20250922

Kebaktian Pemberkatan Nikah Selasa, 23 September 2025 Pdt. Handri Otniel Legontu


Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.

 

Nikah itu bukan sesuatu yang dipermainkan tetapi suatu yang harus dihargai setinggi-tingginya. Ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, hari pertama sampai hari kelima Tuhan katakan semua baik. Tetapi pada hari keenam penciptaan nikah, Tuhan berkata sungguh amat baik. Jadi nikah itu harus dihargai setinggi-tingginya, penciptaan Allah yang paling mulia.

 

Markus 5:21-29,41-42

5:21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,

5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya

5:23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."

5:24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.

5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.

5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

5:28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

5:41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"

5:42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.

5:43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

Cerita yang kita baca ini menunjukan masalah yang sering dihadapi oleh nikah rumah tangga di seluruh dunia bahkan di seluruh lapisan masyarakat. Yairus menunjuk suami, perempuan pendarahan menunjuk isteri dan anak yang mati itu buah nikah. Jadi dari cerita ini ditunjukan begitu banyak masalah yang menerpa nikah rumah tangga, masalah dari suami, isteri dan anak yang mati.

 

1.      Perempuan pendarahan 12 tahun menunjuk masalah:

a)      Kebusukan nikah menunjuk dosa kenajisan. Mulai dari permulaan nikah, masa pacaran, masa tunangan, sudah terjadi kejatuhan-kejatuhan nikah. Ini masalah yang dihadapi pada nikah-nikah orang Kristen, bahkan tidak sedikit hamba Tuhan. Juga dalam perjalanan nikah, ada kebusukan-kebusukan di dalamnya. Ada perselingkuhan terjadi, juga nikah yang tidak wajar. Sekarang ini sudah dianggap biasa hubungan yang tidak wajar! Hubungan sesama jenis, bahkan hubungan yang tidak wajar dari orang tua, anak, menantu dan seterusnya. Ini yang melanda nikah rumah tangga di akhir zaman. Iblis berupaya menghancurkan karena dia tahu nikah itu ciptaan yang paling baik dan sungguh amat baik, maka dia berupaya menghancurkan nikah, khususnya nikah orang Kristen.

 

b)      Ada pendarahan berarti ada pembuluh darah yang pecah, ini menunjuk perpecahan dalam rumah tangga. Tidak ada damai sejahtera dalam rumah tangga, yang ada hanya pertengkaran-pertengkaran. Masuk nikah itu masuk dalam masalah. Laki-laki seorang diri saja sudah ada masalah, perempuan juga ada masalah, lalu masuk dalam nikah, masuk dalam masalah. Kalau tidak ada kasih Tuhan, bisa hancur nikah itu. Makanya harus diisi dengan kasih Tuhan. Jangan diisi dengan pertengkaran. Kalau ada masalah, ada sesuatu selesaikan dengan baik.

 

Pembuluh darah pecah berarti terjadi perpecahan dalam rumah tangga, tidak ada damai, yang ada pertengkaran, kepahitan sampai berakhir pada perceraian. Bisa cerai secara diam-diam seperti Yusuf mau menceraikan Maria secara diam-diam. Artinya masih 1 rumah, 1 tempat tidur, tetapi hati tidak satu lagi. Sampai cerai secara surat. Itu pembuluh darah pecah.

 

c)      Kesusahan, penderitaan dan sampai merasa tidak berdaya tidak ada nikah yang mulus-mulus saja. Masuk nikah sudah mulai berpikir bagaimana kebutuhannya 2 orang. Kalau Tuhan berkati dengan buah nikah, 1 orang, 2 orang, 3 orang, tambah banyak lagi kesusahannya, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi keadaan dunia akhir zaman semakin sulit, bidang apa saja krisis. Tetapi kita tidak usah ragu karena kita ada bersama Yesus. Mari undang Yesus masuk dalam nikah kita.

 

d)      Menunjuk sesuatu yang semakin buruk. Kalau masuk nikah sudah ada masalah, nanti dalam perjalanan nikah masalah terus, akan semakin buruk, sebab itu harus diselesaikan. Saya mengapresiasi kejujuran mereka berdua, mau terbuka, mau menyelesaikan semuanya supaya diminimalisir masalah itu, bahkan dihilangkan. Tuhan selesaikan, Tuhan jadikan semua baik.

 

2.      Anak umur 12 tahun mati. Artinya buah nikah yang hancur. Betapa banyak orang tua jadi pedih hati, bersusah hati karena buah nikahnya hancur. Apalagi kalau semua hancur, itu suatu kepedihan. Jatuh dalam dosa sampai mati rohani. Mati rohani ini artinya sudah tidak ada gairah dalam hal rohani. Waktu sekolah Minggu rajin sekolah Minggu, begitu beranjak dewasa terhilang. Belum beban dalam pekerjaan, ditambah lagi harus melihat anak yang mati rohaninya. Jatuh dalam dosa sampai puncaknya dosa, dosa makan minum yaitu merokok, narkoba, miras. Berapa banyak buah nikah hancur karena dosa makan minum. Juga dosa kawin mengawinkan, dosa percabulan dengan berbagai macam bentuknya, berbagai macam ragamnya. Sampai sudah menikmati berbuat dosa! Orang tua sudah tidak tahu berbuat apa lagi. Sudah dinasihati, sudah ditegur, sudah dikerasi, bahkan sudah dihajar, tetapi tidak bisa lagi tertolong, sudah mati.

 

Apa penyebabnya? Tentu tidak tiba-tiba anak itu narkoba, merokok, mabuk atau jatuh dalam dosa kenajisan. Ada penyebabnya. Tadi disebut anak itu usianya 12. 12 ini angka persekutuan. Jadi penyebab anak itu mati rohaninya karena hubungan dengan orang tua tidak baik, terutama hubungan dengan Tuhan, orang tua sorgawi. Kalau ke depan Tuhan percayakan buah nikah dijaga hubungan dengan buah nikah! Kita yang sudah Tuhan karuniai buah nikah, dijaga hubungan dengan buah nikah.

 

Tugas kami orang tua adalah mendidik anak sesuai ajaran dan nasihat Tuhan. Jadi bukan menurut filsafat atau pengetahuan dunia, tetapi sesuai ajaran dan nasihat Tuhan.

Efesus 6:4

6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

 

Dari ayat ini berarti orang tua harus menjadi teladan rohani. Bagaimana mau mendidik anak dengan ajaran Tuhan, sesuai Firman kalau orang tua tidak rohani. Mulai dari saya sebagai gembala, saya orang tua rohani bagi jemaat yang Tuhan percayakan, saya juga orang tua jasmani bagi anak yang Tuhan percayakan. Saya harus bisa mendidik sesuai ajaran Tuhan, pengajaran yang benar. Kenapa anak bisa hancur? Karena orang tua tidak rohani, orang tua tidak mendidik anak sesuai Firman. Begitu anak rusak, anak hancur, anak yang dimarahi, anak yang dihukum. Tidak pukul diri, tidak periksa diri.

 

Buah nikah itu adalah kepercayaan Tuhan, itu titipan Tuhan, dijaga! Orang tua harus menjadi teladan yang rohani. Kadang anaknya rajin sekolah minggu, orang tuanya malah tidak masuk gereja. Begitu remaja dibawa ibadah kaum muda, tetapi orang tuanya tidak ibadah. Begitu anaknya jatuh dalam dosa, sudah terhilang, sudah terlambat. Mari mulai dari kecil, dari bayi bahkan mulai dari dalam kandungan sudah dididik.

 

Juga yang membuat hubungan orang tua dan anak tidak baik karena orang tua sering membangkitkan amarah di hati anak lewat praktek:

a)      Menuruti kehendak anak yang tidak sesuai Firman. Sebenarnya itu sudah membangkitkan amarah, sedang membawa api di dalam sekam. Begitu anak itu menghadapi masalah karena kehendaknya yang dituruti orang tua, nanti yang disalahkan orang tua. Apalagi soal jodoh, turuti kehendak anak yang tidak sesuai Firman. Begitu anak itu bermasalah rumah tangganya, orang tua yang jadi sasaran.

b)      Memaksakan kehendak orang tua yang tidak sesuai Firman kepada anak. Hati anak sudah dibangkitkan amarahnya, sudah tawar.

 

Saya mendidik anak pernah juga keras tetapi saya berupaya jangan sampai hati mereka terluka. Kalau sudah terlalu keras saya minta ampun pada mereka. Apalagi sampai kekerasan secara fisik, dengan kata-kata, tetapi tidak pernah dibebat luka hatinya dengan Firman. Kalau anak sudah terlalu kurang ajar harus dikerasi juga, tetapi setelah itu dibebat dengan Firman, doa! Kalau tidak akhirnya hati anak sudah terbakar dengan amarah.

 

Kalau anak sudah keterlaluan harus dididik dengan keras tetapi jangan lupa dibebat hatinya dengan ajaran dan nasihat Firman. Didoakan, dirangkul kembali. Kadang kita tidak sadar dengan mendidik secara keras, tanpa sadar kita sudah mendidik anak menjadi monster. Apalagi kalau prilaku yang sudah menyimpang, betapa banyak anak jadi korban pelecehan dari orang tuanya sendiri. Anak yang jadi korban kekerasan dan pelecehan dalam rumah tangga, dia menjadi pelaku kekerasan dan pelaku pelecehan di luar!

 

Inilah masalah yang terjadi dalam nikah rumah tangga di akhir zaman ini, pada seluruh lapisan masyarakat dari istana negara sampai rakyat jelata, banyak nikah dan buah nikah yang hancur. lalu bagaimana mengatasi? Dijebloskan dalam penjara? Atau kalau suami isteri pisah, dari pada bikin sakit kepala? Bukan itu! Caranya lewat ketekunan iman, terutama ketekunan iman suami isteri dulu baru anak bisa tertolong. Mungkin ada di antara kita yang anaknya sudah hancur, buah nikahnya mati rohaninya, ayo suami isteri bertekun dalam iman. Datang kepada Yesus yaitu datang beribadah untuk mendengar suaraNya. Sebab iman timbul dari mendengar Firman.

Roma 10:17

10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

 

Masalah nikah dan buah nikah hanya bisa diatasi lewat Firman Tuhan. Langit dan bumi diciptakan oleh Firman. Nikah juga diciptakan lewat Firman. Firman itu adalah pribadi Allah sendiri. Ini yang bisa mengatasi masalah nikah dan masalah buah nikah.

 

Kita pelajari ketekunan dari iman Yairus (suami) dan ketekunan iman perempuan pendarahan ini (isteri).

 

 

Ketekunan iman Yairus:

1.      Ketekunan iman Yairus adalah iman yang disertai dengan pengorbanan.

Apa pengorbanan Yairus?

a)      Yairus ini kepala rumah ibadah. Jadi yang pertama pengorbanan kedudukan, pekerjaan. Itu rela dikorbankan demi nikah dan buah nikah tertolong. Kadang kita suami karena punya kedudukan dan ada jabatan sudah tidak memperhatikan keluarga dan tidak ada lagi hubungan dengan Tuhan, sudah tidak mengutamakan perkara rohani. Tidak mengutamakan ibadah, tidak mengutamakan Firman Tuhan sehingga nikah dan buah nikah bisa rusak, bisa hancur. Ingat kedudukan yang Tuhan berikan itu dari Tuhan, jangan sampai itu membuat engkau terpisah dengan isteri, terpisah dari Tuhan. Kedudukan itu dari Tuhan, gunakan untuk kemuliaan Tuhan, jangan lupa hubungan dengan Tuhan. Mungkin di sana tidak bisa beribadah, tetapi ada ibadah secara pribadi, mezbah doa harus tetap ada, hubungan dengan Tuhan harus dijaga!

 

Yairus ini kepala rumah ibadah, sementara Yesus dibenci oleh imam-imam kepala dan ahli Taurat. Jadi Yairus ini datang kepada Yesus resikonya bisa dipecat, bisa dikucilkan. Yairus bisa dibunuh bersama dengan Yesus. Tetapi dia korbankan semuanya untuk bisa datang kepada Tuhan Yesus, datang beribadah untuk mendengar Firman.

 

Nikah dan ibadah itu 2 hal yang tidak bisa dipisahkan. Ini seperti mata uang atau mata rantai, tidak bisa dipisahkan. Kalau nikah bermasalah, ibadahnya bermasalah. Sebaliknya, kalau ibadah bermasalah, nikah juga bermasalah.

Maleakhi 2:12-16

2:12 Biarlah TUHAN melenyapkan dari kemah-kemah Yakub segenap keturunan orang yang berbuat demikian, sekalipun ia membawa persembahan kepada TUHAN semesta alam!

2:13 Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu.

2:14 Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.

2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

2:16 Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!

 

Saya gembala juga punya kedudukan di dalam gereja sebagai gembala. Jangan sampai jabatan gembala justru membuat hubungan rumah tangga renggang. Harus fokus dalam pelayanan, tetapi perhatikan juga keluarga. Dalam ibadah saya sebagai pemimpin ibadah. Tetapi kadangkala anak gembala tercecer, kurang perhatian dari gembala karena sibuk pelayanan. Semua harus diperhatikan.

 

b)      Harga diri. Coba bayangkan, dia kepala, ada kedudukan, dia tersungkur di kaki Yesus yang dibenci oleh imam-imam kepala, ini pengorbanan harga diri. Suami itu laki-laki, harga dirinya tinggi. Sulit kalau mau diingatkan apalagi mau ditegur oleh isteri. Apalagi kalau punya kedudukan di dunia, lebih tinggi lagi harga dirinya. Apalagi kalau sudah salah lalu mau datang minta ampun, harga dirinya terlalu tinggi. Kalau ada masalah dalam rumah tangga, bukan hanya satu yang ada masalah, dua-duanya pasti ada kesalahan!

 

Yairus tersungkur di bawah kaki Yesus. Suami harus mengorbankan harga diri dengan tersungkur di bawah kaki Yesus, mengaku hanya tanah liat. Artinya merendahkan diri, mengaku hanya tanah liat, banyak kekurangan, banyak kelemahan, banyak dosa, sehingga tidak malu untuk mengaku kepada Tuhan dan kepada sesama. Tanah liat itu ada di tangan Tuhan Sang Penjunan dibentuk menjadi bejana kemuliaan. Kalau mau merendahkan diri maka pasti ada di tangan Tuhan, dipakai untuk kemuliaan nama Tuhan. Dipakai Tuhan untuk membimbing nikah dan buah nikahnya untuk masuk di dalam kemuliaan Tuhan.

 

2.      Iman disertai kesabaran dan kasih. Sabar, ini pilihanmu, jangan tidak sabar. Pengalaman saya dalam rumah tangga, isteri itu kalau bukan cerewet dia diam 1000 bahasa. Di situ diuji kesabaran dan kasih. Bahkan ketika masalah tambah berat tetap sabar dengan kasih. Coba bayangkan, Yairus datang minta tolong kepada Yesus, dalam perjalanan Yesus masih menolong orang lain, perempuan pendarahan. Padahal Yairus sedang butuh pertolongan Yesus, anaknya sedang sakit, butuh segera disembuhkan, Yesus masih menolong perempuan pendarahan di tengah jalan. Begitu sampai di rumah, anaknya sudah mati! Saya sudah sabar om, tetapi tambah jadi dia! Harus seperti Yairus. Masalahnya semakin besar, semakin berat, bahkan seakan-anak sudah mustahil, tetapi Yairus tetap punya iman, kesabaran dan kasih. Ini yang sanggup menolong.

 

Nikah itu hubungan kewajiban dan hak, lakukan dulu kewajiban baru menerima hak. Kewajiban suami mengasihi isteri seperti diri sendiri, jangan kasar. Apapun yang terjadi kedepan tetap mengasihi, itu pilihanmu, itu yang Tuhan berikan kepadamu, harus punya iman disertai kesabaran dan disertai kasih. Tidak ada perkara yang mustahil, nikah yang sudah hancurpun Tuhan sanggup pulihkan. Tuhan bekerja dan menjadikan semua baik.

 

Ketekunan iman perempuan pendarahan:

1.      Tidak berharap pada dunia, tidak berharap pada apapun yang ada di dunia, tetapi hanya berharap pada Tuhan. Ketika dia berharap pada dunia, justru keadaannya semakin buruk. Sudah berapa biaya dia keluarkan untuk pengobatannya, tetapi keadaannya semakin buruk. Kalau berharap pada apa yang ada di dunia malah tambah buruk, bukan tambah baik. Berharap hanya kepada Tuhan.  

 

2.      Tahan uji. Berdesak-desakan dalam kondisi sakit pendarahan 12 tahun, tenaga hampir tidak ada tetapi masih mau berdesak-desakan untuk datang kepada Yesus. Tahan uji, tidak putus asa, tidak kecewa menghadapi tantangan apapun. Tetap berusaha sebagai isteri mau datang kepada Yesus, mau beribadah, mau mendengar Firman Tuhan. Tidak usah ragu, tidak usah takut. Kalau nikah ini sudah Tuhan satukan, pasti Tuhan jaga dan lindungi nikah ini.

 

3.      Merendahkan diri memegang jumbai jubahnya Yesus. Berarti merendahkan diri sampai sudah menyentuh tanah. Dalam kondisi lemah, berdesak-desakan, merendahkan diri untuk memegang jubahnya Yesus, resikonya ditabrak, jatuh, terinjak dan bisa mati, tetapi dia bertekun mau menjamah jubahnya Yesus. Asalku jamah ujung jubahNya! Artinya merendahkan diri memegang jumbai jubah Yesus:

a)      Merendahkan diri untuk praktek Firman. Menghadapi masalah dalam nikah rumah tangga, isteri praktekan Firman. Apa perintah Firman Tuhan, hormat kepada suami, tunduk dan doakan.

I Petrus 3:1

3:1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,

Kalau ada suami yang tidak bertobat, isteri praktekkan saja Firman, tunduk, maka tanpa perkataan suami bisa dimenangkan, bisa ditolong.

 

b)      Merendahkan diri untuk berdoa menyembah. Kekuatan seorang isteri adalah berdoa. Isteri adalah tulang rusuk, tulang rusuk melindungi orang-organ vital. Isteri melindungi suami dan keluarga dengan doa. Mendoakan kelemahan suami, kelemahan anak kalau Tuhan percayakan buah nikah.

 

Jika suami ada ketekunan iman, isteri ada ketekunan iman maka Yesus mengulurkan tanganNya, Dia menjamah, Dia memulihkan, Dia menolong masalah apapun, sampai yang mustahil. Anak yang matipun bisa bangkit. Mungkin ada yang buah nikahnya sudah mati rohani, isteri tekun dalam iman, suami tekun dalam iman, yakin ada tangan Tuhan menolong untuk menjangkau dan memulihkan nikah dan buah nikah bahkan yang sudah mati sekalipun.

 

Untuk nikah yang dibentuk hari ini, ingat bekal Firman Tuhan, harus ada ketekunan iman. Masalah nikah dan buah nikah bisa teratasi asal suami isteri menjalin hubungan yang indah dengan Tuhan. Ada perjuangan untuk datang kepada Yesus, maka semua tertolong.

Markus 5:43

5:43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

Kalau buah nikah sudah bisa makan Firman, itu kebahagiaan orang tua yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Biar tangan Tuhan diulurkan menjamah kita sekalian. Baik Diky dan Fita, juga saya bersama isteri, beserta seluruh sidang jemaat, ada jamahan Tuhan di tengah-tengah kita sekalian. Yang penting kita punya ketekunan iman, Tuhan menjamah dan menolong kita sekalian.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar