Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.
Kekasih kita telah dipanggil Tuhan, sudah diangkat penderitaannya yaitu penyakitnya sudah cukup lama diderita oleh kekasihi ini. Dan sudah Tuhan sembuhkan dengan caranya. Manusia berusaha supaya sehat kembali, Tuhan yang melakukan yang terbaik di mataNya. Kita boleh berusaha, yang menentukan adalah Tuhan Yesus Kristus yang empunya kehidupan kita sekalian.
Yohanes 11:21,32
11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."
Dari 2 kalimat ini isinya sama, Maria dan Marta mengharapkan kuasa kesembuhan dari Yesus. Tentunya keluarga dan kami semua jemaat mengharapkan kuasa kesembuhan dari Yesus. Namun yang Yesus berikan adalah kuasa kebangkitan, ini lebih dari kuasa kesembuhan! Kadangkala sebagai orang Kristen kita meminta kepada Tuhan bahkan cenderung memaksa supaya Tuhan memberikan jawaban yang kita inginkan, tetapi yang Tuhan lakukan perkara yang lain.
Seperti kekasih kita ini, keluarga merindukan, kami juga merindukan dan memohon supaya Tuhan berikan kesembuhan, tetapi Tuhan berikan yang lain. Sebagai orang Kristen kita harus percaya bahwa apa yang Tuhan lakukan itu adalah yang terbaik di mataNya. Kadangkala yang kita minta yang terbaik di mata kita, Tuhan jawab dengan yang terbaik di mataNya.
II Samuel 10:12
10:12 Kuatkanlah hatimu dan marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita dan untuk kota-kota Allah kita. TUHAN kiranya melakukan yang baik di mata-Nya."
Apa yang terjadi pada kekasih kita ini, kita yakin dan percaya Tuhan sudah melakukan yang baik di mataNya.
Sebelum Yohanes pasal 11, di pasal 10 Yesus tampil sebagai gembala yang baik dan yang Dia tekankan adalah suaraNya.
Yohanes 10:3-4
10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
Jadi yang Yesus tekankan dari gembala yang baik itu adalah suaraNya yang didengar dan ditaati. Dalam pasal 11 Yesus tampil sebagai Gembala yang baik dan suara Gembala yang baik itu mengandung kuasa kebangkitan. Yesus berseru kepada Lazarus untuk bangkit dan Lazarus bangkit.
Suara Yesus Gembala Agung di dalam gereja diwujudkan dengan Firman penggembalaan. Rasul Paulus selalu menekankan ajaran yang sehat, itulah suara Gembala Agung.
Selama kurang lebih 2 tahun saya menggembalakan ibu Rein, beliau setia beribadah dan mengambil bagian dalam pelayanan. Selama hidupnya menjadi kehidupan yang tergembala, mendengar suara gembala.
Sikap kita terhadap suara gembala yaitu Firman penggembalaan adalah mendengar dan dengar-dengaran, taati Firman penggembalaan. Memang ada suara-suara asing yang mau menghalangi kita mendengar suara gembala itu.
Yohanes 10:5
10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."
Suara-suara orang asing, berarti lebih dari satu. Apa itu?
1. Ajaran asing, tidak tertulis dalam Alkitab, bukan yang diwahyukan oleh Tuhan. Sebagai domba yang tergembala kita lari, tidak mau mendengar itu.
2. Gosip-gosip yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kadang itu melemahkan, apalagi kalau sudah ditujukan kepada gembalanya. Padahal belum tentu seperti itu kebenarannya. Kalau terganggu tanya, kalau tidak terpengaruh yah sudah tidak usah dengar.
3. Suara daging kita sendiri. Begitu Firman disampaikan, suara daging berkata kamu belum mampu lakukan itu, nantilah.
Ini yang mau menghambat telinga kita mendengar suara Gembala Agung kita, menghambat hati kita untuk taat dengar-dengaran pada Firman penggembalaan. tanpa disadari ditarik oleh setan dari tangan Tuhan ke tangannya. Orang yang taat dengar-dengaran dia ada di tangan Yesus Gembala Agung. Begitu tidak taat keluar dari tangan Tuhan Yesus dan pergi ke tangan setan.
Yohanes 10:27-28
10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.
Setan mau merebut dengan kuasa maut. Ada 3 macam maut.
1. Maut secara tubuh yang dialami saudara kita.
2. Maut secara rohani. Kita tidak bisa menentukan berapa panjang hidup kita, Tuhan yang tentukan. Kalau diizinkan mengalami maut secara tubuh, itu urusannya Tuhan. Yang harus kita jaga jangan sampai mengalami maut secara rohani karena telinga mendengar suara asing, tidak lagi mendengar suara Gembala. Tetapi kalau kita mendengar suara gembala, kita taati suara gembala, kita di tangan Yesus Gembala Agung. Sekalipun mengalami maut secara tubuh, waktu Yesus datang dia akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan, tidak mengalami maut secara rohani.
3. Maut kekal, neraka, kematian kedua.
Waktu kita adalah waktu yang sisa, tinggal sedikit. Kita gunakan waktu yang sisa ini untuk tergembala. Kekasih kita sudah memberikan teladan menjadi kehidupan yang tergembala. Biar suami, anak dan cucu mengikuti teladan ini, tergembala dengan baik sampai garis akhir hidup kita.
Bukti orang yang tergembala kita lihat dari sikap Maria. Marta hanya berkata jikalau Engkau ada di sini saudaraku tidak akan mati. Berbeda dengan Maria, dia datang dan tersungkur di kaki Yesus. Kita tahu Maria ini suka duduk di ujung kaki Yesus mendengarkan Firman. Bukti tergembala kita tersungkur di kaki Yesus apapun yang kita hadapi. Waktu menghadapi pengalaman sukacita, kita tersungkur di kaki Yesus, waktu diperhadapkan dengan suasana dukacita seperti yang dialami oleh kita sekarang tetap tersungkur di bawah kaki Yesus. Menghadapi masalah sampai yang mustahil, tersungkur di bawah kaki Yesus, bukan berlarut-larut dalam kesedihan.
Memang sedih kalau kita ditinggalkan oleh kekasih hati. Yang menjadi ciri khas kekasih kita ini adalah suara tawanya, begitu riang, seperti tidak ada masalah, tidak ada beban. Bahkan dalam keadaan sakitpun masih bisa tertawa lepas.
Mari kita tetap mengambil sikap tersungkur di kaki Yesus, artinya:
1. Mengaku kita hanya tanah liat, kehidupan yang kotor, banyak kesalahan dan kekurangan kita. Sehingga ketika diperhadapkan pergumulan yang berat, kita tidak persalahkan orang lain, apalagi persalahkan Firman Tuhan ‘Tuhan kenapa yang lain ditolong, saya tidak ditolong’. Mengaku kita banyak kesalahan kekurangan, bukan malah mempersalahkan orang lain. Kita mengaku saya banyak kekurangan dan kelemahan.
2. Mengaku tidak mampu apa-apa. Namanya tanah, ada hewan buang kotoran di situ, tidak mampu berbuat apa-apa. Seperti yang dialami keluarga sekarang ini, tidak bisa berbuat apa-apa, Tuhan sudah lakukan yang terbaik di matanya. Yang bisa kita lakukan berserah kepada Tuhan. Tuhan sudah panggil isteriku tercinta, mama tercinta, nenek tercinta, mana yang terbaik di mata Tuhan, jadilah kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Mengaku tidak mampu apa-apa, hanya mengandalkan Tuhan.
3. Hanya menyembah Tuhan karena kita mengasihi Tuhan. Tidak lagi kita minta kesembuhan, tinggal menyembah Tuhan, aku mengasihi Engkau Tuhan. Apa yang Engkau lakukan dalam hidup kami semua baik. Hanya menyembah Tuhan, maka kita akan mengalami kuasa kebangkitan dari Firman penggembalaan. Waktu Yesus datang, terdengar suara sangkakala terakhir dan yang mati dalam Tuhan akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan. Untuk kita yang masih hidup, kalau kita bisa tersungkur di kaki Yesus, akan mengalami kuasa kebangkitan dari Firman penggembalaan. Apa itu?
Yohanes 11:41-44
11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"
11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."
Ini bukti atau hasil kita mengalami kuasa kebangkitan dari Firman, kita terlepas dari segala ikatan! Ada 3D yang seringkali mengikat gereja Tuhan yaitu dosa, dunia dengan segala pengaruhnya dan daging kita sendiri.
Bukan Yesus sendiri yang membuka, ada suruhan Tuhan Yesus yang membuka ikatan itu. Sekarang suruhan Tuhan itulah gembala yang dipercaya oleh Tuhan untuk membuka ikatan-ikatan di dalam sidang jemaat lewat Firman yang Tuhan percayakan. Tugas kami hamba Tuhan menyerukan Firman Tuhan untuk jemaat mengalami kelepasan dari ikatan. Itu sebabnya kami hamba Tuhan harus lebih dahulu mengalami kelepasan. Bagaimana bisa membuka ikatan kepada jemaat kalau kami sendiri hamba Tuhan masih ada ikatan, ikatan dosa, ikatan dunia, ikatan daging. Kita harus terlepas dari semua itu.
Kata Yesus biarkanlah dia pergi. Apa maksudnya? Di sini Tuhan Yesus mengejarkan kepada kita, bahwa kami hamba Tuhan tidak ada hak untuk mengikat sidang jemaat sebab mereka adalah miliknya Tuhan. Yang berkorban nyawa adalah Yesus Gembala Agung untuk domba-domba. Gembala hanya penjaga domba. Saya dipercaya untuk menjaga selama 2 tahun, tidak ada hakku untuk berkata ini milikku, ini dombaku. ini miliknya Tuhan. Yesus Gembala Agung, kami hamba Tuhan penjaga domba.
Tanda terlepas dari ikatan:
Yohanes 12:1-2
1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.
2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.
Begitu Lazarus dilepaskan dari ikatan dan dikatakan biarkan dia pergi, dia tidak pergi ke mana-mana, dia pergi ke Betania. Betania artinya rumah persinggahan. Jadi bukti kita sudah lepas dari ikatan adalah kita menganggap dunia ini hanya sebagai tempat persinggahan, sehingga kita tidak mau memeluk dunia. Seperti Abraham, Ishak dan Yakub, mereka menganggap mereka orang asing di tanah Kanaan, karena mereka merindukan suatu negeri perjanjian. Begitu juga kita, kita menganggap dunia ini hanya negeri persingahan karena kita merindu suatu negeri perjanjian, kota Yerusalem Baru, kita rindu masuk di sana. Jadi kita tidak memeluk dunia.
Dunia yang kita tempati ini sedang lenyap. Kalau melekat pada dunia, maka akan ikut lenyap dengan dunia. Tetapi kalau menjadikan dunia tempat persinggahan, maka ketika dunia lenyap, kita masuk ke negeri perjanjian, Yerusalem yang Baru.
Kekasih kita sudah beristirahat, tinggal keluarga yang ditinggalkan. Biarlah kita semua menjadikan dunia ini hanya sebagai tempat persinggahan, tidak mau terikat, tidak melekat, tidak memeluk dunia seperti yang dilakukan Yudas. Ketika Yudas mati dikatakan dia mati tertelungkup, dia memeluk dunia. Karena selama hidupnya sekalipun dia muridnya Yesus tetapi hatinya melekat kepada dunia. Sampai dia menjual Yesus 30 keping perak. Jangan terjadi pada kita.
Ibarani 11:14-15
11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.
11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.
11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.
Bukan hanya untuk Abraham, Ishak dan Yakub tetapi untuk kita semua sudah Tuhan sediakan kota Yerusalem yang baru. Waktu Yesus datang kembali, orang yang mati dalam Tuhan, yang sudah mengalami kelepasan dari segala ikatan, orang yang tergembala, yang taat pada Firman penggembalaan, dia akan dibangkitkan oleh suara sangkakala yang terakhir. Suara sangkakala diperdengarkan, yang mati dalam Tuhan, yang selama hidupnya tidak melekat pada dunia, dia dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan. Kita yang masih hidup, oleh suara sangkakala itu, oleh Firman penggembalaan itu kita diubahkan dalam tubuh kemuliaan. Dan keduanya diangkat menyongsong Yesus di angkasa.
I Tesalonika 4:16-17
4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.
Seringkali kita nyanyikan ada pertemuan di udara, kita rindu di sana bertemu dengan Yesus dan kekasih-kekasih kita yang sudah mendahului. Nanti akan terjadi waktu Yesus datang kembali dan kedatangan Yesus sudah di ambang pintu. Sebab itu kita jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Yesus akan segera datang. Kekasih kita yang sudah mendahului akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan. Kita yang masih hidup, kehidupan yang digembalakan juga akan diubahkan dalam Tubuh Kemuliaan dan keduanya akan menyongsong Yesus di awan-awan yang permai, di mana pesta nikah Anak Domba Allah di gelar. Yesus datang sebagai Raja, Mempelai Pria Sorga, Kepala Gereja dan kita adalah Mempelai WanitaNya, Tubuh Kristus yang sempurna. Kepala dan tubuh tidak terpisahkan lagi untuk selama-lamanya.
Untuk sekarang kepala keluarga dan isteri sudah terpisah secara jasmani. Tetapi tidak terpisah dengan Kepala rumah tangga yang tidak tampak dengan mata jasmani, tetapi dengan mata iman, itulah Yesus, Dia akan terus menggembalakan dan akan tinggal terus dengan keluarga terkasih di tempat ini. Biarlah kita berpengharapan bahwa di seberang sana Tuhan sudah menyediakan kemuliaan kekal bagi kita sekalian.
Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar