20260510

Kebaktian Umum, Minggu 10 Mei 2026 Pdt. Handri Otniel Legontu


Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Wahyu 16:3

16:3 Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.

 

Malapetaka kedua air laut menjadi darah seperti darah orang mati. Jadi malapetaka kedua ini adalah hukuman bagi orang yang mati rohaninya.

 

Wahyu 17:1,15

17:1 Lalu datanglah seorang dari ketujuh malaikat, yang membawa ketujuh cawan itu dan berkata kepadaku: "Mari ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu putusan atas pelacur besar, yang duduk di tempat yang banyak airnya.

17:15 Lalu ia berkata kepadaku: "Semua air yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa.

 

Air laut menunjuk bangsa-bangsa, rakyat banyak dan kaum dan bahasa = pergaulan di dunia. Kita memang hidup di dunia ini, tetapi jaga jangan sampai kita terjerumus ke dalam pergaulan dunia yang membawa kita kepada kematian rohani. Mulai dari hamba Tuhan pelayan Tuhan, itu yang diincar oleh setan. Dia mau membawa kita bergaul dengan dunia. Tandanya apa bersahabat dan bergaul dengan dunia? Mulai tidak setia. Kalau terus dibiarkan maka rohani itu akan mati.

Yakobus 4:4

4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

 

Jangan sampai kita memposisikan diri sebagai musuh Tuhan karena tidak setia. Orang tidak setia itu sama dengan orang berzinah!

Yakobus 4:4 (Terjemahan Lama)

4:4 Hai kamu yang disifatkan seperti orang berzinah, tiadakah kamu ketahui bahwa persahabatan dengan dunia ini, ialah perseteruan dengan Allah? Sebab itu barangsiapa yang mau bersahabat dengan dunia ini, ia itulah menjadi seteru Allah.

 

Sebelum Tuhan menghukum, masih diberikan kesempatan supaya lepas dari pergaulan dunia. Dari air laut yang banyak, diambil sedikit untuk diproses menjadi garam dunia. Dari pada kita masuk dalam hukuman, lebih baik kita mau diproses menjadi garam dunia.  

Matius 5:13

5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

 

Kita bergaul di dunia bukan malah bersahabat dengan dunia tetapi harus menjadi garam dunia. Artinya menjadi berkat dan kesaksian di manapun kita berada. Garam itu memberi rasa enak dan mencegah kebusukan. Kita hidup bermasyarakat di dunia bukan ikut busuk dengan dunia ini tetapi mencegah kebusukan, kita memberi rasa enak. Apalagi pelayan Tuhan dan hamba Tuhan, di gereja kita berikan rasa enak, rasa nyaman bagi orang yang datang. Jangan orang jadi takut datang gereja karena melihat sikap dan perilaku kita! Sebagai hamba Tuhan, pelayan Tuhan, mari menjadi garam dunia, memberi rasa enak di manapun kita berada, mencegah kebusukan di manapun kita berada.

 

Bagaimana caranya supaya bisa menjadi garam dunia?

1.      Harus berdamai

Markus 9:49-50

9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.

9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

 

Mau menjadi garam dunia harus berdamai dengan Tuhan dan dengan sesama. Tidak ada permusuhan dengan Tuhan dan sesama. Kalau tidak ada perdamaian kita busuk di situ. Kalau hamba Tuhan hanya menghasut jemaat, hanya bergosip dan lain-lain itu bukan mencegah kebusukan, malah dia menjadi penyebab kebusukan. Mari kita berdamai, tidak ada kepahitan, iri, benci, dengki kepada sesama. Yang membuat tidak damai itu dosa. Dosa ini yang membuat kita bermusuhan dengan Tuhan dan dengan sesama. Harus diperdamaikan!

Yesaya 59:1-2

59:1 Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;

59:2 tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

 

Proses berdamai:

a)      Harus mendengar Firman pengajaran yang keras menyucikan. Karena seringkali kita tidak tahu yang kita lakukan itu salah, yang kita lakukan itu dosa. Harus dengar Firman supaya tahu bahwa itu salah. Dengar Firman yang keras menyucikan menyatakan salah kita. Bukan hanya dengar pemberita yang menyampaikan lawak-lawak, dongeng dan sebagainya. Kadangkala di sekolah yang disampaikan bukan Firman Tuhan, malah bercerita yang lain. Kasihan anak sekolah minggu sudah tidak diajari Firman. Makanya dosa tidak diperdamaikan, kian membusuk! Tubuh Kristus kian membusuk karena dosa-dosa menggerogoti. Dosa itu penyakit kanker yang menjalar yang menggorogoti tubuh Kristus.

 

b)      Menyadari dan menyesali dosa hasil pekerjaan Firman. Kita dengar Firman yang menyatakan dosa kita sadar, sesudah itu menyesal. Seperti Petrus mendengar kokok ayam, dia sadar dan menyesal. Beda dengan Yudas, sudah dengar Firman yang menyatakan dosa tetapi tidak sadar-sadar, malah mengelak dari Firman ‘bukan aku’.

Yesaya 28:15

28:15 Karena kamu telah berkata: "Kami telah mengikat perjanjian dengan maut, dan dengan dunia maut kami telah mengadakan persetujuan; biarpun cemeti berdesik-desik dengan kerasnya, kami tidak akan kena; sebab kami telah membuat bohong sebagai perlindungan kami, dan dalam dusta kami menyembunyikan diri,"

 

Ini seperti Yudas bersembunyi di dalam dusta. Bukan aku, bukan aku. Padahal Firman sudah keras ‘lebih baik orang itu tidak dilahirkan’ tetapi Yudas berkata bukan aku ya Rabi. Sikap seperti ini tidak akan pernah menjadi garam dunia, dia hanya membawa bau busuk.  Karena dia menolak Firman, nanti dia menghasut orang untuk menolak Firman.

 

Matius 26:24-25

26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."

26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

 

Hati-hati, jangan sampai karena kita menolak Firman, akhirnya kita membusukan Firman. Yang disalahkan Firman. Tidak senang dengan seseorang, ajarannya dia lawan.

 

c)      Mengaku dosa kepada Tuhan dan sesama, setelah diampuni, jangan diperbuat lagi. Yudas sempat menyesali dosanya. Ketika melihat Yesus dijatuhi hukuman mati dia menyesal ‘aku telah menyerahkan orang yang tidak bersalah’. Tetapi dia tidak mau mengaku, dia lebih memilih menggantung diri. Banyak orang Kristen seperti Yudas, mendengar Firman dia menyesal, apalagi kalau diperhadapkan suatu peristiwa yang memilukan, yang menyakitkan, tetapi untuk menyelesaikan dosa dia gengsi. Sudah bukan mengaku dosa tetapi malah menambah dosa! Jangan kita seperti itu.

 

d)      Bisa mengampuni dan melupakan dosa orang lain. Kita sudah diampuni Tuhan, diampuni orang lain, kita juga belajar mengampuni dan melupakan dosa orang lain.

 

Kalau sudah berdamai baru bisa dibangun, baru bisa dipakai dalam pembangunan Tubuh Kristus. Kenapa bukan di zaman Daud dibangun Bait Allah? Karena di zaman Daud perang terus. Nanti di zaman Salomo damai baru bisa membangun Bait Allah.

 

Jangan coba-coba melayani tanpa damai sejahtera, kita bukan menjadi garam yang memberi rasa enak di situ, malah membawa kebusukan di situ.  Membangun Tubuh Kristus tetapi malah membawa kebusukan di situ.

Roma 14:19

14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

 

Kalau damai baru bisa dibangun. Sudah berdamai dengan Tuhan dan sesama baru dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus.

a)      Pembangunan Tubuh Kristus dimulai dari nikah. Jadi berdamai mulai dari dalam nikah. Isi nikah dengan roh perdamaian sekalipun kita disakiti. Orang tua yang paling menyakiti malah anak-anaknya. Anak-anak perhatikan, waktu masih kecil bersama orang tua, dibesarkan, dididik, bisa disekolahkan. Begitu sudah berhasil jangan justru orang tua disakiti. Seringkali yang membuat sulit diingatkan adalah masalah jodoh. Tetapi orang tua jangan ada pahit hati, berdoa saja supaya Tuhan jamah hatinya suatu saat bisa kembali.

 

Isi nikah dengan roh perdamaian. Kalau ada roh perdamaian di situ, Tuhan perintahkan berkat-berkat datang kepada kita.

Mazmur 133:1-3

133:1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

133:2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.

133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

 

Sesakit apapun berusaha berdamai dan lupakan. Kita ampuni dan lupakan. Dia akan menuai akibatnya, kita menuai berkat. Tetapi optimislah seperti bapa dari si sulung dan si bungsu. Si bungsu sudah begitu menyakiti hati orang tua. Papanya masih hidup dia sudah minta warisan, tinggalkan bapanya bekerja sendiri. Memang enak dia kelihatan di sana tetapi hanya untuk sementara! Tetapi nanti akan berakhir di ladang babi. Sebagai orang tua tinggal buka tangan untuk dia kembali. Bukan malah marah sejak kau keluar dari rumah namamu sudah tercoret dari kartu keluarga! Tinggal tunggu waktu, dia sudah dalam keadaan setengah mati baru dia bisa kembali. Ada cara Tuhan, jangan putus kekeluargaan, digumuli, tambah doa puasa. Kejar apa yang memberi damai sejahtera. Tuhan akan perintahkan berkat datang kepada kita.

 

Kalau damai tidak ada dalam rumah tangga, apa yang datang? Bukan berkat.

Amsal 17:14; 27:4

17:14 Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.

27:4 Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu?

 

Air bah yang datang!

Amsal 17:14; 27:4 (Terjemahan Lama)

17:14 Permulaan perkelahian itu seumpama air tiris, sebab itu tinggalkanlah akan perbantahan dahulu dari pada ia menjadi air bah yang bergelora.

27:4 Bahwa bengislah adanya nyala-nyala amarah, dan murka itu seperti air bah yang meliput, tetapi cemburuan, siapa gerangan dapat menahankan dia?

 

Siapa orang tua tidak murka kalau anak tidak tahu berterima kasih. Pasti murka menyala-nyala, tetapi ingat, murka itu seperti air bah. Sakit sekali hati diperlakukan seperti itu, tetapi kalau ikuti murka, menyala-nyala emosi daging kita, air bah datang, kita yang rugi. Termasuk saya gembala, kaum muda perlakukan seperti itu rasanya mau menyala, terlalu, sudah didoakan, sudah minta nasihat tidak didengar. tetapi kalau murka menyala-nyala, air bah yang datang. Saya tidak mau! Rugi.

 

Kalau air bah datang apa yang sudah kita kumpulkan, yang kita bangun selama ini habis! Lebih baik kejar apa yang mendatangkan damai sejahtera.

 

b)      Dalam penggembalaan

Kisah Para Rasul 9:31

9:31 Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.

 

Kalau dalam penggembalaan berdamai, jiwa-jiwa bertambah. Kalau gembala saja tidak mau berdamai bagaimana Tuhan mau kirim berkat. Biarlah dalam penggembalaan isi dengan perdamaian. Kalau ada pertengkaran dan perselisihan segera selesaikan supaya kita dipakai menjadi saksi, rohani kita bertumbuh, jiwa-jiwa juga boleh bertumbuh.

 

c)      Persekutuan antara penggembalaan.

Bangun persekutuan dengan roh perdamaian. Jangan pengelompokan-pengelompokan. Ada kelompok A, kelompok B, kelompok C lalu saling serang. Kalau kita diserang kita diam, jangan kita yang menyerang. Itu antara penggembalaan, dibangun damainya, dirangkul. Tetapi kalau ajaran sudah berbeda yah tidak fellowship. Tetapi jangan ada permusuhan. Tuhan mengajar kita untuk berdamai bukan bermusuhan. Dia mati untuk merobohkan tembok pemisah yaitu perseteruan, koq kita malah membangun, semakin ada jarak.

 

Yang mau ikuti persekutuan ayo jadi garam dunia, bawa damai. Bangun damai sejahtera untuk memuncak Israel dan kafir bisa menjadi satu.

 

d)      Efesus 2:14-18

2:14 Karena Ia sendiri menjadi perdamaian kita, yang menjadikan dua pihak itu satu dan merobohkan dinding penyekat yang di tengah, yaitu perseteruan itu, dengan menyerahkan tubuh-Nya,

2:15 sesudah dilenyapkan-Nya hukum Taurat dengan segala syariatnya, supaya dijadikannya di dalam diri-Nya kedua pihak itu satu manusia yang baharu dengan mengadakan perdamaian,

2:16 supaya boleh memperdamaikan keduanya itu menjadi satu tubuh kepada Allah oleh sebab salib itu, dengan melenyapkan perseteruan di situ.

2:17 Maka datanglah Ia memberitakan kabar kesukaan dari hal perdamaian kepada kamu yang jauh, dan perdamaian kepada orang yang dekat,

2:18 karena oleh sebab Dia kita kedua pihak itu dapat menghampiri Bapa dengan Roh yang satu itu.

 

Biar kita isi hidup kita dengan roh damai sejahtera, kita dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus mulai dari dalam nikah, penggembalaan, antara penggembalaan, sampai Israel dan kafir menjadi satu Tubuh Kristus.

 

Sikap kita terhadap damai.

I Petrus 3:10-12

3:10 Karena: Orang yang suka akan hidup, dan beroleh masa yang baik hendaklah ia menahan lidahnya daripada mengatakan yang jahat, dan bibirnya supaya jangan mengatakan barang tipu daya;

3:11 dan hendaklah ia menyimpang daripada kejahatan, lalu berbuat baik; hendaklah ia mencari perdamaian dan menuntut dia;

3:12 karena pemandangan Tuhan itu di atas orang yang benar, dan pendengaran-Nya di atas permintaan mereka itu, tetapi penglihatan Tuhan menentang orang yang berbuat jahat.

 

Sikap kita mencari perdamaian dan berusaha untuk mendapatkannya, bukan cari-cari soal! Apalagi kalau kita yang salah, yah datang minta ampun.

 

Awal kami menikah bannyak kali terjadi pergesekan. Saya salah, berusaha mencari dan mendapatkan. Supaya kita bisa melihat hari-hari baik! Dibalik, kalau selalu bikin kisruh, bikin kacau, bikin rusuh, hari-harinya buruk, masa depannya suram. Dia pilih jalan seperti itu, tinggalkan keluarga, nanti dia yang setengah mati.

 

Mengapa harus berusaha mencari dan mendapatkan damai?

a)      Wahyu 6:4

6:4 Dan keluar pula seekor kuda lain, yang merah menyala; maka kepada orang yang duduk di atasnya itu dikaruniakan kuasa mengambil perdamaian dari bumi sehingga orang berbunuh-bunuhan; dan sebilah pedang yang besar dikaruniakanlah kepadanya.

 

Karena akan terjadi kegerakan kuda merah padam, damai sejahtera diambil dari bumi, sehingga manusia saling membunuh. Dan sekarang ini mulai terasa kegerakan kuda merah padam ini, dimana-mana terjadi peperangan, di mana-mana terjadi pertengkaran dalam nikah, dalam penggembalaan, antara penggembalaan.

 

Sekarang Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mengejar dan mendapatkan damai sejahtera. Masih ada kesempatan, manfaatkan waktu yang Tuhan berikan. Jangan tunda-tunda waktu, kalau damai sudah diambil baru  mau berdamai sudah tidak bisa! Kalau dari sekarang ada rasa benci, tidak suka dan tidak diselesaikan, maka saat kegerakan kuda merah padam, akan terjadi kebencian sampai bisa membunuh. Lebih baik diselesaikan, jangan tunggu kegerakan kuda merah padam ini sudah terjadi.

 

b)      Matius 5:23-24

5:23 Sebab itu, jikalau engkau hendak mempersembahkan persembahanmu di tempat korban, dan di sana engkau teringat, bahwa saudaramu ada sakit hati kepadamu,

5:24 maka tinggalkanlah persembahanmu pada tempat korban itu, baliklah engkau berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembalilah pula mempersembahkan persembahanmu.

 

Kalau kamu mempersembahkan sesuatu, artinya beribadah melayani, berdamai dulu supaya pelayanan diterima. Jadi mengapa harus berusaha dan mendapatkan damai? Karena orang yang tidak mau berdamai, ibadah pelayanannya tidak diterima Tuhan. Dan dia juga ditolak oleh Tuhan. Jangan sampai kita sudah beribadah melayani Tuhan, sudah korban segala-galanya, tetapi karena tidak ada roh damai sejahtera, Tuhan tolak!

Matius 7:21-23

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

 

Ingat Kain, ditolak persembahannya, ditolak juga pribadinya, dia diusir dari hadapan Tuhan.

 

Jadi berdamai dulu, baru beribadah melayani Tuhan dan tetap jaga roh perdamaian.

 

Berdamai itu tanda bahwa kita sedang dipulihkan Tuhan.

Hosea 14:5-7

14:5 Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka.

14:6 Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar.

14:7 Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon.

 

Orang yang berdamai itu bagaikan pohon Zaitun yang ranting-rantingnya merambak. Jadi bukan hanya pendek, tetapi ranting-rantingnya bisa membesar. Pohon zaitun apalagi daun zaitun ada kaitan dengan damai. Ingat waktu Nuh mau keluar dari bahtera, dia lepas burung merpati dan burung merpati kembali dengan membawa daun zaitun. Berarti air sudah surut, murka Tuhan sudah surut, Nuh bisa keluar dari Bahtera.

 

Mari kita isi hidup kita dengan roh perdamaian. Roh perdamaian terus merambak dari nikah, dalam penggembalaan, antara penggembalaan sampai Israel dan kafir menjadi satu, maka kita bisa dipulihkan. Kata pulih berarti kembali pada keadaan semula. Apa keadaan semula manusia? Segambar dengan Allah Tritunggal. Waktu Tuhan menciptakan manusia, manusia itu segambar dengan Allah Tritunggal. Jadi berdamai ini membawa kita kembali pada gambar Allah Tritunggal, menjadi ciptaan semula, gereja yang sempurna, Tubuh kristus yang sempurna. Ayo kita isi hidup kita dengan roh perdamaian. Berusaha untuk mengejar dan mendapatkan damai.

 

Kapan waktu berdamai?

Matius 5:25-26

5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

 

Jadi waktu berdamai saat kita di tengah jalan. Artinya sebelum kita mencapai garis akhir. Garis akhir manusia itu ada 2 yaitu hidup sampai Yesus datang atau meninggal dunia. Kita tidak tahu kapan garis akhir hidup kita, itu sebabnya segera berdamai. Tidak ada yang bisa meramal, saya nanti bulan-bulan sekian dipanggil Tuhan.

 

Kalau Firman sudah menunjuk salah kita, segera berdamai, jangan tunda-tunda! Jangan berkata saya tahu saya salah tetapi kali ini saya mau dia dulu yang mengaku. Begitu tunggu-tunggu, eh garis akhirnya sudah tiba.

 

Kalau tidak mau berdamai, Tuhan itu menjadi lawan kita di tengah jalan! Kalau setan yang menjadi musuh kita, ada Tuhan yang membela. Kalau Tuhan yang menjadi musuh kita, siapa yang mau bela? Makanya semuanya menjadi susah sulit. Nikahnya susah, pekerjaanya susah, pelayanannya susah, semua berat. Adam dan Hawa diberi kesempatan berdamai tetapi tidak mau, kutukan yang datang. Tuhan bertanya pada Adam, apa yang kau perbuat. Harusnya ampuni saya salah! Tetapi malah dia berkata perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dia salahkan isterinya, Tuhan juga dipersalahkan. Tidak mau berdamai malah orang disalahkan, Tuhan disalahkan. Terkutuklah tanah karena engkau, dengan berkeringat engkau mencari resekimu tetapi duri yang dihasilkan. Perempuan lagi ditanya, apa yang kau perbuat. Bukannya berkata ‘minta ampun Tuhan, saya sudah salah’. Tetapi dia berkata setan, ular ini yang memperdaya aku. Karena tidak berdamai maka kutukan datang, maka engkau akan Ku buat susah saat bersalin.

 

Kalau tidak mau berdamai kutukan yang datang, Tuhan jadi lawan. Kalau Tuhan menjadi lawan kita, siapa yang mau menolong!

 

2.      Markus 9:49

9:49  Karena setiap orang akan digarami dengan api.

 

Harus mengalami pekerjaan api Tuhan. Ada 2 macam api Tuhan:

a)      Api Firman, Roh Kudus dan kasih dalam penggembalaan. Kalau mau menjadi garam dunia tekuni 3 macam ibadah pokok.

1)      Meja roti sajian, di situ ada kemenyan yang dibakar di atas roti. Kita bertekun dalam ibadah pendalaman Alkitab dan Perjamuan suci, kita dibakar oleh api Firman.

2)      Pelita emas, ketekunan dalam ibadah raya, kita dibakar oleh api Roh Kudus.

3)      Mezbah dupa emas, ketekunan dalam ibadah doa penyembahan, kita dibakar oleh api kasih Allah.

 

Daging dibakar menjadi persembahan yang harum. Dibakar dalam arti disucikan.

Ibrani 12:14

12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

 

Sesudah berdamai, lanjutkan penyucian oleh api Firman, Roh Kudus dan kasih di dalam penggembalaan. Ayo tergembala, tekuni 3 macam ibadah pokok. Daging ini kalau tidak dibakar, busuk! Hanya membawa bau amis di mana-mana. Sebab itu harus dibakar api Firman, Roh Kudus dan kasih di dalam penggembalaan. Memang sakit bagi daging, tetapi harus dibakar. Datang di sini bukan untuk dengar dongeng-dongeng, lawak-lawak yang lucu-lucu, tetapi dengar Firman yang keras, dibakar, supaya berbau harum. Nikmati proses dibakar. Kalau cepat-cepat keluar, nanti belum matang.

 

b)      I Petrus 4:12-14

4:12 Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.

4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

 

Api ujian = nyala api siksaan, sengsara tanpa dosa. Kita tidak bersalah tetapi kita difitnah, digosipkan, dikucilkan, dijauhi dan lain sebagainya. Nikmati proses terakhir ini, ini untuk mematangkan rohani kita. Kalau kita tahan dalam api penyucian Firman, Roh Kudus dan kasih Tuhan, pasti tahan menghadapi api ujian. Kenapa ada orang sudah kelihatan tergembala tetapi menghadapi api ujian dia mundur? Karena dia sekedar datang saja dalam ibadah, tetapi tidak mengalami pekerjaan penyucian api Firman, Roh Kudus dan kasih Tuhan dalam hidupnya. Begitu menghadapi api ujian dia cepat sekali mundur, tinggalkan Tuhan, tinggalkan pengajaran yang benar, menjadi garam yang hambar.

 

Kalau tidak mau menerima api penyucian, api Firman, api Roh Kudus dan api kasih Allah, dia pasti menjadi garam yang hambar. Prakteknya:

1)      Tawar hati.

II Korintus 4:1

4:1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

 

Tawar hati, kecewa, putus asa, sampai akhirnya tinggalkan persekutuan nikah, persekutuan dalam penggembalaan, persetutuan antara penggembalaan. Karena tidak mau disucikan di dalam penggembalaan. Api Firman, api Roh Kudus dan api kasih Allah selalu ditolak. Hanya sekedar beribadah tetapi tidak merasa apa-apa. Begitu dihadapkan ujian dan tantangan, langsung tawar hati, kecewa, putus asa sampai meninggalkan persekutuan yang benar, meninggalkan nikah, meninggalkan penggembalaan, meninggalkan persekutuan antara penggembalaan.

 

Banyak pergumulan dan tantangan yang kita hadapi. Betul-betul Firman itu hidup, tahun ini diberi nama tahun penyertaan Tuhan, akan menghadapi banyak tantangan dan betul-betul kita diperhadapkan tantangan yang hebat. Tetapi kalau  api penyucian kita terima, pasti bertahan menghadapi api ujian. Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego bertahan menghadapi api ujian, sekalipun dipanaskan 7 kali lipat.

 

2)      Perbuatannya hambar, seperti isteri Lot yang menoleh ke belakang, menjadi tiang garam. Menoleh ke belakang berarti kembali pada hidup lama dan lebih jahat dari semula, lebih najis dari semula. Itu kalau tidak disucikan oleh api Firman, Roh Kudus dan kasih Allah. Isteri Lot menjadi tiang garam, gambar yang hambar, tidak bisa dipakai.

 

3)      Perkataannya tawar, hambar

Kolose 4:6

4:6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

 

Perkataannya tawar, hanya membuat hati orang menjadi tawar, hanya menyandung. Perkataan sia-sia, perkataan yang bukan membangun. Dalam nikah berkata, buat apa ibadah-ibadah, tidak usah ke geraja, di rumah saja baca Alkitab. Itu perkataan hambar! Apa kamu ikut persekutuan, cuma buang-buang biaya, tidak ada hasilnya, itu semua perkataan hambar. Biar kita disucikan, jangan menjadi garam hambar.

 

Nyala api ujian memang sakit bagi daging, tetapi Tuhan tidak meninggalkan kita. Tahun ini tahun penyertaan Tuhan, memang akan bertambah besar nyala api ujiannya, tetapi ada api kemuliaan dari Tuhan.

I Petrus 4:14

4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

 

Ada api kemuliaan Tuhan berikan kepada kita. Bagi orang yang tidak mau disucikan, api ujian dia rasa hanya menghancurkan hidupnya. Tetapi bagi orang yang mau disucikan, api ujian mendatangkan api kemuliaan. Jadi kita tidak mundur, tidak kecewa, karena ada api kemuliaan.

 

Titus 1:15

1:15 Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.

 

Bagi yang tahan penyucian, semua suci. Api ujian datang kita tahu ini untuk menyucikan, sehingga kita tidak mengomel. Tetapi orang yang tidak mau disucikan, semua itu tidak berguna, bahkan ibadah dianggap sesuatu yang najis.

 

Kalau kita mau disucikan, api kemuliaan Tuhan turun kepada kita sekalian. Sekarang masa penantian pencurahan Roh Kudus, biar api kemuliaan itu betul-betul menguasai kehidupan kita, terasa dalam hidup kita. Semakin besar nyala api ujian, semakin besar juga nyala api kemuliaannya.

 

Kegunaan api kemuliaan Tuhan. Kita belajar dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi api yang dipanaskan 7 kali lipat, sengsara yang kian besar, nyala api kian hebat. Mereka bertahan dan mengalami api kemuliaan.

1)      Daniel 3:24-25

3:24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!"

3:25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!"

 

Kegunaan Roh Kemuliaan membuat kita berjalan bebas di tengah api. Artinya menghapus kemustahilan! Mana ada orang bisa berjalan bebas di dalam api, mustahil! Belum kena apinya, asapnya sudah bikin batuk, sesak nafas. Ini api kemuliaan, menghapus kemustahilan. Ujiannya semakin hebat bahkan mustahil bagi manusia, tetapi roh kemuliaan menghapus kemustahilan. Semoga kita kuat bertahan, ada nyala api Firman, Roh Kudus dan kasih sudah kita terima, jangan menghindar dari nyala api ujian, Roh Kemuliaan ada pada kita, api kemuliaan ada pada kita.

 

2)      Daniel 3:28-29

3:28 Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.

3:29 Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."

 

Melihat apa yang terjadi pada Sadrakh, Mesakh dan Abednego membuat Nebukadnezar bisa memuji Allah Israel. Artinya kegunaan Roh Kemuliaan menjadikan kita terang kesaksian kepada orang-orang yang tidak kenal Yesus, tidak kenal Firman pengajaran. Jadi nyala ujian yang kita hadapi untuk kita bisa dipakai Tuhan menjangkau lebih banyak orang datang kepada pengajaran. Orang lain melihat kamu ini bisa tahan, kalau saya diperhadapkan di posisi ini tidak bisa tahan. Itu semua karena Firman pengajaran. Sehingga kita bisa menjangkau orang lain menerima pengajaran.

 

Jadi kalau sudah ditolong, jangan malu bersaksi. Saksikan pengalaman kita dengan Tuhan di dalam pengajaran ini, jangan malu. Kesaksian itu bagaikan kita mengumpulkan batu-batu kecil, sehingga menghadapi Goliat yang besar kita bisa menang. Kalau kita sudah ditolong Tuhan lewat Firman pengajaran lalu kita tidak mau saksikan, datang Goliat yang besar kita bisa lari, menghadapi pergumulan yang berat bisa mundur. Tetapi kalau ada pengalaman dengan Firman dan kita mau saksikan, kita punya batu-batu kecil untuk mengalahkan Goliat yang besar.

 

Jangan disimpan sendiri kesaksiannya. Tetapi saksikan yang sudah menang, jangan yang belum menang. Kadang saya dengar kesaksian, saya akan setia, eh setelah itu malah pergi. Makanya saksikan yang sudah menang.

 

3)      Daniel 3:30

3:30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

 

Api kemuliaan Tuhan meninggikan kita baik secara jasmani terutama secara rohani. Secara jasmani diangkat dari kemerosotan, dijadikan berhasil tepat pada waktunya. Secara rohani kita semakin disucikan, semakin dipakai, semakin diubahkan. Dan waktu Yesus datang kita diangkat ke awan-awan menyambut kedatangan Yesus.

 

Api ujian itu adalah nilai tambah bagi kita hamba Tuhan, pelayan Tuhan supaya semakin dipakai oleh Tuhan. Biarlah kita semua kuat bertahan jangan mundur. Biarlah kita menjadi garam dunia, mencegah kebusukan, memberi rasa enak, di manapun kita berada. Rasanya kalau kita tidak ada di situ, ada sesuatu yang hilang. Semoga kita semua menjadi garam yang asin. Ada api kemuliaan Tuhan, Roh Kudus, Roh Kemuliaan menguasai kita semua.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar