala dingin, berpengertian. Kalau saya bikin begini dampaknya apa? Tidak baik. Yah jangan diperbuat!

 

3)      Mengasihi musuh, orang yang memusuhi kita, bukan kita yang memusuhi dia.

Matius 5:43-44

5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

 

Mulai mendoakan yang baik, berdoa bagi orang yang menganiaya kamu. Sampai raja Daud berpuasa untuk orang yang menyakiti dia.

Matius 5:45-48

5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?

5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

 

Mengasihi sesama yang musuhi kita itu dikaitkan dengan matahari. Matahari menunjukan kasih Allah yang sempurna.

Mazmur 84:12

84:12 Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

 

Matahari bersinar untuk siapa saja. Mau orang baik, mau orang jahat semua menikmati sinar matahari.

 

Kalau kita sudah bisa mengasihi orang yang memusuhi kita, berarti kita sudah memiliki kasih matahari. Memang untuk melakukan itu betul-betul sengsara, sakit bagi daging kita, tetapi berupaya dilakukan. Sudah dibaiki, dia tetap tidak baik. Tetapi jangan jemu-jemu berbuat baik. Kalau ada berkat bagikan. Selalu berdoa supaya pekabar mempelai dimanapun dipakai oleh Tuhan.

 

Minimal berdoa yang baik bagi musuh. Kemudian ampuni, lupakan saja. Sampai kita bisa membalas kejahatan dengan kebaikan. Seperti matahari bersinar untuk orang jahat juga. Kalau kita bisa melakukan ini, biarpun kita dalam keadaan sengsara lalu bisa berbuat baik pada orang yang menyakiti kita, kita bisa berbahagia. Ada kebahagiaan yang sulit diterangkan dengan kata-kata, biar menjadi pengalaman praktek hidup kita masing-masing.

 

Pengalaman sengsara itu seperti mendung atau hujan. Kalau kita bisa mengasihi sampai mengasihi musuh, kita punya kasih matahari. Begitu mendung lalu ada matahari maka pasti ada pelangi. Jadi saat kita sengsara dan bisa mengasihi sesama sampai mengasihi musuh, kita akan mengalami pelangi kemuliaan. Jadi tidak usah takut, tidak usah ragu dalam mengikut Tuhan. Apapun sengsaranya, terus maju. Tetap praktekan dan pelihara kasih itu, ada pelangi kemuliaan.

Yehezkiel 1:28

1:28 Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.

 

Kepada Yehezkiel sudah dipertontonkan ada pelangi kemuliaan. Kenapa? Karena Yehezkiel diutus oleh Tuhan kepada kaum pemberontak. Menghadapi pemberontak mau menyampaikan kebenaran Firman, resikonya pasti luar biasa. Orang yang baik saja belum tentu bisa menerima kalau kesalahannya ditunjuk. Ini pemberontak, penjahat, mau ditunjuk kesalahannya, bisa mengamuk. Yehezkiel sudah siap dengan resikonya, makanya Tuhan pertontonkan ada pelangi kemuliaan.

 

Begitu juga rasul Yohanes, punya pengalaman seperti Yehezkiel melihat Sorga dan takhta Sorga. Yohanes dibuang ke Pulau Patmos, dia bisa melihat takhta Tuhan dan pelangi kasih Allah melingkupi takhta Sorga. Pelangi kasih Allah itulah Roh Kudus, ada roh kemuliaan menguasai kehidupan kita.

Wahyu 1:9; 4:3

1:9 Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.

4:3 Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.

 

Tahun ini tahun penyertaan Tuhan. Penyertaan Tuhan itulah Roh Kudus. Yesus berkata Aku tidak meninggalkan kamu yatim piatu, aku mengutus penolong, itu Roh Kudus. Dalam pengalaman sengsara ada pelangi kemuliaan. Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan kebahagiaan di tengah penderitaan. Dan memberikan semangat baru bagi kita bahwa sengsara yang kita alami di dunia ini akan menghentar kita ke takhta Sorga. Waktu sudah lemah, kita belajar untuk taat pada Firman, belajar memelihara kasih Tuhan itu. Roh Kudus yang membangkitkan semangat untuk kita bisa mencapai takhta Sorga.

Roma 8:17-18

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

 

Yesus duduk di takhta Sorga dan kita juga akan dibawa ke sana. Bertahan, bertekun, pelihara kasih Tuhan. Ada pelangi kasih Tuhan, ada Roh Kudus, Roh kemuliaan untuk menghentar kita sampai ke takhta Sorga. Sengsara yang kita alami di dunia ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang sudah Tuhan sediakan bagi kita. Dan sengsara kita akan Tuhan ganti dengan sukacita yang tidak terkatakan.

 

Kalau kita mau menikmati pengalaman salib itu, pengalaman sengsara, kita bisa bertekun dan memelihara kasih Tuhan, maka sekalipun kita hidup di dunia ini, tetapi bersuasana takhta Tuhan. Biarlah ini menjadi kekuatan bagi kita, membangkitkan semangat kita.

 

Mungkin ada yang sudah loyo, kalau begini saya mundur saja. Jangan! Terus maju sampai garis akhir kehidupan kita sekalian.

Ibrani 4:16

4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

 

Kita hidup di dunia tetapi dikatakan menghampiri takhta kasih karunia, sementara takhta Tuhan ada di Sorga. Kalimat ini menunjukan bahwa kita hidup di dunia tetapi bersuasana takhta Sorga. Dibalik awan mendung hujan, ada pelangi kemuliaan. Biar kita kuat, terus bertahan sampai mencapai takhta Sorga.

 

GPT “Kristus Penebus”

Jl. Langgadopi No.4 Tentena

Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663

HP: 081334496911

Email: imamat_raja@yahoo.com

www.gptkp.blogspot.com

Tuhan Memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar