20250615

Kebaktian Umum, Minggu 15 Juni 2025 Pdt. Handri Otniel Legontu

Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Wahyu 14:12-13

14:12 Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.

14:13 Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

 

Tuhan mau memberikan kebahagiaan Sorga kepada kita umat ketebusanNya. Jadi pada pasal ini kita diperhadapkan 2 pilihan:

1.      Kebahagiaan Sorga. Kalau kita menghargai karya penebusan Tuhan dan seluruh lawatan Tuhan maka kita masuk kebahagiaan sorga yang tidak dibatasi oleh apapun, bahkan oleh maut.

2.      Penghakiman dan penghukuman. Kalau tidak menghargai lawatan Tuhan maka ada penghakiman dan penghukuman Tuhan.

 

Tinggal kita mau pilih yang mana. Biarlah kita berjuang untuk masuk kebahagiaan Sorga, kebahagiaan yang tidak bisa dibatasi oleh apapun bahkan oleh maut! Dikatakan berbahagialah orang yang mati di dalam Tuhan. Penekanannya di dalam Tuhan, bukan perkara hidup atau mati, orang yang mati di dalam Tuhan akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan masuk kebahagiaan Sorga. Orang yang hidup sampai Tuhan Yesus datang yang selama hidupnya dia hidup di dalam Tuhan, dia juga akan diubahkan sekejab mata dan masuk dalam kebahagiaan Sorga, kebahagiaan selamanya. Jadi yang penting adalah selama kita hidup di dunia ini, kita mau hidup di dalam Tuhan. Bukan berarti sudah Kristen berarti sudah hidup di dalam Tuhan, belum tentu!

 

Praktek hidup di dalam Tuhan:

1.      Percaya iman kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat yang dibuktikan dengan kelepasan dari dosa.

I Yohanes 3:6

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

 

Kalau hidup dalam Tuhan tidak berbuat dosa, lepas dari dosa, mengalami kelepasan dari dosa.

 

2.      Setia dan tekun tergembala seperti ranting-ranting melekat pada 1 pokok anggur yang benar.

Yohanes 15:5-7

15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

 

Tinggal di dalam Aku, berarti tergembala seperti ranting-ranting melekat kepada pokok anggur yang benar. Pokoknya satu itulah Yesus, disitulah kita tergembala, pada Firman pengajaran yang benar.

 

3.      Hidup seperti Yesus hidup.

I Yohanes 2:6

2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

 

Yohanes 14:19

14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.

 

Pengertian hidup dalam Tuhan adalah hidup seperti Yesus hidup. Yesus datang ke dunia ini untuk memberikan teladan bagaimana kita harus hidup, kita teladani Yesus. Kita mau belajar bagaimana hidupnya Yesus di bumi ini.

 

Praktek hidup seperti Yesus hidup:

a)      Masuk dalam pengalaman kematian bersama Yesus yaitu sengsara daging atau penyaliban daging untuk berhenti berbuat dosa!

I Petrus 4:1

4:1 Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, — karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa —,

 

Sikap yang salah dalam menghadapi pengalaman kematian.

Yohanes 14:1-2

14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

 

Saat Yesus sudah mau mengalami pengalaman salib, murid-murid gelisah dan takut. Ini sikap yang salah, gelisah dan takut. Mau berhenti berbuat dosa malah takut, nanti teman-teman jauhi, nanti jualan tidak laku. Gelisah = tidak percaya kepada Yesus, tetapi tidak juga menolak Yesus. Jadi gelisah = bimbang menghadapi dosa. Kalau berhenti berbuat dosa bagaimana dagangan saya, tetapi kalau saya mau buat, Firman Tuhan bilang tidak boleh. Kalau sudah bimbang pasti pilih yang salah! Pilih dosa, sehingga jatuh di dalam dosa.

 

Ini yang benar:

Lukas 23:46-47

23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 

23:47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: "Sungguh, orang ini adalah orang benar!"

 

Sebenarnya ketika kita diperhadapkan sengsara daging untuk berhenti berbuat dosa, berarti kita mengenal Yesus sebagai orang benar, manusia seperti kita. Kalau Yesus manusia bisa, maka kita juga pasti bisa. Kecuali dikatakan ‘sungguh ini Tuhan’. kalau disebut Tuhan, jauhlah kita dengan Tuhan! Di sini Yesus menyandang predikat ‘orang’. Orang yang sama seperti kita, makan, minum, tidur seperti kita. Jadi dalam pengalaman sengsara untuk berhenti berbuat dosa, kita mengenal Yesus orang benar yang mau mati sebagai korban pendamaian bagi kita, untuk membenarkan kita.

 

Jangan pikir untung ruginya, yang kita pikir lepas dari dosa, berhenti berbuat dosa, hidup dalam kebenaran. Yesus orang benar, saya juga bisa jadi orang benar seperti Yesus. Saya mau hidup dalam Tuhan, mau hidup seperti Yesus hidup. Dia orang benar, maka saya juga mau menjadi orang benar supaya menjadi seperti Yesus.

 

Memang menjadi orang benar yang lurus-lurus, dibenci, dijauhi, tidak disukai. Dalam pekerjaan, orang yang benar itu tidak disuka, di sekolah tidak disuka, dalam kelas yang paling dimusuhi orang yang suka melapor kepada guru. Dalam instansi apa saja sampai dibagian hukum, kalau ada yang benar itu digencet, diusir, disingkir sampai di pecat. Yesus orang benar, sampai ditinggal sendiri di kayu salib, tidak ada yang bela. Orang benar resikonya sampai di tinggal sendiri, tetapi Yesus bersama dengan kita. Tidak usah takut, kita pertahankan kebenaran, pasti kita disertai Tuhan.

II Korintus 5:18,20

5:18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

 

Mau jadi orang benar berarti mau berdamai, hidup dalam pendamaian. Jangan mengaku hamba Tuhan benar kalau tidak mau berdamai. Kadang kami hamba Tuhan seperti itu, jemaat diajar berdamai, gembalanya bagaimana? Tidak mau berdamai. Kalau orang benar, pelayan Tuhan yang benar, mau berdamai. Biarlah kita mau berdamai dengan Tuhan dan dengan sesama maka kita akan dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus, pelayanan pendamaian. Apapun pelayanan yang kita kerjakan ini pelayanan pendamaian, kerjakanlah dengan hati damai, kerjakanlah dengan kelepasan dari dosa, tidak ada lagi dosa di hati yang disembunyikan. Kalau sudah berdamai, tidak akan gelisah lagi, sudah tenang. Orang benar pasti tenang, damai sejahtera.

Yesaya 32:17

32:17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

 

Dalam nikah rumah tangga kalau benar pasti tenang dan damai. Suami atau isteri pinjam handphone, karena tidak ada yang disembunyi di situ, pasti tenang dan damai. Kalau ada sesuatu di situ yang tidak beres, belum apa-apa sudah ditanya-tanya. Dalam pelayanan juga kalau tidak benar pasti tidak damai. Yang membuat kita bisa berdamai dengan Tuhan dan dengan sesama adalah luka Yesus yang kelima yaitu luka di lambung Yesus.

 

Kita bisa berdamai dan kita bisa berserah sepenuh kepada Tuhan. Yesus orang benar, waktu Dia mau mati, Dia berkata ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu. Itulah orang benar, bisa menyerah sepenuh kepada Tuhan. Apapun resiko yang di hadapi karena mempertahankan kebenaran, dia bisa berserah kepada Tuhan ‘terserah Engkau Tuhan’. Itu orang benar, hanya berkata biar kehendakMu yang terjadi, bukan kehendakku. Saya bekerja dengan benar, saya mau melayani dengan benar, biar teman-teman yang lain tidak benar, saya mau benar!. Saya mau bersekutu, biar yang lain tidak mau masuk persekutuan yang benar, saya mau masuk persekutuan yang benar, apapun resikonya, hidupku kuserahkan padaMu, terserah Engkau Tuhan.

Yohanes 19:32-34

19:32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus;

19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,

19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

 

Proses untuk benar seperti Yesus benar.

1)      Memandang darah yang keluar dari lambung Yesus. Artinya berhenti berbuat dosa. Saya mau benar seperti Yesus benar, saya mau berhenti dari segala ketidakbenaran. Mungkin selama ini banyak yang salah dalam pelayanan, stop tidak dilanjutkan lagi. Nikah salah, stop tidak dilanjutkan lagi. Dalam hidup sehari-hari ada yang salah, stop tidak dilanjutkan lagi. Itu memandang darah yang keluar dari lambung. Berupaya untuk tidak melakukan kesalahan lagi! Berupaya stop dari kesalahan, jangan ada kesalahan lagi.

 

2)      Memandang air yang keluar dari lambung. Air ini bicara baptisan. Baptisan atau kelahiran baru melepaskan dari dosa. Memandang air artinya ada kelepasan dari dosa. Setelah berhenti, harus terlepas. Karena kadangkala sudah berhenti, tetapi masih terulang. Harus lepas, mengalami kelepasan dari dosa. Itulah orang benar.

I Yohanes 3:7,9

3:7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;

3:9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

 

Tidak dapat berbuat dosa, mau digoda, dipaksa, diancam, kesalahan yang dulu tidak mau diulangi lagi. Itu benar seperti Yesus benar. Tidak ada lagi yang menuduh di dalam hati kita sehingga kita punya keberanian untuk mendekat kepada Tuhan! Yesus orang benar, saya juga orang benar, bisa mendekat. Kalau di dalam Mazmur pasal 1 dikatakan orang fasik tidak tahan dalam persekutuan orang benar.

Mazmur 1:1,5

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

 

Contohnya kita persekutuan orang benar, yang tetap bertahan dalam dosa tidak akan bertahan di sini, nanti orang itu keluar! Dalam nikah juga begitu, suami benar, anak-anak benar, isteri tidak benar, dia tidak akan tahan di situ. Kalau anak-anak di rumah merasa seperti di hotel orang tua sudah harus waspada, ada yang tidak benar dia lakukan itu. Pulang cuma datang tidur lalu pergi ke mana-mana, tidak tahan berkumpul dengan keluarga, mau makan bersama tidak mau, itu sudah alarm bahaya, ada yang tidak benar dia lakukan! Karena memang orang berdosa tidak akan tahan dalam perkumpulan orang benar.

 

Keadaan saya dulu begitu, ketika sudah melakukan macam-macam dosa, kalau pulang tidak tahan lama-lama di rumah. Kalau libur bukannya senang, malah tidak senang karena lama kumpul dengan orang tua. Dalam penggembalaan kalau mulai tidak tahan berkumpul, itu berarti ada yang tidak benar dia buat. Tetapi kalau kita benar, semakin betah dalam persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama. Apalagi hubungannya dengan Tuhan, tambah erat, sehingga selalu mengalami damai sejahtera, tenang terus karena dekat dengan Tuhan. Kalau dekat dengan Tuhan, tidak usah kita bilang butuh ini butuh itu, Tuhan sudah tahu apa yang kita butuhkan.

I Yohanes 3:19-22

3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,

3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.

3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,

3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

 

Orang benar apa saja yang dia minta Tuhan berikan, hidup kekal saja Tuhan berikan apalagi hanya perkara hidup sehari-hari, Tuhan berikan, Tuhan sediakan. Memang sengsara kita alami karena menghadapi keadaan dunia akhir zaman ini yang menekan menghimpit kita, dosa di mana-mana, tetapi kita bertahan untuk hidup benar. Lot orang benar, tersiksa batinnya, itu juga yang kita hadapi. Kita keluar rumah lihat orang melakukan kenajisan. Pergi ke kebun cari ketenangan, begitu duduk-duduk sandar di pohon lihat ke atas, buahnya sudah dicuri orang, tersiksa hatinya. Batin tersiksa tetapi Tuhan berikan ketenangan damai sejahtera.

 

b)      Masuk dalam pengalaman kebangkitan bersama Yesus. Saat diperhadapkan dengan pengalaman kebangkitan, banyak kali kita bersikap yang salah. Sikap yang salah dalam pengalaman kebangkitan bersama Yesus.

Lukas 24:13-17,21-23

23:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,

23:14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

23:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.

23:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

23:17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.

23:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

23:22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,

23:23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.

 

Ternyata mereka ikut Yesus cuma mau mencari pertolongan jasmani! Ini sikap yang salah, pengalaman kebangkitan diukur dari perkara yang jasmani. Misalkan hamba Tuhan belum punya motor belum bangkit. Toko belum maju, belum bangkit. Karena semua diukur dengan perkara jasmani maka tidak percaya kuasa Tuhan sehingga wajahnya jadi muram sampai putus pengharapan.

 

Yohanes 24:27,30-32

24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.

24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"

 

Praktek masuk pengalaman kebangkitan bersama Yesus:

1)      Yesus menjelaskan kepada mereka segala sesuatu yang tertulis tentang Dia di dalam kitab suci. Jadi prakteknya kita percaya kepada Firman yang dibukakan rahasianya oleh Tuhan, yang diterangkan kepada kita dengan sejelas-jelasnya, itu kebangkitan! Sebagai hamba Tuhan saya harus menerangkan Firman sejelas-jelasnya supaya jemaat percaya. Percaya Firman itu praktek kebangkitan bersama Yesus. Kaya tetapi tidak percaya Firman, itu bukan kebangkitan. Itu bisa kebangkitan palsu, kebangkitannya antikristus. Antikristus luka yang membahayakan hidupnya tetapi kemudian sembuh, itu kebangkitan palsu, hanya yang jasmani. Hamba Tuhan maju pelayanan, banyak jemaat, tetapi tidak percaya Firman, tidak ada pembukaan rahasia Firman.

 

2)      Berkobar-kobar dalam mendengar Firman pengajaran yang benar.

Yeremia 15:16

15:16 Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.

 

Kita periksa diri kita waktu mendengar Firman bagaimana, semangat, berkobar-kobar, bahagia? Atau mulai berasap-asap, mulai kendor.

Roma 12:11

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

 

Jangan sampai kita kendor, terutama dalam mendengarkan Firman. Karena kekuatan kita hanya Firman. Kalau sudah kendor mendengar Firman mau menghadapi setan dengan kekuatan sendiri tidak akan bisa.

 

3)      Setelah berkobar-kobar mendengar Firman langsung praktekan Firman, taati Firman. Ini rohani hidup.

 

Bagaimana itu mempraktekan Firman?

Lukas 24:33

24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.

 

Tadinya mereka dari Yerusalem pergi ke Emaus. Emaus artinya mata air panas, menunjuk daya tarik dunia, Yerusalem pusat ibadah. Pusat ibadah mereka tinggalkan untuk menuju pada daya tarik dunia. Setelah hati mereka berkobar-kobar, mereka tinggalkan Emaus untuk menuju Yerusalem. Jadi praktek Firman adalah melepaskan diri dari pengaruh dan ikatan dunia untuk kita bergairah dalam kegiatan rohani! Bukan malah loyo. Apalagi kalau hamba Tuhan, terlebih gembala, untuk yang jasmani semangat, tetapi untuk yang rohani malah loyo, bahaya!

 

Kalau Firman kita percayai, kita praktekan, maka ada hasilnya:

1)      I Petrus 1:22

1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

 

Hasilnya terjadi penyucian sehingga saling mengasihi. Kita merasakan dan sesama kita yang terdekat juga merasakan kita sudah lain, lain dalam hal yang positif, sudah mengalami penyucian. Terjadi penyucian sehingga bisa saling mengasihi, mulai dari dalam rumah tangga, suami dan isteri bergairah mendengar Firman, disucikan, maka bisa saling mengasihi. Kalau tidak mau melakukan Firman, tidak suci, pasti saling menjauhi. Saling mengasihi di sini bukan diukur dengan perkara jasmani. Ada orang kelihatan saling mengasihi dan menyayangi karena ada uang, karena perkara-perkara yang jasmani. Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang. Kalau ada berkat saling mengasihi, begitu tidak dapat apa-apa di situ mulai saling menjauhi. Kasih yang benar itu hasil kesucian!

 

2)      Kita mendapat hikmat dari Tuhan, menjadi orang yang bijaksana.

Matius 7:24

7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

 

Kita menjadi orang bijaksana, orang berhikmat. Ini bijaksana dari sorga, bukan bijaksana dari dunia. Kita menjadi 5 gadis bijaksana yang akan masuk pesta nikah Anak Domba.

 

Dunia yang kita tinggali ini sedang mengalami krisis. Kalau belajar dari Firman memang arahnya ke sana semua, tidak ada yang baik. Tetapi kalau kita punya hikmat dari sorga, kita menjadi orang bijaksana, mau melakukan Firman, hikmat itu yang memberikan keberhasilan di tengah-tengah krisis dunia ini. Orang lain krisis, kita berhasil ditolong oleh Tuhan karena mau melakukan Firman. Langit dan bumi diciptakan lewat FirmanNya, kenapa kita mau ragu. Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi, lalu Tuhan berfirman. Oleh Firman Tuhan langit dan bumi diciptakan.  

Pengkhotbah 10:10

10:10 Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.

 

Keadaan dunia krisis, besi menjadi tumpul jadi harus memperbesar tenaga. Kalau di dunia seperti itu, menghadapi krisis harus memperbesar tenaga, memperbesar modal, toko diperbesar, tenaganya diperbesar. Tetapi orang yang hidup di dalam Tuhan kalau menghadapi krisis praktekan Firman, ada hikmat, itu yang menjamin keberhasilan di dunia. Bahkan berhasil  nanti melewati puncak krisis, kita luput dari aniaya antikristus.

Wahyu 13:18

13:18 Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.

 

Jadi kalau disimpulkan masuk pengalaman kebangkitan bersama Yesus adalah suci dan berhikmat sebagai hasil pekerjaan Firman. Kalau hati kita suci, hidup kita suci, kita bisa melihat Tuhan.

Matius 5:8

5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

 

Melihat Tuhan artinya kita bisa menyembah Tuhan. Juga artinya kita bisa melihat Tuhan bekerja nyata dalam hidup kita. Orang benar tidak akan pernah ditinggalkan. Kita lihat bagaimana Tuhan bekerja, sampai kita terkagum-kagum, terheran-heran. Modal saya sekian tetapi koq bisa saya terpelihara. Itu toko di sebelah modalnya banyak tetapi sudah nyaris tutup. Saya hanya punya kebun sepetak tetapi saya tidak punya hutang, saya terpelihara. Itu kebunnya berhektar-hektar tetapi tiap malam tidak bisa tidur ingat hutang. Kita melihat keajaiban Tuhan yang luar biasa sehingga kita tidak pernah meninggalkan Tuhan. Hanya orang bodoh kalau sudah melihat pekerjaan Tuhan dalam hidupnya lalu meninggalkan Tuhan! Sudah melihat bagaimana Tuhan membela dan menolong, koq ditinggalkan.

 

c)      Masuk kemuliaan bersama Yesus. Waktu Yesus bangkit, murid-murid melihat Yesus, kemudian Yesus terangkat ke Sorga dalam kemuliaan. Mereka memandang Tuhan Yesus terangkat sambil melongo.

Kisah Para Rasul 1:9-11

1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.

1:10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,

1:11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

 

Waktu Yesus naik ke sorga mereka melongo, tidak sadar ada 2 malaikat di samping. Sikap murid-murid ini banyak kali dilakukan juga oleh gereja Tuhan di akhir zaman. Seharusnya kita ada kesiapan menyambut Yesus tetapi ini malah tidak siap. Sikap gereja Tuhan di akhir zaman adalah tidak siap sedia untuk menyambut Yesus dalam kemuliaan. Malaikat itu berkata Yesus yang kamu lihat terangkat ke Sorga itu akan datang dengan cara yang sama dalam kemuliaan. Jadi kenaikan Yesus juga menunjuk kedatanganNya dalam kemuliaan.

 

Banyak gereja Tuhan seperti itu, hanya melongo, tidak punya persiapan yang matang, tidak siap sedia, tidak aktif dalam pelayanan pembangunan Tubuh kristus. Kalau Yesus datang mereka tertinggal. Dalam Injil Matius dikatakan berbahagialah hamba yang ketika tuannya datang didapati sedang beraktivitas, bukan melongo. Jangan menjadi hamba Tuhan pelayan Tuhan yang cuma melongo saja, tidak ada kesiapan, tidak ada aktivitas. Yang lain kerja, dia hanya melongo. Yang lain aktif melayani dia cuma melongo.

 

Kita harus aktif dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus untuk siap sedia menyambut Yesus yang datang dalam kemuliaan. Jangan ada yang melongo, semua aktif dan bergairah dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus yang sempurna.

 

Pelayanan pembangunan Tubuh Kristus bukan nanti dalam KKR! Kadangkala kita kelihatan aktif hanya nanti kalau KKR. Bagaimana di dalam penggembalaan? Keaktifan kita mulailah dari dalam kandang penggembalaan. Ada 2 malaikat datang, ini menunjuk gembala. 2 malaikat membawa 1 berita, ini 2 menjadi 1. Ini bahasa nikah. Jadi aktiflah dalam penggembalaan yang dibina oleh Kabar Mempelai. 2 malaikat, malaikat yang satu membawa berita, malaikat yang lain juga bawa berita yang sama, ini menunjuk kelimpahan Firman. Disitulah kita tergembala, aktif dalam penggembalaan yang dibina oleh Kabar Mempelai, yang di dalamnya ada kelimpahan Firman. Setelah itu baru bisa keluar.

 

Ini yang saya tidak pernah harapkan, jangan setelah ibadah persekutuan dalam penggembalaan malah kering, tidak bergairah. Di dalam dulu kita bergairah, baru kita keluar dalam persekutuan. Kalau dalam penggembalaan sudah bergairah, biar tiap bulan mau KKR juga bisa.

 

Orang yang bergairah dalam penggembalaan bagaikan pohon gandarusa yang ditanam di tepi aliran air sungai kehidupan.

Yesaya 44:3-4

44:3 Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.

44:4 Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai.

 

Ayo kita bergairah melayani dalam penggembalaan, nanti dipercayakan yang lebih besar. Nomor satu untuk saya. Saya mau melayani keluar tetapi kalau dalam penggembalaan tidak bergairah, bagaimana bisa. Pelayanan di luar adalah kelimpahan dari dalam. Dari dalam dulu kelihatan bergairah. Semangat, ada api Roh Kudus.

 

Kalau dalam penggembalaan tidak bergairah, lalu paksakan mau melayani keluar, akhirnya jadi seperti pohon gandarusa di tepi sungai Babel.

Mazmur 137:1-3

137:1 Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.

137:2 Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita.

137:3 Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!"

 

Sudah tidak bergairah dalam penggembalaan lalu disuruh KKR, itu seperti orang ditawan lalu disuruh menyanyi. Orang sementara berduka cita disuruh menyanyi lagu sukacita. Nanti akibatnya semua kecapi digantung, kecapi bicara pelayanan. Pulang KKR ‘om saya berhenti melayani’ semua gantung kecapi, pensiun dari pelayanan.

 

Ayo tertanam dulu dalam pohon air kehidupan, jangan di Babel. Kalau di dalam belum bergairah lalu dipaksa melayani, arahnya nanti ke Babel. Kelihatan semangat tetapi sebenarnya di hati teriris-iris, orang lagi loyo, lagi tertawan disuruh menyanyi. Tetapi kalau di dalam sudah menyala-nyala, disuruh menyanyi api Roh Kudus, lebih besar lagi apinya, semangat melayani.

 

Saya berbahagia sebelum kita melakukan aktivitas pelayanan Tuhan sudah mendahului kita dengan FirmanNya. Biarlah lebih dulu kita bernyala-nyala dengan api Roh Kudus.

 

Roh Kudus juga digambarkan seperti air hujan, membasahi apa yang sudah kering. Mungkin pelayanan kita sekarang mulai kering, hati kita mulai kering, minta Roh Kudus. Api Roh Kudus membuat kita membara berkobar-kobar, air yang membuat kita puas dan segar kembali tidak ada kekeringan lagi. Maka ketika Yesus datang kita siap menyambut Dia. Kita sudah melayani berkobar-kobar dalam penggembalaan, antara penggembalaan, maka ketika Yesus datang lebih menyala lagi. Seruan yang besar, kencang, keras menyambut Yesus ‘haleluya’ kita masuk pesta nikah Anak Domba Allah.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar