20260623

Kebaktian Doa Penyembahan, Sabtu 2 Mei 2026 Pdt. Handri Otniel Legontu


Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Yohanes 16:1-4a

16:1 "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.

16:2 Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.

16:3 Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.

16:4a Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."

 

Dalam terang Tabernakel, Yohanes pasal 16 ini terkena pada alat buli-buli emas berisi manna, isi dari Tabut Perjanjian. Ini merupakan pemuncakan dari meja roti sajian. Secara rohani meja roti sajian berarti persekutuan dengan Yesus Anak Allah di dalam Firman pengajaran yang benar. Persekutuan ini menghasilkan iman. Seperti roti ditaruh di meja, roti adalah Firman, meja adalah hati kita. Firman ditaruh dalam hati kita, itulah iman. Iman ini harus ditingkatkan sampai sempurna, itulah buli-buli emas berisi manna. Ini ada prosesnya, tidak langsung sempurna.

 

Langkah-langkah peningkatan iman sampai sempurna.

1.      Roma 10:17

10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

 

Mendengar Firman dalam urapan Roh Kudus sampai praktek Firman. Kita mendengar dalam urapan, urapan Roh Kudus ini yang membuat kita bisa mengerti, percaya sampai praktek Firman. Kalau dengan daging tidak bisa, bagi daging untuk praktekan Firman itu mustahil!

Roma 8:7

8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

 

Makanya dalam doa kita minta urapan Roh Kudus supaya Roh Kudus menolong kita bisa mengerti Firman, percaya yakin, sampai praktek Firman Tuhan.

 

2.      Lewat ujian iman.

Sudah praktek Firman, ada ujiannya. Seperti anak sekolah, ada teori, ada praktikumnya lalu ada ujiannya.

 

Ujian iman = sengsara daging tanpa dosa, menghasilkan iman bagaikan emas murni.

Ayub 23:10

23:10 Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.

 

Jangan kita marah sama Tuhan kalau diperhadapkan dengan ujian. Kita sudah menerima bekal Firman di awal tutup buka tahun bahwa tahun ini tahun penyertaan Tuhan, tetapi sengsaranya lebih hebat. Sengsara itulah ujian iman, ada yang sementara menghadapi, ada yang nanti baru menghadapi. Jangan heran, semua Tuhan izinkan supaya menghasilkan emas murni secara rohani.

 

Pengertian emas murni secara rohani:

a)      I Petrus 1:5-7

1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

 

Jadi emas murni itu adalah iman yang murni. Kadangkala imannya masih campur-campur, tidak murni. Percaya Yesus, tetapi masih berharap yang lain, itu belum murni! Apalagi kalau berharap pada kekuatan yang lain di luar Tuhan, itu bukan lagi iman! Betul-betul hanya berharap Tuhan, tidak ada lagi yang lain. Waktu dalam ujian berdoa supaya Tuhan menolong tetapi ingat bapak saya bisa tolong, tetangga saya baik sama saya bisa menolong, bos saya mungkin bisa tolong. Itu belum murni.

 

Makanya diperhadapkan dengan ujian supaya timbul iman yang murni seperti imannya Ayub.

Yakobus 5:10-11

5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.

5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

 

Bukti iman yang murni:

1)      Sabar dan tekun menderita karena Yesus dan sabar menunggu waktu Tuhan. Jadi tidak selamanya menderita, ada waktunya Tuhan. Kalau sudah waktunya, kita ditolong Tuhan. Tunggu waktunya Tuhan, bukan waktunya kita. Kadang kita tidak sabar menunggu waktu Tuhan, sampai berkata Tuhan ini ada atau tidak. Seperti bangsa Israel tidak sabar dengan Tuhan. Sudah ditolong di Mesir, kemudian sudah ditolong menyeberang laut Tebarau, cuma gara-gara tidak ada air, mereka bertanya ‘adakah Tuhan?’. Kadangkala kita begitu, lupa pertolongan Tuhan yang lalu-lalu, makanya diuji supaya sabar dan tekun.

Keluaran 17:7

17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

 

Di sini hanya persoalan air, di Mesir dan menyeberang laut Teberau itu persoalan hidup mati. Cuma masalah air mereka tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Kadang sudah dilewati ujian yang berat-berat, lalu cuma masalah sepeleh sudah tidak sabar, lupa waktu-waktu yang lalu sudah ditolong.

 

Karena pikiran kita sudah ditolong masalah yang berat, sudah lega, berarti sudah mau mulus-mulus di depan, tantangannya sudah selesai. Ternyata koq ada masalah lagi! Di situ mulai mereka bersungut dan bertengkar sampai berkata adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak. Betulkah ini pengajaran benar yang harus saya anut, padahal dulu karena pengajaran ditolong nikahnya, ditolong usahanya. Makanya perlu diuji supaya iman kita, iman yang murni!

 

2)      Ayub 42:5-6

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

 

Bukti kedua duduk dalam debu dan abu. Artinya merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan, mengaku hanya tanah liat yang banyak kekurangan dan kelemahan. Tanah itu kotor, tanah itu tempat hewan lewat dan buang kotoran. Mengaku banyak kelemahan dan kekurangan tetapi bukan untuk dipertahankan dan menjadi alasan untuk membenarkan diri, tetapi untuk diserahkan kepada Tuhan untuk diperbaiki.  

 

Kadangkala kekurangan kelemahan kita tersembunyi. Di depan orang kelihatan hebat, apalagi kalau gembala, kelihatan benar, kelihatan suci, kelihatan punya iman, dia menasihati orang, mendoakan orang, kuat ini bapak gembala, tenang dia, padahal ada kelemahan kekurangan yang tersembunyi. Begitu datang ujian, kelihatan! Apa itu kekurangan dan kelemahan? Kebenaran diri sendiri. Karena di hadapan orang dia sudah terlihat hebat, maka dia persoalkan di hadapan Tuhan. Tuhan saya sudah melayani, sudah berkorban, sudah setia, kenapa Tuhan saya sengsara. Pendeta itu, pelayan itu masuk tidak masuk tetapi hidupnya lebih enak dari saya. Saya yang masuk terus, hidup saya setengah mati. Itu kebenaran diri sendiri, muncul waktu ujian, waktu sengsara daging datang.

 

Ayub 32:1-2

32:1 Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.

32:2 Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,

 

Dia merasa lebih benar dari Tuhan, sampai hitung-hitungan dengan Tuhan. Saya ini sudah jauh perjalanan datang ibadah, saya ini sudah tinggalkan pekerjaan untuk ibadah, saya sudah korbankan study untuk ibadah, koq saya sengsara! Apalagi kalau tujuan kita mau ibadah, lalu diizinkan sengsara. Saya ini mau kegiatan rohani, koq begini! Di sini muncul kebenaran diri sendiri, tetapi bukan untuk kita pertahankan. Tetap kita mengaku hanya tanah liat, saya ini banyak kekurangan dan kelemahan, ampuni saya Tuhan.

 

Kebenaran diri sendiri yaitu kelemahan yang tersembunyi bisa dideteksi dari mulut.

Ayub 42:6

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

 

Banyak kali karena kebenaran diri sendiri, kita mengeluarkan perkataan yang teledor. Kalau begini, sudah capek melayani lalu menderita, ambil saja saya punya nyawa. Kalau hadapi masalah dalam nikah, saya sudah tidak mampu Tuhan, ambil jo saya punya isteri, ambil jo saya punya suami. Ini anak sudah susah dinasihati, ambil saja dia Tuhan. Atau berdoa ambil saja saya Tuhan, saya sudah setengah mati menghadapi isteri. Ini perkataan teledor dan saya akui pernah saya lakukan. Sampai berdoa saya ingin bahagia Tuhan, lupa kebahagiaan itu dari sengsara.

 

Maka perlu ujian iman supaya iman kita murni, sampai kita tidak teledor dalam kata-kata, sabar menunggu waktu Tuhan, sabar dalam penderitaan.

 

b)      Wahyu 3:18

3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

 

Bukan berarti Tuhan itu penjual emas. Emas murni yang dimaksud di sini adalah kekayaan Sorga. Karena sidang jemaat Laodekia secara jasmani kaya, tetapi Tuhan bilang mereka miskin, malang, melarat, buta dan telanjang, makanya Tuhan tawarkan kekayaan sorga.

 

Jadi lewat ujian iman kita dilepaskan dari ketergantungan pada kekayaan duniawi. Seumpama hartanya banyak, tetapi penyakitnya parah, sudah divonis usianya tinggal berapa bulan. Biar uangnya banyak sudah tidak bisa lagi minum obat atau bayar dokter ahli. Itu semua supaya kita lepas dari ketergantungan dari harta dunia.

 

Praktek bergantung pada harta duniawi:

1)      Lukas 12:15

12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

 

Tamak = kikir dan serakah. Kikir tidak bisa memberi untuk pekerjaan Tuhan dan sesama yang membutuhkan, serakah merampas milik orang lain dan juga milik Tuhan. Masalahku berat, tetapi tadi diumumkan siapa yang mau berkorban untuk ibadah persekutuan, kalau saya berkorban nanti tidak cukup. Itu masih bergantung pada kekayaan dunia. Dapat berkat yang pas dengan kebutuhannya, kalau keluarkan perpuluhan tidak cukup lagi kebutuhannya. Jadinya dipakai dulu, nanti baru keluarkan perpuluhan, akhirnya lupa. Itu masih bergantung pada kekayaan dunia.

 

2)      Lukas 12:19

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

 

Masuk dalam dosa makan minum dan bersenang-senang. Bersenang-senang di sini menunjuk dosa kawin mengawinkan dalam bentuk apapun. Sampai berbuat najis pada diri sendiri karena tontonan yang najis!

 

Inilah praktek bergantung pada harta duniawi, akibatnya:

Lukas 12:19-21

12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!

12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

 

Akibatnya miskin rohani di hadapan Tuhan dan binasa! Kalau kemiskinan jasmani masih bisa diatasi. Kalau kemiskinan rohani hanya untuk binasa.

 

Ujian datang supaya kita terlepas dari ketergantungan pada kekayaan duniawi dan kita menjadi kaya secara rohani. Jadi jangan bersungut sebab kita diperkaya. Kita periksa saya ini sudah kaya rohani atau ternyata miskin.

II Korintus 8:1-4

8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.

8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.

8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.

 

Ukuran kekayaan adalah bisa memberi untuk pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Memberi bukan hanya sebatas harta, bisa memberi tenaga, memberi waktu, menyumbangkan pikirannya, sampai memberi seluruh hidup.

II Korintus 8:5

8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.

 

Jadi kita diuji dengan ujian iman sampai kita bisa memberi hidup, menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Sampai kita bisa berkata terserah engkau Tuhan. Kita tidak bergantung pada kekayaan dunia tetapi kaya secara rohani. Bisa memberi untuk pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, sampai bisa memberi seluruh hidup kepada Tuhan. Apapun yang terjadi kita bisa berkata terserah Engkau Tuhan, kehendakMu yang jadi, bukan kehendakKu. Itulah orang yang kaya rohani.

 

Kalau dalam pelayanan disuruh korban ini, sementara kita butuh tetapi kita serahkan kepada Tuhan. Banyak kali saya butuh ini, tetapi untuk pekerjaan Tuhan lebih banyak lagi kebutuhannya, yah dikorbankan. Tuhan sanggup mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang mustahil menjadi tidak mustahil.

 

c)      II Korintus 4:16-17

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

 

Emas itu logam mulia. Jadi pengertian emas rohani yang ketiga adalah kemuliaan Sorga = tabiat rohani. Saat ujian tabiat daging disingkirkan, tabiat rohani muncul. Bagaikan pohon penaga ada getahnya, getahnya dibuang supaya muncul tabiat Ilahi, disalut dengan emas.

 

Kita periksa, apakah kita sudah memiliki tabiat rohani, tabiat Ilahi? Paling sedikit kita harus memiliki 3 tabiat rohani, ini bagaikan emas murni.

I Petrus 3:3-6

3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,

3:4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

3:5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,

3:6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

 

Ini sudah berulang kali kita dengar supaya betul-betul kita punya perhiasan ini. Pertama kali dengar belum punya. Diulang lagi, hampir punya. Diulang lagi, sampai punya.

1)      Lemah lembut

Ada 2 pengertian lemah lembut:

Ø  Kemampuan menerima Firman sekeras apapun = menikmati Firman.

Yakobus 1:21

1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

 

Saat kita dalam ujian iman, justru di situ kita bisa menikmati Firman. Kadangkala masih mulus, lancar, seperti jalan tol, dengar Firman hanya sekedar. Kalau diperiksa catatannya lengkap, tetapi hanya sebatas pendengar saja, tidak terasa apa-apa di hati. Tetapi begitu datang ujian iman, Firman yang sama dia dengar bisa dia nikmati. Puji Tuhan, saya dihibur, dikuatkan, saya ditunjuk kelemahan saya. Padahal dulu sudah di dengar tetapi hanya sekedar saja. Bahkan mungkin sudah 2 3 kali dia dengar. Begitu masuk dalam ujian, dia bisa menikmati Firman. Firman itu menjadi huruf-huruf yang hidup.

 

Biasanya dengar Firman sudah bosan, mulai ngantuk, rasanya terlalu lama. Waktu dalam ujian, sudah ayat terakhir, eh dia masih mau tambah. Itu berarti sudah memiliki perhiasan lemah lembut. Periksa bagaimana waktu mendengar Firman? Kalau santai-santai saja, Tuhan berikan ujian supaya dia bisa menikmati Firman.

 

Ø  Kemampuan untuk menerima sesama dengan kelebihannya yaitu tidak iri tetapi bisa meneladani. Ada kelebihan dalam pelayanan, bukan malah yang melihat jadi iri dan mau menjegal dan menjatuhkan.

 

Ø  Menerima sesama dengan kekurangannya. Sesamanya mulutnya terlalu cerewet, itu isterinya sendiri. Yah ampuni, lupakan dosanya dan doakan. Tetapi kekurangannya tambah jadi-jadi, tambah doa puasa supaya Tuhan yang mengubahkan! Apalagi kalau sesama dalam rumah tangga. Kadangkala ujian iman itu datang dari sesama yang terdekat dalam rumah tangga supaya kita lemah lembut.

 

2)      Tenteram atau pendiam, artinya kemampuan mengendalikan lidah. Alami ujian, sudah mau bersungut, bisa diredam.

I Petrus 3:10

3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

 

Lidah ini kemudi hidup kita. Mau ke mana kita? Mau hari-hari yang baik atau buruk!

 

3)      Tunduk atau taat pada Firman apapun resikonya. Seperti Sara, apapun resikonya dia tunduk. Dia namai Abraham tuannya. 2 kali diserahkan pada laki-laki lain, dia tetap tunduk. Abraham bilang, kamukan cantik, kalau orang di negeri ini bertanya kamu siapa, katakanlah aku saudaramu. Di Mesir Sara diambil Firaun. Sampai di negeri Gerar, diambil lagi oleh Abimelek. Tetapi karena tunduk, tidak dicemari, dikembalikan lagi pada suaminya.

 

Tunduk taat hasilnya:

Ø  Keselamatan nikah. Kalau Sara tidak tunduk, dia diambil paksa, suaminya dibunuh, nikahnya hancur. Kadang tunduk itu tidak cocok dengan logika. Masa saya tidak diakui sebagai isteri. Mau tunduk itu sakit bagi daging, tetapi kalau mau kita lakukan, nikah selamat.

Ø  Rahim Sara terbuka. Karena mau tunduk, usia 90 tahun bisa punya anak. artinya:

v  Segala masalah ada jalan keluarnya, ada pembukaan pintu. Yang penting tunduk, taat pada Firman, masalah apapun Tuhan buka jalan.

v  Sara ini punya aib permanen. Waktu itu bagi orang Ibrani tidak punya anak berarti aib. Artinya segala aib dosa kita disucikan. Aib apa yang ada, mungkin sudah malu semalu-malunya, tetapi Tuhan sanggup sucikan dan hapuskan.

 

Tunduk dan taat kita kepada Firman dimulai dari mengaku dosa.

Yesaya 4:1

4:1 Pada waktu itu tujuh orang perempuan akan memegang seorang laki-laki, serta berkata: "Kami akan menanggung makanan dan pakaian kami sendiri; hanya biarlah namamu dilekatkan kepada nama kami; ambillah aib yang ada pada kami!"

 

Laki-laki ini tidak tahu aibnya apa. Tetapi mereka yang akui ini aibku, itulah tunduk. Permulaan tunduk taat adalah mengaku segala aib kita. Aib kita diambil dan dihapuskan oleh Tuhan.

 

v  Pintu Sorga terbuka. Keturunan Abraham dan Sara itulah 12 suku Israel, namanya tertulis di Yerusalem Baru.

Wahyu 21:12

21:12 Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel.

 

Jalan di Sorga dari emas murni.

Wahyu 21:21

21:21 Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.

 

Ujian iman menampilkan emas murni, artinya ujian iman merupakan latihan berjalan di Sorga. Nikmati saja ujian kita, itu latihan berjalan di Sorga.

 

Ayo kita nikmati ujian apapun yang Tuhan izinkan untuk kita memiliki emas yang murni. Iman yang murni, hanya berharap Tuhan, tidak berharap siapa-siapa, kekayaan Tuhan dan kemuliaan sorga, tabiat Ilahi, perhiasan rohani.

 

GPT “Kristus Penebus”

Jl. Langgadopi No.4 Tentena

Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663

HP: 081334496911

Email: imamat_raja@yahoo.com

www.gptkp.blogspot.com

Tuhan Memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar