20251026

Kebaktian Umum, Minggu 26 Oktober 2025 Pdt. Handri Otniel Legontu

 




Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.


Wahyu 15:1-4

 

15:1 Dan aku melihat suatu tanda lain di langit, besar dan ajaib: tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka terakhir, karena dengan itu berakhirlah murka Allah.

15:2 Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Allah.

15:3 Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! 

15:4 Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu."

 

Ayat 1 menunjukan waktu berakhirnya murka Allah yaitu setelah 3x7 penghukuman dari Allah Tritunggal dijatuhkan atas bumi ini. 7 meterai dari Allah Roh Kudus, 7 sangkakala dari Anak Allah, 7 malapekata dari Allah Bapa. Langit bumi lenyap dan kita gereja Tuhan sudah berpindah ke langit dan bumi yang baru.

 

Ayat kedua menunjukan orang-orang yang sudah menang atas trio setan yaitu orang-orang yang berdiri di tepi lautan kaca bercampur api.

Wahyu 4:6

4:6a  Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal;

 

Lautan kaca ini menunjuk baptisan air yang benar. Untuk kita bisa luput dari murka Allah dan menang atas setan tritunggal, harus masuk baptisan air yang benar. Bukan berarti di sorga masih ada baptisan air. Tetapi ini adalah kesaksian Sorga bahwa baptisan air yang benar adalah landasan yang kuat bagi rohani kita untuk mencapai takhta Sorga dan kita luput dari hukuman Tuhan atas dunia ini.

 

Dulu rasul Yohanes melihat dengan jelas kerajaan Sorga, dia melihat lautan kaca. Jauh sebelumnya juga ada nabi Musa yang melihat dengan jelas kerajaan Sorga dan Tuhan menyuruh Musa membangun miniatur kerajaan Sorga. Lautan kaca itu sama dengan kolam basuhan. Yohanes melihat pintu Sorga dibuka, Musa membuat pintu gerbang. Yohanes melihat takhta berdiri di Sorga dan Yesus duduk di situ, Musa melihat Tabut Perjanjian dan di atas Tabut itu ada Shekina Glori, sinar kemuliaan Tuhan. Yohanes melihat pelangi melingkupi takhta, Musa membuat pintu kemah. Ada 24 tua-tua, Musa membuat meja roti sajian. Ada 7 obor menyala-nyala, Musa melihat 7 lampu pada pelita emas. Lautan kaca sama dengan bejana pembasuhan. 4 makhluk itu adalah 4 tiang pada pintu kemah. Ada Anak Domba yang tersembelih itu adalah mezbah korban bakaran. Jadi apa yang dilihat oleh rasul Yohanes ada kesamaan dengan yang dilihat nabi Musa.

 

Kita berbicara tentang bejana pembasuhan.

Kejadian 30:17-21

30:17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

30:18 "Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kautempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kautaruhlah air ke dalamnya.

30:19 Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya.

30:20 Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN,

30:21 haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."

 

Jadi fungsi bejana pembasuhan adalah untuk membasuh tangan dan kaki Harun dan anak-anaknya untuk melakukan pelayanan di Tabernakel. Jadi baptisan air yang benar = membasuh tangan dan kaki, artinya mengalami penyucian perbuatan dan perjalanan hidup. Baptisan air bukan sekedar sakramen di gereja sehingga setiap organisasi ada caranya sendiri-sendiri. Bahkan ada yang menganggap baptisan air tidak penting. Baptisan air sangat penting, Sorga saja menyaksikan baptisan air!

 

Syarat baptisan air adalah mati terhadap dosa = bertobat

Roma 6:2

6:2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

 

Pelaksanaannya:

Roma 6:4

6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

 

Pelaksanaannya dikubur bersama Yesus dalam air dengan meterai nama Allah Tritunggal yang jelas. Dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dan yang juga penting yang melayani harus hamba Tuhan yang jelas tahbisannya. Sehingga kita dilahirkan dalam keluarga Allah, warga kerajaan Sorga sehingga ada kesempatan yang besar, ada harapan yang besar untuk bisa masuk di dalam kerajaan Sorga.

 

Jadi baptisan air itu membasuh tangan dan kaki, artinya penyucian perbuatan dan perjalanan hidup yang berdosa. Kita masih membahas membasuh tangan, ini penyucian perbuatan dosa, perbuatan daging.

 

Harun dan anak-anaknya harus membasuh tangan dan kaki mereka dari dalam bejana pembasuhan. Waktu dicatat tentang nenek moyang Harun dicantumkan kaum keluarga Ruben dan Simeon.

Keluaran 6:13-19 (Perikop: nenek moyang Musa dan Harun)

6:13 Inilah para kepala kaum keluarga mereka: Anak-anak Ruben anak sulung Israel: Henokh, Palu, Hezron dan Karmi; itulah kaum-kaum Ruben.

6:14 Anak-anak Simeon: Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin, Zohar, dan Saul, anak seorang perempuan Kanaan; itulah kaum-kaum Simeon.

6:15 Inilah nama anak-anak Lewi menurut urutan kelahirannya: Gerson, Kehat dan Merari. Umur Lewi seratus tiga puluh tujuh tahun.

6:16 Anak-anak Gerson: Libni dan Simei, menurut kaum mereka. 

6:17 Anak-anak Kehat: Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel. Umur Kehat seratus tiga puluh tiga tahun.

6:18 Anak-anak Merari: Mahli dan Musi. Itulah kaum-kaum Lewi menurut urutannya.

6:19 Dan Amram mengambil Yokhebed, saudara ayahnya, menjadi isterinya, dan perempuan ini melahirkan Harun dan Musa baginya. Umur Amram seratus tiga puluh tujuh tahun.

 

Mengapa dalam pencatatan silsilah Harun dan Musa dicantumkan keturunan Ruben dan Simeon? Bicara nenek moyang menunjuk hidup lama. Dicantumkan Ruben dan Simeon tentu ada maksudnya bagi kita.

 

Jadi seorang hamba Tuhan, pelayan Tuhan harus lepas dari hidup lama yaitu harus mengalami penyucian dari perbuatan Ruben dan perbuatan Simeon. Kita bukan lagi imam dari suku Lewi secara keturunan, tetapi kita diangkat menjadi imam lewat jalur kemurahan. Sebagai hamba Tuhan, pelayan Tuhan harus lepas dari hidup lama yaitu lepas dari perbuatan Ruben dan perbuatan Simeon. Kita pelajari dari Alkitab bukan untuk kita lakukan tetapi supaya kita lepas dari perbuatan Ruben dan Simeon.

 

1.      Perbuatan Ruben

Kejadian 35:22a; 49:3-4

35:22a  Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel.

49:3 Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.

49:4 Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!

 

I Tawarikh 5:1

5:1 Anak-anak Ruben, anak sulung Israel. Dialah anak sulung, tetapi karena ia telah melanggar kesucian petiduran ayahnya, maka hak kesulungannya diberikan kepada keturunan dari Yusuf, anak Israel juga, sekalipun tidak tercatat dalam silsilah sebagai anak sulung.

 

Ini perbuatan Ruben, dia tidur dengan Bilha isteri ayahnya =  perbuatan kenajisan atau tidak menghargai nikah. Sebagai hamba Tuhan, pelayan Tuhan harus lepas dari hidup lama ini. Dulu mungkin kita tidak menghargai nikah kita, sekarang tidak boleh lagi. Dulu melakukan perbuatan kenajisan, sekarang harus lepas!

 

Nikah manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia yang segambar dengan Allah Tritunggal.

Kejadian 1:26-27

1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

 

Makanya setelah penciptaan manusia, Tuhan berkata sungguh amat baik sebab segambar dengan Allah Tritunggal. Tetapi di pasal 3 gambar Allah ini dirusak oleh setan. Nikah yang segambar dengan Allah dirusak oleh setan, lewat apa?

Kejadian 3:1

Kejadian 3:1  Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

 

Ini Firman yang diputar balik. Jadi setan merusak nikah manusia lewat Firman yang diputar balik.

Kejadian 2:16

2:16  Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

 

Hati-hati, Firman yang diputar balik itu kelihatan mirip! Cuma dirubah 1 kata, boleh dirubah setan menjadi jangan. Lalu ditambah sedikit ‘bukan?’. Sangat berbahaya, Firman kalau sudah diputar balik, bisa merusak nikah kita.

Galatia 1:6-7,10

1:6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,

1:7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.

1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

 

Firman yang diputar balik itu pengaruhnya begitu cepat untuk membuat orang berbalik dan meninggalkan pengajaran yang benar. Jemaat Galatia sudah bertahun-tahun dibina oleh pengajaran yang benar lewat rasul Paulus. Tetapi begitu mendengar Firman yang diputar balik, langsung berbalik tinggalkan Yesus, tinggalkan pengajaran yang benar mengikuti injil yang sebenarnya bukan injil. Firman yang diputar balik itu hanya untuk menyenangkan daging, makanya nikah jadi rusak! Firman pengajaran yang benar itu nikah harus dijaga kesuciannya. Kalau sudah diputar balik kenajisan dianggap biasa! Tidak apa-apa, lumrah, kita masih manusia daging. Mau berapa kalipun dia kawin cerai, masih dibawa di gereja untuk dinikahkan lagi.

 

Nikah yang rusak itu disebut nikah yang telanjang.

Kejadian 3:7

3:7  Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

 

Istilah telanjang di sini artinya ada kenajisan di dalamnya! Hati-hati, jangan sembarang mendengar Firman. Makanya saya dari mimbar ini selalu berseru hati-hati bersekutu. Mungkin bagi bapak ibu merasa terlalu ekstrim, tetapi sebenarnya bukan itu maksudnya tetapi karena ini. Hawa berapa kali mendengar Firman yang diputar balik? Hanya sekali saja, begitu mendengar langsung telanjang. Kalau kita sayang nikah kita dan rindu nikah kita mencapai nikah yang rohani mari telinga kita hanya mau mendengar pengajaran yang sehat. Bukan yang diputar balik. Dampaknya luar biasa, nikah jadi hancur, nikah jadi telanjang. Ada upaya untuk menutupi ketelanjangan tetapi salah. Upayanya dengan membuat cawat dari daun pohon ara.

 

Yesaya 64:6

64:6 Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

 

Yesaya 64:6 (Terjemahan Lama)

64:6 Tetapi kami sekalian seperti seorang najis jua dan segala kebenaran kami seperti sehelai kain yang larah, sebab itu kami sekalianpun luruh seperti daun dan kami dibawa oleh kejahatan kami seperti diterbangkan oleh angin.

 

Jadi kesalahan dari kita, ketika dalam nikah ada kerusakan, ada kehancuran, kita tutup dengan kebenaran diri sendiri! Bukan dengan kebenaran Tuhan, kebenaran Firman. Salahkan orang lain untuk menutupi kesalahannya. Suami salahkan isteri, isteri salahkan suami untuk menutupi kesalahannya. Bukan tambah baik tetapi tambah hancur! Daun itu suatu saat akan layu dan kering, telanjang lagi. Kelihatan sepertinya jadi baik nikahnya, padahal sebenarnya tidak karena ditutupi kebenaran diri sendiri, kebenaran di luar Firman. Akhirnya kalau sudah ada kebenaran diri sendiri, kita tidak bisa lagi menerima Firman yang lebih tajam dari pedang bermata 2, tidak bisa lagi menerima kebenaran Firman, malah menghambat pedang dari penumpahan darah.

Yeremia 48:10

48:10  Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!

 

Apa pedangnya Tuhan? Pedang Firman.

Ibrani 4:12

4:12  Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

 

Kalau sudah ada kebenaran diri sendiri, pasti tidak bisa lagi menerima pedang Firman. Malah ketika hamba Tuhan memberitakan Firman yang tajam menyucikan itu yang dituduh kebenaran diri sendiri. Dia menghambat pedang dari penumpahan darah, dia tidak mau lagi disucikan, dia tetap pertahankan dosanya.

 

Akibatnya nikahnya dikutuk. Kejadian di taman Eden terulang lagi. Padahal Yesus sudah mati di kayu salib menanggung kutuk kita, koq mau dikutuk lagi. Begitu mempertahankan kebenaran diri sendiri, menolak pedang Firman, kehidupan tetap najis sehingga menjadi musuh salib!

Galatia 3:13

3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

 

Yesus sudah menanggung kutuk dosa kita di kayu salib, tetapi tidak mau lepas dari kutuk, tetap pertahankan perbuatan dosa, pertahankan nikah yang salah. Berarti memposisikan diri menjadi musuh salib, musuh Tuhan. Bagaimana pelayanan dan hidup kita bisa diterima oleh Tuhan kalau kita menjadi musuhNya. Sementara kerinduan hati Tuhan membentuk kita menjadi Mempelai WanitaNya. Tugas kami gembala supaya membawa jemaat berhasil menjadi Mempelai Wanita Tuhan. Tetapi kalau nikah yang salah dipertahankan tidak akan pernah mencapai sasaran akhir, tidak akan pernah mencapai tujuan akhir rencana Allah.

 

Akhirnya pelayanan yang ditinggalkan. Kalau sudah ada sesuatu yang salah di dalam nikah baik itu permulaan nikah, masa pacaran dan tunangan, maupun perjalanan nikah dan ngotot pertahankan maka pelayanan yang akan dilepaskan, yang akan dia tinggalkan.

 

Ada lagi yang tetap kelihatan hebat melayani padahal mempertahankan kesalahan-kesalahan dalam nikah, dia melayani dalam suasana kutukan. Saya tidak mau melayani dalam suasana kutukan! Sebagai gembala orang tua rohani tidak ingin jemaat melayani dalam suasana kutukan. Suasana kutukan itu beban berat, suatu saat nanti akan melepaskan pelayanan. Dia mau melayani tetapi beban dosa dia pikul terus, akhirnya tidak tahan, dia lepaskan pelayanan. Harusnya beban dosa yang kita lepaskan, bukan pelayanannya. Sebagai hamba Tuhan saya sudah banyak melihat, kalau sudah ada yang salah dalam nikah dan tidak mau diperbaiki, pelayanan yang dilepaskan. Hidup itu tetap bersuasana kutukan, beban berat, air mata, sampai nanti air mata selamanya di neraka. Tuhan tolong jangan terjadi dalam kehidupan kita sekalian.

 

Kalau ada yang salah dalam nikah dan terus dipertahankan, nikah itu juga menjadi berat. Suatu saat nanti nikah dia tinggalkan. Kalau suami tinggalkan isterinya, isteri tinggalkan suaminya, anak tinggalkan orang tua, karena dia rasa berat.

 

Kita jaga nikah kita, perbuatan Ruben harus disucikan. Tanggalkan hidup yang lama, itulah kesalahan Ruben.

 

Kita periksa hidup nikah kita, kalau ada yang salah kita mohon ampun kepada Tuhan. Tuhan ampuni saya, saya tidak mau meninggalkan pelayanan, tidak mau meninggalkan Engkau, kita mau melayani sampai Yesus datang, sampai masuk Kerajaan Sorga.

 

Bentuk-bentuk kesalahan dalam nikah.

a)      Pada permulaan nikah:

1)      Terjadi kejatuhan. Kalau sudah terjadi minta ampun, berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan orang tua, datang kepada gembala untuk didoakan. Sudah terlalu banyak terjadi kejatuhan, hati-hati! Saya dulu diingatkan oleh Papa waktu pacaran, jangan handball! Kalau sudah terjadi minta ampun, biar diangkat, Firman sanggup mengangkat kembali. Gembala jangan mengusir kalau ada jemaat yang jatuh, harus ditolong. Memang resikonya mau menolong yang jatuh harus siap digantung, itu sudah resiko.

 

2)      II Korintus 6:14-17

6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

6:15 Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?

6:16 Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. 

6:17 Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.

 

Memaksakan hubungan yang tidak seimbang = menjadi pasangan yang tidak seimbang yaitu tidak 1 keyakinan, tidak 1 pengajaran yang benar. Lalu bagaimana cara memperbaikinya kalau sudah menikah? Bukan diceraikan! Tetapi bergumul supaya pasangan yang tidak seimbang itu bisa masuk pengajaran yang benar, bisa digembalakan oleh Tuhan. Itu memang pergumulan ekstra dan rela bayar harganya. Tetapi Tuhan pasti tolong kalau kita mau bergumul ekstra. Makanya yang belum menikah, jangan seperti itu, jangan dipaksakan! Yang sudah terlanjur jangan diceraikan. Bergumul ekstra rela bayar harga.

 

Dikaitkan dengan Belial atau baal zebub yang artinya raja lalat. Bicara lalat menunjuk kenajisan. Juga dikaitkan dengan berhala. Berhala = kekerasan hati. Jadi mengapa memaksakan nikah yang tidak seimbang? Karena ada kekerasan hati! Dan supaya direstui paksakan berbuat kenajisan. Ini tidak boleh! Itu hidup lama, dulu dilakukan seperti itu, sekarang kita datang beribadah dengar Firman untuk diperbaiki. Tidak ada yang mulus-mulus hidupnya, saya juga tidak ada mulus-mulus, kesalahan-kesalahan dalam nikah yang dulu kita lakukan sekarang mau diperbaiki. Inilah fungsi dari Kabar Mempelai, memperbaiki apa yang salah supaya kelak kita berhasil menjadi Mempelai Wanita Tuhan.

 

Di ayat 17 Tuhan katakan jangan jamah yang najis maka Aku menerima kamu. Yang salah segera diperbaiki supaya kita diterima Tuhan, pelayanan kita diterima Tuhan dan nanti kelak kita diterima sebagai Mempelai WanitaNya. Makanya sekalipun saya dipaksa saya tidak mau untuk melayani nikah yang tidak seimbang, tidak satu ajaran, tidak satu baptisan, apalagi tidak satu keyakinan.

 

Biarlah semua diperbaiki, yang sudah terlanjur jangan putus asa, masih ada Firman sanggup memperbaiki. Memang ada harga yang harus dibayar, harus bergumul ekstra.

 

3)      Kejadian 2:24

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

 

Maksud kalimat ini, nikah yang benar itu direstui orang tua. Jadi kesalahan yang ketiga memaksakan hubungan yang tidak direstui orang tua. Orang tua sampai pedih hatinya. Seperti Esau, memaksakan hubungan dengan perempuan Kanaan sehingga hanya memedihkan hati orang tua! Kalau orang tua sudah bilang ‘jangan nak’ jangan kita lakukan seperti itu, apalagi kalau masih ada kaitan keluarga. Kalau dulu sudah terlanjur melakukan, menikah tanpa restu, minta ampun, biar diperbaiki semuanya.

 

Nikah yang salah itu nikah yang dalam suasana kutukan. Kalau dipaksakan nikah itu terkutuk, tidak ada kebahagiaan di situ, hanya air mata terus. Baru menyesal kenapa begini, lalu mau ceraikan, lebih double lagi kesalahannya. Biarlah diperbaiki semuanya.

 

b)      Pada perjalanan nikah yaitu ada kekerasan di dalam nikah.

Maleakhi 2:16

2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

 

Ada kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dengan kata-kata, kekerasan dengan perbuatan. Juga kekerasan dengan memaksakan kedudukan yang salah! Susunan nikah yang benar adalah Allah, Kristus, suami baru isteri. Kalau dipaksakan terbalik, itu kekerasan.

I Korintus 11:3

11:3 Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

 

Kalau kekerasan berlanjut, terjadi perceraian. Baik perceraian diam-diam, masih satu rumah, satu tempat tidur tetapi hati sudah tidak satu. Atau masih 1 rumah tetapi beda kamar. Suami di luar, isteri di kamar, masak masing-masing. Sampai perceraian secara surat. Dan berlanjut, sudah bercerai kawin lagi! Ini kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki. Yang banyak terjadi akhir zaman ini adalah kawin mengawinkan. Sudah bebas tanpa surat!

 

Ayo basuh tangan, lepaskan diri dari perbuatan kenajisan, dari kesalahan-kesalahan di dalam rumah tangga. Pacaran itu untuk menikah. Kalau ada salah paham diselesaikanlah baik-baik, jangan sedikit-sedikit putus. Gonta ganti pacar itu bibit kawin cerai. Apalagi kalau orang tua sudah restui, sudah saling kenal, diketahui gembala, didoakan, mari selesaikan. Kalau ada komunikasi yang salah, bangun lagi komunikasi yang baik. Kalau pacaran saja ada masalah sedikit sudah begitu, kalau sudah menikah bagaimana. Ayo diselesaikan semuanya. Inilah pentingnya Firman, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada.

II Timotius 3:16

3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

 

Ayo diperbaiki kelakuan. Kalau dulu belum mengerti pengajaran ada masalah sedikit putus. Sekarang sudah mengerti pengajaran diperbaikilah semuanya. Saya sebagai gembala tidak luput dari kesalahan. Diselesaikan semua kesalahan yang ada.

 

Akibat yang didapati oleh Ruben karena kesalahan itu dipertahankan, tidak diselesaikan, Ruben kehilangan hak sulung! Jangan sampai kehilangan hak sulung. Sementara Yakub dia berjuang untuk mendapatkan hak sulung, kita malah mau kehilangan hak sulung. Kehilangan hak sulung = tidak bisa menjadi Mempelai Wanita Tuhan, tidak bisa masuk pesta nikah Anak Domba Allah, tidak bisa masuk kerajaan Sorga yang kekal. Kita mau dibawa menjadi anak-anak sulung, jangan beralih hak sulung itu kepada orang lain.

Ibrani 12:22-23

12:22 Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah,

12:23 dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna,

 

Bukit Sion adalah tempat keluarnya pengajaran. Oleh pengajaran yang benar kita diarahkan menjadi jemaat anak-anak sulung.

 

Mari diperbaiki semuanya, yang salah diperbaiki supaya jangan kehilangan hak dan berkat sulung, tetapi hak sulung menjadi semakin mantap, hak dan berkat sulung kita dapatkan.

 

2.      Perbuatan Simeon

Kejadian 34:25-26,30-31; 49:5-7

34:25 Pada hari ketiga, ketika mereka sedang menderita kesakitan, datanglah dua orang anak Yakub, yaitu Simeon dan Lewi, kakak-kakak Dina, setelah masing-masing mengambil pedangnya, menyerang kota itu dengan tidak takut-takut serta membunuh setiap laki-laki.

34:26 Juga Hemor dan Sikhem, anaknya, dibunuh mereka dengan mata pedang, dan mereka mengambil Dina dari rumah Sikhem, lalu pergi.

34:30 Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: "Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku."

34:31 Tetapi jawab mereka: "Mengapa adik kita diperlakukannya sebagai seorang perempuan sundal!"

49:5 Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan.

49:6 Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu.

49:7 Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel.

 

Ini perbuatan Simeon, suka kekerasan, kebencian, suka mempersalahkan orang lain, tidak bisa mengampuni. Padahal Sikhem sudah minta ampun, tetapi tidak diampuni malah dibunuh. Ini suka kekerasan, suka membenci, menyalahkan orang, sekalipun orang itu sudah minta ampun tetapi tetap dibenci, tidak bisa memberikan pengampunan. Kalau sudah selesai dibaptis masih benci-benci, coba periksa baptisannnya, syaratnya, pelaksanaannya, siapa yang menangani, diperbaiki semuanya.

 

Pada Simeon ada pedang, tetapi pedang dipakai untuk membunuh. Pedang bicara Firman. Artinya sudah ada dalam Firman pengajaran yang benar, tetapi masih suka kekerasan, masih membenci, masih suka persalahkan orang, sehingga membusukan nama artinya menjadi sandungan. Di mata orang lain pengajaran menjadi busuk.

 

Orang luar mau datang menerima pengajaran tetapi kita yang di dalam malah benci, kasar, saling menyakiti. Jangan kita seperti itu. Terutama dalam rumah tangga, jangan ada kekerasan, jangan ada roh Simeon dalam rumah tangga. Apalagi kalau satu keluarga belum semua dalam pengajaran. Buktikan kita sudah ada dalam pengajaran, pedang Firman menyucikan kita bukan untuk jadi alat perang. Kalau ada pengajaran, roh peperangan disingkirkan.

Yesaya 2:2-4

2:2 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,

2:3 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."

2:4 Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

 

Buktikan kita sudah ada dalam pengajaran, jangan ada roh peperangan, roh kekerasan, roh kebencian. Apalagi hamba Tuhan membenci hamba Tuhan yang lain dan mendoktrin jemaat membenci hamba Tuhan yang lain itu. Jangan ada! Harus ada perdamaian. Kalau roh kebencian disingkirkan maka kita akan terpelihara. Pedang menjadi mata bajak, berarti ada gandum, kita terpelihara secara jasmani terlebih secara rohani. Tombak menjadi pisau pemangkas untuk membersihkan anggur supaya berbuah, berarti ada kemanisan. Inilah nikmatnya dalam pengajaran kalau kita dalami betul-betul, bukan hanya sekedar saja. Kalau kita menikmati Firman pengajaran kita dipelihara dan ada kemanisan. Nomor 1 dalam rumah tangga, manis, tambah manis, terus manis sampai masuk puncak kemanisan, kita masuk pesta nikah Anak Domba Allah.

 

Kalau ada kekerasan hanya membusukan nama orang tua, hanya jadi sandungan, tidak menjadi kesaksian. Berusaha meredam, sekalipun dibenci, kita tidak balas membenci. Sekalipun dicaci maki dikata-katai jangan kita balas. Pada kita tidak ada lagi pedang dan tombak untuk perang, yang ada pada kita hanya mata bajak dan pisau pemangkas.

 

Kalau disimpulkan perbuatan Ruben dan Simeon adalah salah menggunakan pedang Firman pengajaran. Ruben menolak penyucian, Simeon menjadi sandungan. Makanya kita harus ahli menggunakan pedang pengajaran. Yang membunuh tadi selain Simeon adalah Lewi. Lewi sempat salah menggunakan pedang, tetapi ada yang positif pada Lewi. Ketika seluruh bangsa Israel menyembah lembu emas, Lewi cepat sadar dan memihak Tuhan.

Keluaran 32:26-28

32:26 maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: "Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!" Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi.

32:27 Berkatalah ia kepada mereka: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya."

32:28 Bani Lewi melakukan seperti yang dikatakan Musa dan pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu.

 

Tuhan tidak salah dan keliru dalam memilih seseorang. Orang yang dipilih Tuhan menjadi hamba Tuhan pelayan Tuhan adalah orang yang cepat sadar ketika salah dan segera berbalik kepada Tuhan. Tidak ada kita yang mulus-mulus, kita semua bukan orang yang baik-baik, banyak kesalahan kita! Tetapi mari cepat sadar dari kesalahan, cepat berbalik kepada Tuhan, cepat memihak Tuhan. Kesalahan-kesalahan dalam nikah segera diperbaiki. Segera posisikan diri pada pihak Tuhan, jangan berada di pihak musuh.

 

Kita belajar pada Lewi, ini sikap yang benar pada Firman pengajaran. Pada kita sudah diberikan pedang Firman pengajaran. Sikap kita bagaimana? Jangan salah menggunakan pedang.

 

Sikap yang benar, Lewi mengikatkan pedang pada pinggang kemudian berjalan kian kemari membunuh saudara, membunuh teman dan membunuh tetangga. Artinya pegang teguh Firman pengajaran yang benar. Pinggang itu bicara kekuatan, biarlah pedang Firman menjadi kekuatan kita, menjadi pengalaman hidup kita. Sekian tahun kita berada dalam pengajaran, ingat dulu bagaimana Tuhan tuntun kita masuk dalam pengajaran, kita terpikat dengan Firman, jangan kita salah gunakan pedang. Biarlah Firman itu menjadi kekuatan kita. Kita praktekan menjadi pengalaman hidup kita, sehingga bisa membunuh saudara, teman dan tetangga dalam arti yang rohani. Artinya:

1.      Tidak kompromi dengan daging, tidak menuruti keinginan daging. Tetapi kita serahkan segala kedagingan kita untuk disucikan dipotong-potong oleh pedang Firman Tuhan. Apalagi sebagai hamba Tuhan, sebagai gembala, jangan gembala itu kedagingan. Kalau mau ikuti keinginan daging, maunya tiap Minggu begini, 3 sidang digabung semua. Tidak usah 3 macam ibadah, tidak usah doa pagi, tidak usah doa puasa, tidak usah doa semalaman. Enak, tetapi tidak boleh kompromi dengan daging. Jangan dibiarkan! Kalau daging dibiarkan dampaknya dahsyat!

Yakobus 1:14-15

1:14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

1:15 Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

 

Kalau daging diikuti hanya melahirkan dosa, nikah hawa nafsu daging hanya melahirkan maut/kebinasaan. Daging harus dipotong, harus disucikan. Memang sakit, tetapi membawa kita pada kebahagiaan kekal bersama Yesus. Lebih baik sekarang kita menderita disucikan dari pada nanti menderita kena pedang antikristus. Syukur kalau tahan sampai dipancung, dia akan dibangkitkan pada waktu Yesus datang. Tetapi siapa yang bisa tahan. Kena luka sedikit saja tidak tahan, apalagi dianiaya antikristus 3,5 tahun lamanya.

 

2.      Harus tegas berpegang pada pengajaran yang benar. Sekalipun mungkin kita bertentangan dengan saudara, teman, tetangga, tetapi kita tegas berpegang pertahankan Firman. Tegas di sini bukan membenci. Jangan karena tegas terhadap pengajaran yang benar sampai sudah membenci suami, membenci isteri, benci saudara kita, benci teman, benci tetangga. Ketegasan itu penting, tetapi bukan membenci. Tetap hubungan dijaga dengan baik tetapi jangan ikut-ikutan berbuat sesuatu yang salah! Kalau kita dibenci jangan balas membenci, tetap doakan.

 

Kalau kita tegas berpegang pada Firman pengajaran maka kita memihak Tuhan dan Tuhan di pihak ktia.

Roma 8:31

8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

 

Mungkin untuk beberapa waktu lamanya diizinkan kita ditinggal sendirian, tidak mengapa, Tuhan ada bersama dengan kita. Dibenci itu paling hanya sesaat, akhirnya nanti keluarga juga mencari kita. Kalau  tetap kita pertahankan kebenaran Firman, Tuhan bela kita, kita akan dicari juga.

 

Yang penting kita pertahankan kebenaran Firman, ada hasilnya:

Ibrani 4:12

4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

 

a)      Firman Allah hidup. Jadi hasil pertama Firman pengajaran memberi hidup kepada kita, baik secara jasmani terutama secara rohani, sampai hidup yang kekal. Kita bukan hidup dari apa yang ada di dunia ini tetapi kita hidup dari Firman yang kita praktekan. Ini adilnya Tuhan. Kalau manusia hidup dari apa yang dia miliki, Tuhan tidak adil. Ada yang punya banyak, ada yang punya sedikit, bahkan ada yang tidak punya apa-apa. Kasihan yang tidak punya apa-apa, berarti dia tidak hidup. Tetapi kalau kita praktek Firman pasti hidup.

 

b)      Firman itu kuat.

II Korintus 4:7-11

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

 

Firman itu memberi kekuatan ekstra menghadapi segala tantangan dan himpitan, bahkan menghadapi maut! Tantangan pasti ada, tidak bisa kita menghindar. Himpitan ada, hempasan ada, tetapi kalau kita bisa bertahan sampai sekarang itu karena kekuatan Firman, bukan kekuatan kita sendiri. Kalau saya bisa bertahan melayani sampai sekarang itu bukan karena kekuatan daging. Kalau kita praktekan Firman ada kekuatan ekstra dari Tuhan, kita bisa bertahan sampai garis akhir.

 

c)      Firman itu menusuk amat dalam. Dalam Keluaran 32 menusuk amat dalam itu membunuh 3000 orang. Artinya Firman pengajaran mendorong kita untuk mantap tergembala sehingga disucikan terus menerus sampai sempurna.

 

Kisah Para Rasul 2:41-42

2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

 

Ada 3000 orang yang tergembala di sini. Mereka bertekun dalam 3 macam ibadah pokok:

1)      Bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan pemecahan roti. Itu adalah ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab dan Perjamuan Suci.

2)      Bertekun dalam persekutuan. Itu adalah ketekunan dalam Ibadah Raya.

3)      Bertekun dalam doa. Itu adalah ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan.

 

Baptisan air permulaan pembasuhan tangan. Tetapi tidak bisa kita pungkiri, kadang kotor lagi. Sudah masuk baptisan air, sudah lepaskan hidup lama, tetapi dalam perjalanan hidup kotor lagi. Firman pengajaran dalam penggembalaan ini yang menyucikan kita secara terus menerus.

 

Angka 3.000 menunjuk kehidupan rohani kita. Angka 3.000 adalah isi dari ruangan suci di tambah ruangan maha suci.

Ruangan suci 10x10x20 =2.000

Ruangan maha suci 10x10x10 =1.000

 

Ini kehidupan rohani kita. Dengan kita tergembala, kita disucikan terus menerus, rohani kita hidup dan mengarah pada kesempurnaan, menjadi Mempelai Wanita Tuhan, tabut perjanjian yang menyatu dengan Yesus Mempelai Pria Sorga, tutup dari tabut perjanjian. Maka Shekina Glory kita dapatkan, sinar kemuliaan Tuhan kita alami.

 

Ayo bawa hidup kita untuk selalu tergembala dan disucikan, jangan salah menggunakan pedang. Ruben salah menggunakan pedang, menolak penyucian. Simeon salah menggunakan pedang, ada pengajaran tetapi pertahankan roh kebencian, kekerasan dan sebagainya. Kita mau belajar seperti Lewi, sempat salah tetapi segera sadar. Kita sempat salah tetapi ayo segera sadar, berpihak kepada Tuhan, Tuhan di pihak kita. Firman memberi hidup, memberi kekuatan, Firman menyucikan sampai sempurna. Firman pengajaran ini adalah Firman yang agung yang membawa kita pada kemuliaan kekal bersama dengan Yesus Mempelai Pria Sorga.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar