Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.
Wahyu 16:8-9
16:8 Dan malaikat yang keempat menumpahkan cawannya ke atas matahari, dan kepadanya diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api.
16:9 Dan manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu dan mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia.
Ini malapetaka ke-4, api dari Tuhan menghanguskan manusia.
Ada 5 perkara yang dihukum oleh api yang menghanguskan:
1. Dosa sampai puncaknya dosa, seperti Sodom dan Gomora di tunggang balikan oleh api dari Tuhan. (Kejadian 19:1-29)
2. Imam-imam, hamba Tuhan, pelayan Tuhan yang bekerja dengan api asing seperti Nadab dan Abihu. (Imamat 10:1-2)
3. Hamba Tuhan pelayan Tuhan yang kemasukan nafsu rakus (Bilangan 11:1)
4. Hamba Tuhan pelayan Tuhan yang biasa sampai sengaja meninggalkan ibadah pelayanan (Ibrani 10:25-27)
5. Orang yang suka menindas dan menyiksa (II Tesalonika 1:6-7)
Kita pelajari yang keempat, hamba Tuhan pelayan Tuhan yang biasa sampai sengaja meninggalkan ibadah pelayanan.
Ibrani 10:25-27
10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.
10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.
Dosa tidak beribadah ini seringkali tidak dirasa sebagai dosa oleh orang Kristen. Kalau mencuri, membunuh, berzinah ditahu itu dosa, tetapi tidak beribadah tidak dianggap itu dosa. Bahkan hamba Tuhan pelayan Tuhan, kalau tidak melayani merasa tidak berdosa, dianggap biasa. Sehingga mengundang api penghuman Tuhan. Mengapa demikian? Sebab ibadah pelayanan itu seharga Korban Kristus. Makanya Tuhan murka. Sebenarnya api penghukuman itu untuk manusia berdosa tetapi Yesus rela terima. Dari bahwa Yesus rela menerima api kebencian dari imam kepala, ahli Taurat dan orang Yahudi untuk kita bisa beribadah. Lalu malah ada yang biasa tidak beribadah! Itu mengundang murka Allah, karena ibadah pelayanan itu seharga Korban Kristus.
Ibrani 9:14
9:14 betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.
Korban Kristus menyucikan kita dari perbuatan sia-sia supaya dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Itu sebabnya kalau kita biasa sampai sengaja tidak beribadah melayani Tuhan, maka akibatnya:
1. Hutang darah yang tidak bisa dibayar oleh apapun. Bahkan oleh penghukuman api neraka. Kalau seandainya hukuman api neraka bisa membayar hutang darah itu, maka bisa dihukum di neraka 1 tahun atau 2 tahun. Tetapi hukuman api neraka itu kekal, berarti tidak bisa dibayar oleh apapun. Makanya Yosua berkata kepada bangsa Israel, sekeluarga dia mau beribadah kepada Tuhan. Dia rindu juga bangsa Israel beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas, dengan takut akan Tuhan. Bukan takut pada manusia, kalau takut manusia ada gembala dia beribadah, kalau tidak ada gembala tidak beribadah. Tetapi kita beribadah dengan takut akan Tuhan, itu yang benar.
2. Kita yang sudah ditebus oleh darah Yesus, kita adalah Bait Roh Kudus. Fungsinya sebagai rumah doa. Jadi kalau biasa sampai sengaja tidak beribadah maka akibatnya menjadikan rumah Allah sebagai sarang penyamun.
Matius 21:12-13
21:12 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati
21:13 dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun."
Bait Tuhan itulah kita yang sudah ditebus oleh Korban Kristus. Sarang itu tempat berkembang biak. Akibat kedua menjadikan rumah Tuhan sebagai sarang penyamun artinya hidup itu menjadi tempat berkembang biaknya dosa! Saya alami waktu tidak beribadah, betul-betul menjadi tempat berkembang biaknya dosa! Syukurlah Firman masih menegur sehingga saya ambil tindakan berhenti dari pekerjaan supaya bisa beribadah.
3. Membangkitkan cemburu Tuhan.
Keluaran 20:3-5
20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
Cemburu Tuhan itu bagaikan nyala api. Jadi kalau tidak beribadah berarti sedang memasukan dirinya sendiri ke dalam nyala api neraka!
Kidung Agung 8:6
8:6 — Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
Kidung Agung 8:6 (Terjemahan Lama)
8:6 Taruhlah akan daku dalam hatimu bagaikan meterai, bagaikan meterai pada lenganmu; karena kuat kasih itu seperti kuat maut, dan cemburuan itu hebat seperti alam barzakh, nyalanya seperti nyala api, seperti halilintar Tuhan.
Ini terjemahan dari bahasa Ibraninya yaitu Sheol artinya dunia orang mati. Cemburu Tuhan itu bagaikan nyala api neraka. jadi sedang memasukan dirinya ke dalam api neraka. Dapat dibayangkan, bagaimana orang itu sedang menuju ke dalam api, tentu bukan suasana sukacita. Beda kalau sedang menuju Sorga, suasananya sukacita.
Seperti seorang terpidana mati, tentu tidak langsung dieksekusi. Ditaruh dulu di sel menunggu waktu. Baru dibawa ke luar, diborgol, diikat, mukanya ditutupi, sedang menuju ke tempat eksekusi. Bukan senang-senang, itu suasana kepahitan. Jadi itulah suasana hidup orang yang tidak beribadah melayani Tuhan, sebenarnya dia sedang mengalami kepahitan demi kepahitan. Sampai tiba hari Tuhan, hari penghukuman baginya itu hari kepahitan, bukan hari sukacita.
Beda dengan kita yang mau masuk pesta nikah Anak Domba Allah, semakin manis hidup kita sampai puncak kemanisan masuk pesta nikah Anak Domba Allah. Yang tidak beribadah dan melayani Tuhan tambah pahit, tambah pahit, tambah pahit, sampai hari Tuhan adalah hari kepahitan baginya.
Ini jangan sampai terjadi, saya tidak mau menggiring jemaat masuk dalam neraka. Makanya selalu diserukan ayo beribadah! Nasihat saya kepada kaum muda kalau mau kerja, mau sekolah ayo beribadah supaya kita bisa menuju ke Sorga, menuju api kemuliaan bukan api penghukuman Tuhan.
Zefanya 1:14
1:14 Sudah dekat hari TUHAN yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali! Dengar, hari TUHAN pahit, pahlawan pun akan menangis.
Pahlawan itu orang gagah berani. Jadi pahlawan di sini adalah orang yang berani melawan Tuhan. Hari Tuhan hari kepahitan baginya!
Zefanya 1:15-18
1:15 Hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam,
1:16 hari peniupan sangkakala dan pekik tempur terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara penjuru yang tinggi.
1:17 Aku akan menyusahkan manusia, sehingga mereka berjalan seperti orang buta, sebab mereka telah berdosa kepada TUHAN. Darah mereka akan tercurah seperti debu dan usus mereka seperti tahi.
1:18 Mereka tidak dapat diselamatkan oleh perak atau emas mereka pada hari kegemasan TUHAN, dan seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu-Nya; sebab kebinasaan, malah kebinasaan dahsyat diadakan-Nya terhadap segenap penduduk bumi.
Tuhan tolong ini jangan terjadi dalam hidup kita. Yang menentukan pahit manis hidup kita bukan karena ijazah, kedudukan, harta, kuasa dan lain-lain. Tetapi yang menentukan adalah ibadah atau tidak, tergembala atau tidak. Ibadah kita sistem penggembalaan. Kalau biasa sampai sengaja maka hari Tuhan adalah hari yang pahit, menjadi pahit hidupnya! Tetapi kalau kita beribadah melayani Tuhan, manis hidup kita. Sekalipun untuk beribadah rasanya pahit bagi daging. Berkorban jarak tempuh yang cukup jauh, korban tenaga, waktu, harta, tetapi hidup kita semakin manis, tambah hari tambah manis. Sampai puncak kemanisannya adalah pesta nikah Anak Domba Allah.
Mengapa biasa sampai sengaja tidak beribadah? Mengapa sampai tidak tergembala?
Amsal 12:26
12:26 Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri.
Mazmur 1:5
1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
Jadi mengapa biasa sampai sengaja meninggalkan ibadah pelayanan, tidak tergembala? Karena ada yang tidak benar dipertahankan! Entah itu secara pribadi, nikah atau pelayanan, ada yang tidak benar. Kalau orang benar pasti tergembala. Orang yang tidak benar tidak tahan dalam perkumpulan orang benar, dia rasa gelisah, tidak nyaman. Apalagi kalau mendengar Firman yang keras menyucikan, dia rasa tidak nyaman, lebih baik tidak beribadah, lebih baik tidak datang. Sebenarnya alasan yang jasmani itu cuma alasan yang dicari-cari. Yang utama itu karena merasa asing, ada sesuatu yang tidak benar dia pertahankan.
Termasuk kami hamba Tuhan, kenapa gembala tidak setia melayani? Karena ada yang tidak benar dia pertahankan. Kenapa gembala tidak mau bertekun dalam pengajaran yang benar? Karena ada yang tidak benar! Dukung saya sebagai gembala supaya tekun dalam persekutuan. Di situlah tempat gembala digembalakan. Kalau gembala sudah tidak mau bersekutu, itu tanda tanya!
Sorga itu tempatnya kebenaran, jadi kalau mempertahankan yang tidak benar, tidak akan bisa tembus Sorga!
II Petrus 3:13
3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
Ayo kita periksa mulai dari hati. Yang tidak benar diselesaikan, jangan dipertahankan sebab itu yang membuat hidup kita tambah pahit. Seringkali yang tidak benar ini dipertahankan dengan dosa kebenaran diri sendiri ‘saya benar, dia yang salah’ padahal ada yang tidak benar dia pertahankan. Akhirnya tambah pahit hidupnya. Ini jangan ada pada kita
Orang benar itu seperti Korma. Korma itu manis. Makanya pahit manisnya hidup kita bukan ditentukan oleh harta, kedudukan, kepandaian atau apapun yang ada di dunia, tetapi ditentukan beribadah atau tidak, tergembala atau tidak. Bisa tergembala kalau benar, tidak tergembala karena ada yang tidak benar. Orang benar seperti pohon korma tertanam di Bait Allah.
Mazmur 92:13-16
92:13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
93:14 mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
93:15 Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,
93:16 untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Seperti pokok korma tertanam di Bait Allah, ini kehidupan yang tergembala, orang yang benar sehingga hidupnya pelan tetapi pasti akan mengalami kemanisan, terus manis sampai puncak kemanisan pesta nikah Anak Domba Allah. Biar menjadi pengalaman hidup masing-masing, ada kemanisan. Dalam penggembalaan ada Roh Kudus menguasai kita, Roh Kudus itu yang memberi kemanisan di dalam hidup kita.
Penggembalaan dikaitkan dengan 2 pohon. Pohon atau kayu itu dikaitkan dengan manusia daging.
1. Pohon Aras. Ini simbol kekuatan, makanya dipakai bahan baku pembuatan Bait Allah Salomo. Artinya:
a) Dalam penggembalaan kita mendapat kekuatan ekstra dari Tuhan, dari Firman, Roh Kudus dan kasih untuk bertahan dan menang atas segala tantangan, segala pergumulan, bahkan atas ajaran-ajaran palsu.
Saya bersyukur waktu kaum muda sudah tergembala. Jadi bisa bertahan menghadapi dosa. Kalau saya dan isteri tidak tergembala, kami sudah jatuh! Karena orang tuanya percaya sekali sama saya. Kalau saya ke rumahnya, ditinggal sama orang tuanya berdua di rumah. Mau lakukan dosa sampai puncaknya dosa bisa, tetapi karena tergembala ada kekuatan ekstra dari Tuhan untuk menjaga kesucian.
Banyak pergumulan dan tantangan kita hadapi, karena tergembala kita bisa bertahan dan menang. Bukan kekuatan dari saya, tetapi karena kekuatan ekstra dari Tuhan, kekuatan Firman, Roh Kudus dan kasih Tuhan.
b) Kalau kita tergembala dengan benar dan baik maka pasti dipakai Tuhan dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Seperti pohon Aras dipakai sebagai bahan pembangunan Bait Allah Salomo.
I Raja-raja 5:6
5:6 Oleh sebab itu, perintahkanlah orang menebang bagiku pohon-pohon aras dari gunung Libanon, dan biarlah hamba-hambaku membantu hamba-hambamu, dan upah hamba-hambamu akan kubayar kepadamu seberapa juga kauminta, sebab engkau tahu, bahwa di antara kami tidak ada seorang pun yang pandai menebang pohon sama seperti orang Sidon."
Jadi artinya kita dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, Bait Allah yang rohani. Kalau tidak tergembala, hanya merasa dipakai. Saya gembala, tidak tergembala, hanya merasa dipakai.
Mungkin ada yang berkata gembala saya khotbah di mana-mana, coba tanya jemaatnya berapa kali dia khotbah di penggembalaan. Kadang sebulan sekali atau dua bulan sekali, lebih banyak keluar. Kelihatan hebat, tetapi Tuhan tidak pakai, hanya merasa. Kalau tidak tergembala, tidak dipakai. Ini bukan pohon aras! Kalau pohon aras dipakai dalam pembangunan Tubuh Kristus.
Masuk kadang, tekun 3 macam ibadah, makan Firman, taat dengar-dengaran pada Firman penggembalaan, pasti dipakai Tuhan.
Orang Sidon ahli menebang pohon aras. Orang Sidon itu bangsa kafir. Jadi dari sini sudah dinubuatkan bangsa kafir dilibatkan dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Apa yang Tuhan minta dari bangsa kafir? Keahlian kita. Jadi apa saja keahlian kita, sekalipun tidak dilihat orang, tetapi kalau kita tergembala Tuhan akan pakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Jangan keahliannya malah dipakai Babel! Yang ahli musik, pakai untuk pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, layani Tuhan. Yang bisa menyanyi, ayo layani Tuhan.
Seperti pesan Mordekhai kepada Ester ketika dia sudah diangkat menjadi ratu, mungkin kedudukan itu dipakai untuk keselamatan bangsa Israel, orang Yahudi. Tuhan beri kedudukan di dunia, pakai untuk pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, bukan untuk kesenangan daging.
Apapun keahlian kita, mungkin dipandang orang sebelah mata, tetapi bisa dipakai oleh Tuhan. Jadi jangan pandang rendah orang lain. Kalau tergembala, dia dipakai oleh Tuhan. Kalau punya kedudukan, puji Tuhan, pakai untuk kemuliaan Tuhan. Punya kekayaan, biarlah seperti perempuan-perempuan yang dipakai untuk mendampingi Yesus dalam pelayanan dengan hartanya.
Lukas 8:1-3
8:1 Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia,
8:2 dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat,
8:3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
Jadi keahlian, kedudukan, kekayaan, apa saja yang kita miliki di dunia ini dipakai untuk pelayanan pembangunan Tubuh Kristus.
2. Pohon Korma. Artinya kalau kita tergembala, pasti manis! Tuhan yang jamin, jaminan kepastian, sebab orang yang tergembala itu berada di tangan Tuhan Gembala Agung. Kalau berada di tangan Tuhan sudah pasti manis, pasti indah. Kaum muda mau punya masa depan yang indah, tergembala! Kadang orang Kristen menjadikan penggembalaan itu momok yang menakutkan, sebagai beban. Saya mau kuliah di sana, mau kerja di sana, tetapi diingatkan terus tergembala. Malah dia rasa tergembala itu beban. Dia pikir kalau dia raih ijazahnya, dia raih kedudukannya, akan manis hidupnya, belum tentu! Hanya tergembala itu jaminan pasti kita manis dan indah. Bahkan jaminan sampai masa tua pohon ara tetap berbuah, tetap segar, tidak loyo.
Jadi kalau disimpulkan, orang tergembala itu kuat, manis dan diberkati. Kalau sudah nikmati kuat, manis dan menikmati berkat, jangan lupa saksikan.
Mazmur 92:16
92:16 untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Jadi bersaksi itu kelimpahan kemanisan dan berkat hasil penggembalaan.
Kemanisan dalam penggembalaan harus dipertahankan, jangan jadi pahit. Bagaimana cara mempertahankannya?
1. Keluaran 15:27
15:27 Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.
Di Elim ada 12 mata air dan 70 pohon korma. Angka 12 adalah angka persekutuan. Angka 70 adalah angka pengutusan atau pelayanan. Jadi cara mempertahankannya aktif dalam persekutuan dan dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus yang dibina oleh Firman pengajaran yang benar. Nomor satu persekutuan dalam nikah, dalam penggembalaan baru antara penggembalaan. Kita sudah nikmati manisnya penggembalaan, waktunya keluar, jangan di dalam terus. Ini namanya sudah meluber.
Menjauh dari persekutuan, menjauhi penggembalaan, tidak mau aktif dalam pelayanan berarti menjauh dari Elim dan mendekati Mara. Apa yang ada di Mara? Mata air yang pahit! Jangan salahkan Tuhan kalau sudah mengalami kepahitan demi kepahitan baru berkata ‘Tuhan tidak adil, Tuhan tidak tolong saya’ padahal dia yang menjauh. Ayo jangan menjauh, tetap di Elim, aktif dalam persekutuan, aktif dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Memang sakit rasanya bagi daging. Tetapi tidak sebanding dengan kemanisan yang Tuhan sediakan bagi kita. Rasanya biaya untuk ikut persekutuan bisa dipakai buat yang lain, tetapi untuk persekutuan.
Kita mau diutus, dipakai, tetapi Tuhan tidak mengutus begitu saja, Tuhan berikan bekal pengutusan. Apa bekalnya?
Lukas 22:35-38
22:35 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?"
22:36 Jawab mereka: "Suatu pun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
22:37 Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi."
22:38 Kata mereka: "Tuhan, ini dua pedang." Jawab-Nya: "Sudah cukup."
Ini bekal kita yaitu 2 pedang. Apa 2 pedang ini? Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Firman pengajaran yang benar dan murni. Ini bekal kita. Kita mau bersaksi tetapi tidak tahu Firman, apa yang mau disaksikan. Mau melayani tetapi tidak tahu Firman, apa yang mengontrol pelayanan kita. Firman pengajaran yang murni, menyucikan hidup kita sampai ke dalam hati dan pikiran kita.
Jadi kalau disimpulkan bekal kita adalah kesucian. Saya mau bersekutu ke Malang, bawa kesucian ke sana. Jangan bawa kecemaran! Kalau kita bawa kesucian, hati yang suci, pikiran yang suci, mungkin panitia sambutannya kurang baik, kita tidak terpengaruh karena hati kita suci. Coba kalau tidak suci, pergi bersekutu lalu ditampung di tempat seadanya, bisa marah!
Dalam pelayanan kita orang mau kritik, mau cibir pelayanan kita, kalau kita suci tidak akan terpengaruh, terus saja melayani.
Apa bukti kita bawa bekal kesucian dalam pelayanan?
Lukas 10:4
10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.
Artinya hidup tidak bergantung pada yang jasmani tetapi bergantung pada Tuhan. Kalau bergantung pada yang jasmani, tahun ini jangan bikin natal karena lagi krisis. Tetapi kita bergantung pada Tuhan karena bekal kita kesucian. Kita sudah mendengar Firman pengajaran, sudah kita nikmati, sekarang saatnya kita bagikan kepada keluarga kita, tetangga kita, teman-teman kita, banyak yang belum dengar. Ajak datang untuk mendengar Firman. Kita berkorban untuk membawa mereka bisa mendengar Firman pengajaran.
Waktu murid-murid berkata ‘ini dua pedang’ lalu Tuhan berkata ‘sudah cukup’. Jadi kalau ada Firman dan kita disucikan, itu sudah cukup untuk memelihara hidup kita. Cukup berarti tidak kekurangan, Tuhan pelihara. Istilah raja Daud tak akan kekurangan aku. Ini sudah menjadi pengalaman kita masing-masing dan kita bagikan kepada sesama kita.
2. Kidung Agung 7:6-8
7:6 Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.
7:7 Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.
7:8 Kataku: "Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.
Untuk memanjat pohon kurma, harus dikerat kulitnya. Dikerat itu juga tujuannya supaya lebih banyak berbuah. Artinya rela menerima sengsara daging tanpa dosa atau percikan darah atau pengalaman salib. Saya sudah tergembala, sudah melayani dalam kesucian dan kekudusan malah difitnah, digosipkan, dikucilkan, dijauhi, dirugikan, dianiaya fisik dan batin, yah sudah nikmati semua itu. Tuhan mau memanjat, kalau dipanjat itu dipeluk. Tidak usah takut, dalam pengalaman sengsara kita dipeluk Tuhan. Terserah orang mau fitnah, orang mau gosipkan, orang mau hina, mau cibir, saya dipeluk Tuhan. Yang menghina berada di luar tangan Tuhan. Saya yang dipeluk Tuhan, manis. Kalau diluar tangan Tuhan, pahit! Semakin besar sengsaranya, semakin erat pelukan Tuhan. Ada hubungan erat dengan Tuhan dan sebentar lagi berbuah, pasti berbuah manis, berbuah banyak.
Jadi tujuan Tuhan izinkan kita mengalami sengsara daging tanpa dosa adalah supaya kita dipeluk Tuhan dan kita berbuah manis. Berbuah = berubah. Dalam sengsara kita berubah dari manusia daging menjadi manusia rohani.
Bisa dilihat orang ini sudah berbuah manis bisa dideteksi dari ucapan mulutnya, perkataannya yang manis, perkataan yang memuliakan Tuhan, perkataan yang menjadi berkat. Dimulai dari membuang dusta!
Efesus 4:24-25,29
4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.
4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Ini buah manis mulai dari ucapan bibirnya, hamba Tuhan perkataannya jadi berkat, pelayan Tuhan perkataannya jadi berkat. Kadangkala hamba Tuhan malah bikin emosi orang. Ngomongnya tidak enak didengar, menyinggung dan seterusnya. Beda kalau sampaikan Firman lalu menunjuk dosa, itu bukan menyinggung namanya. Itu pekerjaan Roh Kudus yang menunjuk dosa kita.
Perkataan manis ini bagaikan anggur.
Kidung Agung 7:9
7:9 Kata-katamu manis bagaikan anggur!" Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur!
Dalam rumah tangga isteri mendengar perkataan manis dari suami, suami mendengar perkataan manis dari isteri. Kita minta tolong yang manis, bukan minta tolong tapi marah-marah! Bukan berarti saya sudah mulus dalam hal ini, terus berupaya, terus berjuang. Berbuah, berubah, mulai dari mulut perkataan yang manis, perkataan yang menjadi berkat. Maka dari perkataan yang manis menentukan hari-hari kita manis, hari-hari yang baik.
I Petrus 3:10
3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
Perkataan yang manis didengar oleh sesama, perkataan manis didengar oleh Tuhan. Ini buah yang Tuhan rindukan. Kehidupan yang tergembala itu berbuah, sampai buah yang terakhir adalah ketaatan. Mulai dari mulut dulu, buah ucapan bibir yang memuliakan Tuhan, baru mencapai buah terakhir, buah ketaatan, buah mempelai.
Ibrani 13:15
13:15 Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.
Ibrani 13:15 (Terjemahan Lama)
13:15 Sebab itu dengan jalan Yesus itu hendaklah kita senantiasa mempersembahkan kepada Allah korban puji-pujian, yaitu buah-buahan bibir mulut yang mengaku nama-Nya.
Ibrani 13:17
13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.
Ini buah yang memuliakan Tuhan. Dari mulut sampai kepada buah ketaatan, penundukan. Mempelai Wanita Tuhan itu tunduk sepenuh kepada Tuhan Yesus Kristus Mempelai Pria Sorga. Ini buah mempelai, buah terakhir.
Ayo tergembala, itu yang menentukan manisnya hidup kita. Kita disucikan, dipakai oleh Tuhan, diizinkan menghadapi pengalaman sengsara supaya berbuah, supaya berubah, ada buah yang manis. Bisa dinikmati sesama dalam rumah tangga, dinikmati sesama dalam penggembalaan. Sehingga tidak akan lagi pertengkaran, tidak ada lagi perbantahan, tidak ada keributan karena semua berbuah, tidak ada yang menuntut. Gembala membawa buah, jemaat bawa buah, suami bawa buah, isteri bawa buah, anak bawa buah, tidak akan ada yang menuntut, semua memberi. Itulah roh mempelai, memberi kepada Tuhan buah-buah yang manis.
Ibadah itu seharga Korban Kristus. Jangan biasa sampai sengaja tidak beribadah. Kalau biasa sampai sengaja tidak beribadah, itu justru mendatangkan hari-hari yang pahit dalam hidup kita. Tetapi kalau tergembala pasti berbuah,buah-buah yang manis. Mulai dari buah bibir, manis didengar Tuhan dan manis didengar sesama.
Tuhan Yesus memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar