Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Yohanes 15:4-7
15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
Ini mengenai hubungan Yesus sebagai pokok. Yesus adalah pokok anggur yang benar, wujudnya sekarang adalah Firman pengajaran yang benar. Kita adalah ranting atau carang, harus melekat pada pribadi Yesus.
Dalam Yohanes 15:1-8 ada 2 hubungan yang erat dengan Yesus sebagai pokok:
1. Hubungan kesetiaan (ayat 4 – 7)
2. Hubungan kesucian (ayat 1 – 3)
Kita masih membahas poin pertama hubungan kesetiaan. Apa yang dimaksud dengan setia di sini?
Pengertian setia:
1. Setia tergembala pada Firman pengajaran yang benar. Jadi bukan melihat gereja atau organisasi atau yang lain. Tetapi yang menjadi pokok persekutuan adalah Firman pengajaran yang benar, itulah pribadi Yesus sendiri.
2. Berpegang teguh pada Firman pengajaran yang benar apapun resikonya, apapun godaannya. Kita tidak pernah merubah Firman pengajaran apalagi meninggalkannya. Kalau kita mengubah dan meninggalkan Firman pengajaran = ranting lepas dari pokok. Mungkin awal terlepas masih hijau, masih bagus, tetapi makin lama dia kering dan tidak mungkin berbuah.
Terhadap ajaran palsu kita harus tegas, jangan mau mendengar dan jangan ingin tahu. Karena Tuhan tekankan melalui Musa, kalau masuk ke Kanaan jangan tanya-tanya bagaimana cara mereka beribadah. Jangan ingin tahu ajaran sesat itu bagaimana, harus ada ketegasan! Ingat Hawa, ketika dia mulai mengubah Firman, dalam hal ini menambah kata raba dan mengurangi kata bebas karena dia mendengar suara ular, akhirnya dia terkutuk dan terusir dari taman Eden, kehilangan Firdaus! Hawa bergaul dengan Allah, tetapi sekali dia mendengar suara ular dia menambah mengurangi Firman, dia kehilangan Firdaus dan terkutuk. Tragedi taman Eden semoga tidak terjadi lagi pada kita. Kalau dulu Adam dan Hawa diusir dari taman Eden ke dunia ini, nanti manusia diusir dari hadapan Tuhan ke neraka! Ini jangan terjadi dalam kehidupan kita.
Kesalahan yang banyak terjadi dalam penggembalaan:
1. Gembala memasukan ajaran campur demi menyenangkan hati jemaat. Itu sama seperti pokoknya lebih dari satu. Jadi rantingnya dicabut dari pokok yang satu lalu dipindah ke pokok yang lain. Nanti ada lagi ajaran baru, rantingnya dicabut, dipindah lagi ke pokok yang satu lagi. Jangankan berbuah, suatu saat pasti kering, tidak akan mungkin berbuah! Ini kesalahan dari gembala, memasukan ajaran campur. Jemaat senang, tetapi tanpa disadari itu ranting yang sudah diputus dari pokok anggur yang benar, dicangkokkan ke ranting yang lain. Akhirnya kering dan tidak mungkin berbuah.
2. Gembala dan jemaat tidak setia dalam ibadah pelayanan kepada Tuhan. Timbul tenggelam, kadang masuk, kadang tidak. Gembala kadang khotbah, kadang tidak. Itu seperti ranting dicabut kemudian dipasang lagi. Tidak setia tercabut lagi, dipasang, tercabut lama-lama kering, tidak mungkin berbuah.
3. Tidak setia dalam tahbisan yang benar. Kalau bicara tahbisan, banyak gereja yang sudah tidak mengerti apa itu tahbisan. Sudah tergembala, sudah melayani itu baik, tetapi kalau tidak dalam tahbisan yang benar itu juga ranting yang terlepas dari pokok, pasti kering dan tidak mungkin berbuah. Kita yang sudah tergembala, lanjutkan melayani dalam tahbisan yang benar.
Tahbisan yang benar itu melayani dalam sistem kerajaan Sorga.
Roma 14:17-18
14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
14:18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.
Pelayanan seperti ini pasti berkenan kepada Tuhan dan dihormati oleh manusia. Pengajaran adalah pokok tahbisan, makanya kesetiaan itu dimulai dari setia pada pengajaran yang benar. Kalau pokok tahbisan sudah benar, tahbisannya pasti benar, penyembahannya pasti benar.
Kita belajar dari Paulus, dia adalah hamba Tuhan yang memberikan teladan kepada Timotius anak didik yang dia bina. Pertama dia berikan teladan adalah pengajarannya, kalau pengajarannya sudah benar baru tahbisannya bisa diikuti. Jadi pengajaran dan tahbisan itu berkaitan erat, kalau pengajaran sudah salah tahbisannya salah. Kalau tahbisannya salah, satu saat menyimpang dari pengajaran.
II Timotius 3:10
3:10 Tetapi engkau telah mengikuti 1ajaranku, 2cara hidupku, 3pendirianku, 4imanku, 5kesabaranku, 6kasihku dan 7ketekunanku.
7 hal yang diteladani Timotius dari Paulus. Dimulai dari pengajaran, itu pokok tahbisan. Kemudian cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih dan ketekunan, itu bicara tahbisan. Ini semua adalah tahbisan seorang hamba Tuhan, ini harus ada pada hamba Tuhan, pada gembala. Terutama bisa diteladani oleh imam-imam, sidang jemaat yang ada.
Saya bergumul terus terutama soal kesabaran karena saya sadar kalau saya adalah hamba Tuhan yang tempramen. Ingat Musa, ketika Musa tidak sabar menghadapi bangsa Israel. Dalam keadaan berduka, Miryam baru meninggal, orang Israel datang marah-marah minta air. Tuhan bilang kepada Musa, katakan pada bukit batu supaya mengeluarkan air. Musa sudah habis kesabarannya menghadapi bangsa Israel, dia tidak mengatakan kepada bukit batu tetapi dia pukul bukit batu. Musa tidak sabar dampaknya kepada umat. Umat Israel tidak masuk Kanaan, Musa juga tidak masuk Kanaan. Ini bahaya, kalau gembala tidak sabar menghadapi jemaat, dia terpancing emosinya. Mungkin ada jemaat yang adalah utusan iblis menggocoh gembala, gembala terpancing emosi, gembala tidak masuk Kanaan, jemaat tidak masuk Kanaan. Makanya berusaha untuk selalu sabar.
II Timotius 4:2; 2:24
4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
2:24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar
Kalau mau ikuti daging terpancing juga. Tetapi ingat hal ini, hamba Tuhan harus sabar. Ingat Musa, karena tidak sabar tidak masuk Kanaan, umat juga tidak masuk Kanaan. Jangan sampai terjadi, karena satu peristiwa saya tidak sabar, saya tidak masuk Yerusalem Baru, jemaat juga tidak masuk Yerusalem Baru. Betapa tragisnya nasib kita.
Kita minta kepada Tuhan untuk bisa setia dalam tahbisan yang benar. Tanda-tanda tahbisan yang benar:
1. Bukan soal makan minum, artinya:
a) Motivasi pelayanan bukan mencari perkara yang jasmani. Kalau melayani untuk mendapatkan sesuatu yang jasmani itu sudah bukan tahbisan yang benar, apalagi kalau dia gembala! Dia sudah tinggalkan pekerjaannya yang dulu lalu menjadi hamba Tuhan malah cari gaji, cari uang, itu tahbisan sudah tidak benar. Sekalipun pengajarannya benar, suatu saat dia akan menyimpang dari pengajaran yang benar kalau sudah seperti itu.
b) Ibadah pelayanan bukan mengedepankan atau menggembar-gemborkan perkara yang jasmani. Gedung gerejanya, musiknya, bukan itu yang dikedepankan. Main musik di gereja itu mengiringi orang menyanyi, bukan malah kita mau tampil di sini. Kalau mau tampil, itu sudah mengedepankan yang jasmani. Kalau mau tunjukan skill ikut sana pentas di dunia. Termasuk kalau penyembahan, iringi penyembahan itu biar enak menyembah, tidak usah tunjukan skill. Makanya bermain musik sambil menyembah. Kalau sudah seperti itu berarti sudah mau menonjol mau mengedepankan yang jasmani.
Di situlah peranan Roh Kudus. Makanya saat menyembah ikut menyembah, jangan malah melotot-melotot lihat sana sini. Main musik tutup mata, ikut menyembah. Di sini bukan mau menunjukan saya hebat, saya jago, di sini mau memuliakan Tuhan. Bukan soal makan minum, bukan yang jasmani.
Hati-hati, kalau sudah mengedepankan yang jasmani itu sudah bersuasana kerajaan dunia, kerajaan maut!
I Yohanes 2:16-17
2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Suasana kerajaan dunia:
1) Berisi keinginan daging. Kalau suka menonjol itu sudah keinginan daging, daging yang disenangkan, bukan lagi menyalibkan daging. Kalau bisa meredam, saya mau tampil sederhana saja, ini baru suasana kerajaan Sorga.
2) Keinginan mata. Artinya kesegaran dunia di dalamnya. Ibadah sekarang sudah jadi tempat hiburan dan ladang pencarian uang, makanya dikemas luar biasa dengan kesegaran dunia, keinginan mata.
3) Keangkuhan hidup.
II Korintus 10:5
10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
Efesus 1:17
1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.
Keangkuhan hidup itu tanpa pengenalan akan Yesus yaitu tanpa Wahyu, tanpa pembukaan Firman, tidak mengenal Tuhan dengan benar. Kita periksa ibadah kita selama ini bersuasana kerajaan Sorga atau kerajaan dunia. Kalau sudah kerajaan dunia pasti bersuasana kerajaan maut. Apa itu kerajaan maut? Dosa bertumbuh subur, tetap dipertahankan, tidak ada disentuh Firman.
Roma 6:23
6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Makanya dosa tidak pernah disentuh, tidak pernah terjadi penyucian karena bukan Alkitab yang disampaikan.
2. Ada kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Apa itu kebenaran?
a) Sesuai kehendak Tuhan = sesuai Firman Tuhan. Bagaimana Tuhan atur, itu yang diikuti, jangan bikin aturan sendiri melawan kehendak Tuhan. Banyak orang melayani tetapi tidak sesuai kehendak Tuhan, Tuhan bilang pembuat kejahatan!
b) Ada penyucian yang tegas oleh Firman pengajaran yang benar, sehingga mengalami kemerdekaan atau kelepasan dari segala ikatan. Mau melayani Tuhan jangan ada ikatan, terutama ikatan dosa!
Yohanes 17:17; 8:32
17:17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Firman menyucikan sehingga kita merdeka, bisa lepas dari segala ikatan, ikatan dosa. Kita periksa, saya melayani selama ini ada kebenaran atau tidak. Sesuai kehendak Tuhan, mau disucikan, lepas dari ikatan dosa atau justru tambah terikat. Kalau tambah terikat itu kerajaan maut, bukan kerajaan Sorga.
Soal damai sejahtera berarti tidak ada lagi iri hati, pahit hati, kebencian, sehingga kita bisa menyembah. Kalau damai pasti bisa menyembah. Kalau ada iri, kepahitan tidak akan bisa menyembah. Sekalipun suaranya lantang berseru haleluya tetapi penyembahannya tidak naik karena ada kebencian di situ.
I Petrus 4:7
4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Kalau sudah tenang, damai, bisa menyembah Tuhan. Jadi ketika ada sesuatu yang mengganjal, selesaikan! Itu tahbisan yang benar. Jangan dipertahankan terus.
Ada sukacita oleh Roh Kudus yaitu:
a) Sukacita karena disucikan. Bukan malah marah waktu dosanya ditunjuk. Kita malah berterima kasih dosaku dinyatakan, berbahagia, bersukacita.
b) Sukacita melayani Tuhan dengan pengabdian diri, bukan dengan terpaksa. Tidak ada gunanya kita melayani kalau dengan terpaksa.
I Petrus 5:1-2
5:1 Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.
5:2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.
Saya memasak untuk Tuhan, saya main musik untuk Tuhan, saya terima tamu untuk Tuhan, khotbah untuk Tuhan. Semua untuk Tuhan, sehingga kita tidak terpengaruh dengan omongan apa saja. Kalau kita melayani untuk manusia, begitu ada omongan miring kita marah, pasti tidak terima! Apa lagi kalau melayani untuk mencari pujian, tidak bisa dikritik, kalau ditunjuk salahnya malah mengamuk. Tetapi kalau dengan pengabdian diri apa saja orang bilang kita tidak peduli, yang penting saya menyenangkan Tuhan. Kalau kritik yang membangun diterimalah. Jangan marah kalau ada nasihat dan teguran yang membangun.
Kalau tahbisan sudah benar, pelayanan pasti enak dan ringan. Ranting yang melekat pada pokok itu enak dan ringan, tidak usah dia yang mencari makan. Akar yang serap makanan, batang yang meneruskan, ranting tinggal menyedot, sebentar lagi berbunga dan berbuah, semua jadi enak dan ringan. Kenapa pelayanan jadi berat? Karena tahbisannya ada yang salah! Mungkin motivasinya salah, mengedepankan yang jasmani, yang duniawi, atau tidak mau disucikan. Kalau sudah benar dan ringan semua. Dan dikatakan pelayanan kita berkenan kepada Tuhan, ditambah kita dihormati manusia. Tidak perlu cari hormat.
Roma 14:18
14:18 Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.
Bukan hanya dihormati manusia, tetapi dihormati Tuhan.
Yohanes 12:26
12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Mungkin ada manusia yang menghina tidak apa-apa yang penting Tuhan menghormati, yang penting tahbisan kita benar. Jangan sampai Tuhan yang hina saya, Tuhan yang olok-olok.
Hasilnya di mana Yesus berada di situ kita berada. Artinya kalau tahbisan kita benar maka penyertaan Tuhan nyata dalam hidup kita. Kalau Tuhan menyertai pasti ada pemeliharaan Tuhan. Tidak pernah saya dengar hamba Tuhan yang melayani dalam tahbisan yang benar dia mati kelaparan, dia terlunta-lunta. Lihat saja contoh-contoh dalam Alkitab, hamba Tuhan yang tahbisannya benar dibela oleh Tuhan. Banyak tuduhan dan kata-kata kebencian kepada kita, tetapi nanti Tuhan bela. Kita akan memperoleh keadilan kekal! Kalau disertai Tuhan pasti ada perlindungan dari Tuhan, juga pasti ada pertolongan Tuhan. Dan terakhir ada kebahagiaan dari Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat atau dipengaruhi oleh apapun yang ada di dunia ini. Saya merasakan bahagia kalau bisa melayani asal dalam tahbisan yang benar. Tidak bisa diterangkan dengan kata-kata, biar menjadi pengalaman kita masing-masing. Sampai nanti betul-betul kita menyatu dengan Yesus sebagai Kepala. Di mana Kepala berada yaitu di Yerusalem Baru, di situ juga kita tubuhnya berada, di Yerusalem yang Baru.
Di penghujung tahun 2025 ini, kita periksa tahbisan kita selama ini, apa yang salah sehingga semua menjadi berat diperbaiki sehingga menjadi enak dan ringan, kita disertai oleh Tuhan. Pasti ada pemeliharaan, pasti ada pembelaan, pasti ada perlindungan, ada pertolongan, ada kebahagiaan dari Tuhan.
|
GPT “Kristus Penebus” Jl. Langgadopi No.4 Tentena Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663 HP: 081334496911 Email: imamat_raja@yahoo.com |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar