20230329

Kebaktian PA Imamat, Rabu 29 Maret 2023 Pdt. Handri Otniel Legontu

Salam damai sejahtera di dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus.

Penataran Imam ke 3

Imamat 26:1-3

26:1 "Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

26:2 Kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah TUHAN.

26:3 Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya,

 

Di sini orang Israel diperhadapkan dengan 2 pilihan, berkat atau kutuk, ini juga diperhadapkan bagi kita. Untuk menerima berkat dari Tuhan kita harus, tidak bisa ditawar, harus melakukan ketetapan Tuhan, harus taat pada Firman pengajaran yang benar.

 

Imamat pasal 25 dikunci dengan orang Israel menjadi hamba Tuhan.

Imamat 25:55

25:55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu."

 

Pasal 26 dibuka dengan ketaatan. Jadi seorang hamba Tuhan/pelayan Tuhan harus taat pada Firman pengajaran yang benar sebab Firman pengajaran yang benar adalah komando pelayanan kita. Kalau pengajarannya satu maka pelayanannya akan baik sebab komandonya satu. Tetapi kalau pengajarannya campur, komandonya pasti lebih dari satu, pelayanan pasti akan kacau.

 

Kalau kita taat pada Firman maka pasti dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Orang yang taat itu dipakai untuk membangun rumah di atas batu, di atas Yesus batu karang yang teguh.

Matius 7:24-25

7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.

7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

Orang yang taat itu bagaikan perempuan yang bijak yang mendirikan rumahnya.

Amsal 14:1

14:1 Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.

 

Kegerakan ini akan terus membesar sampai nanti mengarah pada Israel asli. Jika mereka sudah menerima Kabar Mempelai maka pintu kemurahan akan tertutup bagi kita bangsa kafir sebab Tuhan sudah beralih pada bangsa Israel dan terjadi penyatuan Tubuh Kristus yang sempurna.

 

Ketaatan itu adalah penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan. Dibilang A yah lakukan A apapun resikonya, seperti Yesus taat sampai mati. Ketaatan ini bagian dari tahbisan. Seorang hamba Tuhan, pelayan Tuhan, harus memiliki tahbisan yang besar untuk dipakai dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus. Pelayan Tuhan digambarkan seperti angin, angin ditiupkan ke mana di situ dia berhembus.

 

Dulu dalam pentahbisan imam besar dan imam-imam ada korban lembu jantan muda sebagai korban pendamaian. Ada korban domba jantan pertama sebagai korban penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan. Juga ada korban domba jantan kedua sebagai korban tahbisan. Kalau tidak ada korban-korban itu, tidak bisa ditahbiskan. Sekarang kita juga harus memiliki itu dalam bentuk yang rohani. Semua korban itu telah digenapkan dalam satu korban yang sempurna, itulah Korban Kristus.

 

Jadi seorang pelayan Tuhan hamba Tuhan harus berdamai dengan Tuhan dan sesama, selesaikan dosa. Lalu harus ada ketaatan, penyerahan sepenuh. Baru ditahbiskan untuk melayani Tuhan.

 

Kita belajar tentang ketaatan dan penyerahan diri sepenuh dari korban domba jantan pertama.

Keluaran 29:15-18

29:15 Kemudian haruslah kauambil domba jantan yang satu, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu.

29:16 Haruslah kausembelih domba jantan itu dan kauambillah darahnya dan kausiramkan pada mezbah sekelilingnya.

29:17 Haruslah kaupotong-potong domba jantan itu menurut bagian-bagian tertentu, kaubasuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kautaruh itu di atas potongan-potongannya dan di atas kepalanya.

29:18 Kemudian haruslah kaubakar seluruh domba jantan itu di atas mezbah; itulah korban bakaran, suatu persembahan yang harum bagi TUHAN, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN.

 

Dari sini kita akan belajar proses penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan supaya pelayanan kita berkenan kepada Tuhan, diterima oleh Tuhan.

1.      Meletakan tangan di atas kepala domba jantan. Domba ini menubuatkan pribadi Yesus. Dulu Harun dan anak-anaknya meletakan tangannya di atas kepala domba jantan. Bagi kita artinya yakin dengan sungguh bahwa jaminan hidup kita adalah Yesus sebagai Kepala = hidup oleh iman kepada Yesus. Jadi kita tidak perlu ragu dan tidak perlu takut apa yang mau kita makan dan kita pakai, Tuhan sudah menjamin hidup imam-imam dan pelayan-pelayanNya.

II Korintus 5:7

5:7 — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat —

 

Kalau hidup dari melihat maka ketika melihat dunia goncang, ibadahnya bisa dikurangi demi mencari penghidupan di dunia. Tetapi kalau hidup oleh iman, biarpun semua goncang, kita tetap bertekun dalam penggembalaan, tetap beribadah melayani sampai garis akhir. Tuhan tidak pernah menipu, pasti Tuhan pelihara. Mulai dari kami gembala, melayani Tuhan dengan penyerahan sepenuh kepada Tuhan. Tidak ada pekerjaan sampingan, betul-betul bergantung sepenuh kepada Tuhan. Seperti waktu Yesus memanggil murid-murid yang pertama, Petrus, Yohanes, Yakobus, Andreas. Mereka sedang membereskan jala, berarti sudah menangkap ikan, mereka hidup dari apa yang diciptakan Tuhan. Kemudian Yesus memanggil mereka, langsung mereka meninggalkan jala dan mau mengikuti Yesus. Mereka bukan lagi hidup dari yang diciptakan tetapi hidup dari Sang Pencipta. Itu lebih dari apa yang diciptakan. Itu harus kita yakini, hamba Tuhan pelayan Tuhan melayani Tuhan sungguh-sungguh dalam tahbisan benar, ada penyerahan hidup sepenuh kepada Tuhan, Tuhan pasti pelihara.

 

Suatu saat semuanya akan full timer, semua akan melayani Tuhan sepenuhnya waktu masuk penyingkiran gereja di padang gurun 3,5 tahun dan dipelihara oleh Tuhan secara ajaib.

 

II Korintus 5:6-8

5:6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,

5:7 — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat —

5:8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.

 

Ayat 7 hidup oleh iman. Ayat 6 dan ayat 8 mengapit ayat 7, bicara tentang tabah = kuat teguh hati. Jadi hidup oleh iman itu adalah kuat teguh hati. Apapun yang terjadi kuat teguh hati. Artinya dalam segala hal hanya bersandar sepenuh kepada Tuhan sebagai kepala. Dia kepala yang menjamin hidup kita, jangan kita ragukan. Dia adalah jaminan yang kuat! Kalau manusia yang menjamin kita, suatu saat dia tidak bisa lagi menjamin, tidak selamanya. Tetapi kalau Tuhan yang menjamin, Dia menjamin terus sampai kita masuk penyingkiran gereja, tetap Tuhan pelihara.

Ibrani 7:22

7:22 demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat.

 

Pertama diterjunkan melayani di Tonusu Tuhan memelihara, kemudian ditambah pelayanan di Diora Tuhan pelihara, sampai di sini dipelihara. Berarti pemeliharaan itu bukan dari jemaat tetapi dari penyerahan sepenuh kita kepada Tuhan.

 

2.      Dombanya disembelih. Artinya hubungan kita dengan Yesus sebagai kepala harus dalam tanda darah. Artinya kita jangan mengelak dari ketajaman pedang Firman pengajaran yang benar yang menyucikan kehidupan kita supaya hubungan kita dengan Yesus sebagai kepala tetap baik, tetap harmonis. Memang sakit bagi daging. Kita datang dengan segala keadaan kita, secara daging kita butuh hiburan yang menyenangkan daging, nasihat yang menyenangkan telinga. Begitu datang dalam ibadah, dengar Firman yang keras, jangan kita mengelak. Seperti perempuan Siro Fenesia, menghadapi anaknya yang kerasukan setan, dia datang kepada Yesus “kasihanilah anakku” tetapi dia dikatai anjing. Namun dia tidak mengelak dari ketajaman Firman “benar Tuhan, tetapi anjing mau menerima remah-remah roti” dia membenarkan Firman.

 

Ibrani 4:9-13

4:9 Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.

4:10 Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.

4:11 Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.

4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

4:13 Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

 

Kita tidak boleh mengelak dari ketajaman dari pedang Firman. Tujuan dari penyucian ini apa? Supaya kita bisa masuk dalam hari perhentian atau sabat dalam hidup kita. Melayani Tuhan harus ada perhentian, ada sabat, kalau tidak kita tidak akan kuat dan tidak akan mampu melayani Tuhan.

 

Ada 3 macam sabat:

a)      Sabat kecil yaitu perhentian dalam Roh Kudus. Kalau tidak ada perhentian dalam Roh Kudus, begitu mendengar omongan orang yang menyakiti langsung terpancing emosi, melihat kelakuan orang lain jadi tersandung, akhirnya melayani jadi berat.

Yesaya 63:14

63:14 seperti ternak yang turun ke dalam lembah. Roh TUHAN membawa mereka ke tempat perhentian. Demikianlah Engkau memimpin umat-Mu untuk membuat nama yang agung bagi-Mu.

 

Selama ini mungkin kita melayani tidak tenang, tidak ada perhentian, periksa hubungan dengan Yesus sebagai kepala apakah baik-baik saja atau tidak. Kalau hubungannya baik-baik saja berarti mau menerima penyucian oleh pedang Firman. Kalau tidak mau menerima penyucian hidupnya tidak akan baik-baik saja, tidak aan tenang dalam melayani, tidak ada perhentian. Makanya tidak sedikit hamba Tuhan pelayan Tuhan yang meletakan pelayanan karena tidak ada perhentian, tidak ada damai sejahtera. Kekudusan dan damai itu berkaitan erat.

Ibrani 12:14

12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

 

Damai dan suci itu berkaitan, kita disucikan oleh pedang Firman pengajaran maka ada damai ketenangan, perhentian dalam Roh Kudus sehingga enak melayani. Tetapi coba kalau tidak disucikan, tidak akan damai. Kalau kita disucikan, hidup damai maka yang kita lihat dalam pelayanan hanya Tuhan, bagaimana menyenangkan hati Tuhan. Tidak lagi mau melihat orang dengan kekurangan dan kelemahannya. Kalau cuma mau lihat-lihat orang nanti tersandung. Itulah kalau tidak disucikan, cuma lihat kelemahan orang, akhirnya tidak tenang, tersandung dan jatuh. Biarlah pedang Firman menyucikan dan membaharui kita sehingga ada sabat kecil, Roh Kudus memberikan ketenangan.

 

b)      Sabat besar itulah kerajaan 1000 tahun damai. Kalau sekarang melayani dengan kesucian, dalam perhentian dan damai, pasti nanti masuk di sana.

 

c)      Sabat kekal itulah kerajaan sorga.

 

Biarlah kita mau disucikan oleh pedang Firman yang keras dan tajam sehingga Roh Kudus mengurapi dan memenuhi kita, kita merasakan damai sejahtera. Dalam nikah damai dan tenang, dalam penggembalaan damai dan tenang.

 

Di dunia ini untuk menciptakan ketenangan, berapa banyak uang sudah dikeluarkan. Lewat dewan keamanan PBB untuk memperdamaikan negara-negara di dunia ini sudah berapa banyak uang dikeluarkan. Kita tidak perlu mengeluarkan uang banyak-banyak, cukup menerima Firman pengajaran yang benar dalam urapan Roh Kudus, pasti damai. Supaya tenang healing time dulu, ke Singapura, ke Malaysia atau ke pinggir danau. Tidak ada ketenangan dan kedamaian di dunia ini. Kalaupun ada itu hanya bersifat semu, sementara. Ketenangan yang sejati itu hanya ada di dalam Tuhan lewat penyucian.

 

3.      Darahnya disiram pada sekeliling Mezbah Korban Bakaran. Mezbah itu bicara ibadah pelayanan. Darah itu menunjukan sengsara daging bersama Yesus. Darah disiram pada sekeliling mezbah artinya rela menderita sengsara daging untuk beribadah melayani Tuhan.

II Timotius 3:12

3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

Mau hidup beribadah, berarti bukan sekedar beribadah. Biarlah ibadah itu menjadi kebutuhan hidup kita sehingga tidak mau terhalang oleh apapun. Dan dalam beribadah itu memang akan menderita aniaya atau sengsara. Orang yang hidup beribadah itu mengalami sengsara daging bersama dengan Yesus. Mau datang ibadah malah hujan tetapi tetap datang beribadah. Kalau mau ikuti daging kita, mau enak-enak saja, yah tidak usah datang ibadah. Tidak usah online kalau hujan begini, nanti ikuti tunda kalau hujan sudah reda. Tetapi tidak seperti itu, harus mematikan daging. Sengsara bagi daging kita, tetapi dibalik salib ada kemuliaan yang Tuhan sediakan bagi kita.

 

Kenyataannya sekarang ibadah itu dikemas hanya untuk menyenangkan daging. Ini ibadah yang marak di dalam gereja, hanya dominan pujian penyembahan. Musiknya yang diperbagus. Semuanya hanya untuk menyenangkan daging. Bagaimana dikemas ibadah itu menjadi suatu hiburan tanpa penyucian, tanpa pedang Firman pengajaran. Ibadah seperti ini tanpa darah!

Ibrani 9:22

9:22 Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

 

Apa jadinya kalau ibadah tanpa tanda darah? Tidak ada pengampunan dosa, malah dosa semakin bertambah.

Yesaya 30:1

30:1  Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah,

 

Hosea 8:11-12

8:11 Sungguh, Efraim telah memperbanyak mezbah; mezbah-mezbah itu menjadikan mereka berdosa.

8:12 Sekalipun Kutuliskan baginya banyak pengajaran-Ku, itu akan dianggap mereka sebagai sesuatu yang asing.

Ini beribadah tetapi malah berdosa, karena tidak ada penumpahan darah. Pedang Firman pengajaran ditolak, dianggap sesuatu yang asing.

 

Jangan menghindar dari pedang Firman. Kalau merasa sengsara datang beribadah dan saat beribadah itu sudah benar! Yang utama kita cari dalam ibadah pelayanan bukan perkara yang jasmani. Lalu apa yang kita cari?

I Korintus 2:2

2:2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.

 

Yang kita cari Yesus yang disalib =  tanda darah. Jauh-jauh datang beribadah di sini apa yang dicari? Kalau cari yang enak bagi daging itu salah, yang dicari adalah tanda darah! Iblis takut kalau ada darah Yesus, iblis coba mau ganggu tidak bisa, kita menang kalau ada darah Yesus! Ibadah dalam tanda darah itu adalah ibadah dalam sistem penggembalaan, ketekunan dalam 3 macam ibadah pokok, jangan dikurangi salah satu. Ada 3 macam alat dalam ruangan suci:

a)      Ada meja roti sajian, itu ketekunan dalalm ibadah pendalaman Alkitab dan Perjamuan suci. Tekuni itu sekalipun lama pemberitaan Firman, lebih lama dari ibadah yang lain. Kita bersekutu dengan Anak Allah lewat Firman pengajaran dan kurbanNya, kita mendapatkan makanan rohani.

b)      Ada pelita emas, itu ketekunan dalam ibadah raya. Kita bersekutu dengan Allah Roh Kudus dalam urapan dan karunia-karuniaNya. Kita diberi minum. Karena dalam ibadah raya ada paduan suaranya, latihanlah dengan baik.

c)      Mezbah dupa emas, ketekuan dalam ibadah doa. Kita bersekutu dengan Allah Bapa dalam kasihnya, kita menerima udara segar, bernafas.

Mari tekuni 3 macam ibadah, memang sakit bagi daging, tetapi di situ ada tanda darah sehingga iblis dikalahkan.

 

Dari poin 2 dan 3 kalau digabungkan, yang kita cari dalam ibadah pelayanan adalah tanda darah, yaitu penyucian oleh pedang Firman pengajaran yang benar, ditambah sengsara daging tanpa dosa. Bukan yang enak bagi daging! Kena pedang Firman sudah sengsara, kena hujan dingin lagi, itu sengsara tanpa dosa kita terima.

 

Ditinjau dari ibadah, gereja dibagi menjadi 2.

Mazmur 102:22

102:22 supaya nama TUHAN diceritakan di Sion, dan Dia dipuji-puji di Yerusalem,

 

a)      Di Sion nama Tuhan diceritakan. Apa itu nama Tuhan?

Wahyu 19:13

19:13 Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."

 

Jadi di Sion adalah gereja yang mengutamakan Firman pengajaran. Bukan berarti pujian dan musiknya sembarang saja biar saja tidak karu-karuan, bukan! Tetap ada puji-pujian juga. Pujian itu ibaratnya untuk menggemburkan tanah hati untuk menerima benih Firman.

 

b)      Dia dipuji-puji di Yerusalem. Ini gereja yang hanya mengutamakan puji-pujian. Bukan berarti puji-pujian tidak penting. Silahkan memuji Tuhan dengan sukacita, tetapi harus ada kontrolnya yaitu Firman pengajaran yang benar. Kalau tidak ada Firman pengajaran yang benar nanti pujiannya sudah ngawur, bukan lagi sukacita Roh Kudus tetapi sukacita daging.

 

Mazmur 149:6

149:6 Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka,

Jangan lupa ada pujian tetapi yang menjadi kontrol adalah pedang Firman Tuhan. Seringkali ayat ini yang diangkat:

Mazmur 22:4

22:4 Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.

 

Betul Tuhan bertakhta di atas puji-pujian. Tetapi jangan lupa bukti Tuhan bertakhta di atas pujian ada pedang Firman pengajaran yang benar, ada pembukaan rahasia Firman. Saat pujian semangat, ketika mendengar Firman lebih semangat lagi, lebih bersukacita lagi.

Yeremia 15:16

15:16 Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.

 

Yohanes 3:29

3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.

 

Tanpa pedang Firman pengajaran, puji-pujian itu arahnya hanya menyenangkan daging, akhirnya kemuliaan Tuhan dirampas.

 

Jadi kita beribadah melayani Tuhan, yang kita utamakan adalah Firman pengajaran yang benar, ini yang mengarahkan kita menjadi Mempelai Wanita Tuhan.

Wahyu 19:16,13,6-7

19:16  Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."

19:13  Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: "Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

 

Dia Raja, Dia Mempelai Pria Sorga. Jadi dengan adanya Firman pengajaran yang benar dalam ibadah menyucikan kita, kita sedang diarahkan menjadi Mempelai Wanita Tuhan yang siap bersanding dengan Yesus Mempelai Pria Sorga. Jangan marah kalau pedang Firman menyucikan kita.

 

Nanti di penghujung akhir zaman ada 2 pesta yang besar yang disebut perjamuan Tuhan. Yang satu positif, yang satunya negatif, kita sedang mengarah ke mana. Jika ibadah kita mengutamakan penyucian oleh Firman pengajaran yang benar maka kita masuk dalam pesta nikah Anak Domba Allah.

Wahyu 19:9

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah."

 

Tetapi kalau ibadah tanpa pedang Firman pengajaran yang benar, hanya menyenangkan daging, maka akan masuk pada pesta pembantaian daging.

Wahyu 19:17-18,21

19:17 Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: "Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar,

19:18 supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar."

19:21 Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.

 

Pedang Firman ditolak, berubah menjadi pedang penghukuman, jangan terjadi pada kita. Kita sedang diperhadapkan dengan 2 pilihan, berkat atau kutuk, pesta nikah Anak Domba Allah atau pesta pembantaian daging. Kalau mencari yang enak bagi daging arahnya ke pesta pembantaian daging. Kalau mencari tanda darah dalam ibadah kita mengarah pada pesta nikah Anak Domba Allah. Saya merindu bersama isteri anak, keluarga saya dan seluruh jemaat serta keluarga jemaat, kita masuk pesta nikah Anak Domba Allah. Sudah tidak lama lagi, tidak menunggu lama sudah akan digelar.

 

4.      Dipotong-potong menurut bagian-bagiannya. Artinya menerima penyucian lebih mendalam. Apa yang disucikan?

Keluaran 29:17

29:17 Haruslah kaupotong-potong domba jantan itu menurut bagian-bagian tertentu, kaubasuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kautaruh itu di atas potongan-potongannya dan di atas kepalanya.

 

Jadi yang disucikan adalah perut dan betis. Hamba Tuhan dan pelayan Tuhan isi perutnya yaitu hatinya harus disucikan dan juga betisnya yaitu pendiriannya harus disucikan.

a)      Perut hati disucikan

Yehezkiel 2:8; 3:2-4

2:8 Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu."

3:2 Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan.

3:3 Lalu firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu." Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.

3:4 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka.

 

a)      Setelah disucikan baru bisa dipakai. Apa yang ada pada perut hati kita. Apakah seperti Yehezkiel yang berisi Firman atau seperti Yudas Iskariot yang berisi keinginan-keinginan dosa! Dalam hati ini ada 3 macam keinginan yaitu keinginan jahat, keinginan najis dan keinginan pahit atau kepahitan hati, itu yang harus ditusuk dengan pedang Firman pengajaran. Eglon perutnya harus ditusuk dengan pedang bermata 2, ternyata perutnya berisi lemak. Banyak kali kita hamba Tuhan dan pelayan Tuhan mengkonsumsi lemak, artinya milik Tuhan dia ambil karena keinginan. Kegerakan Roh Kudus terhalang oleh Akhan, dosa keinginan. Akhirnya dia mengarah pada lembah Akhor. Tetapi kalau disucikan maka lembah Akhor menjadi lembah pujian, diubahkan oleh Tuhan.

 

Ini keinginan yang ada dalam hati:

Matius 15:19-20

15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

15:20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang."

 

Ini hati yang berisi 7 keinginan jahat, keinginan najis dan keinginan pahit yaitu kepahitan hati. Keinginan jahat mengarah pada cinta uang yang menyebabkan kikir dan serakah. Kikir itu tidak mau memberi untuk pekerjaan Tuhan dan kepada sesama anggota Tubuh Kristus yang membutuhkan. Serakah itu merampas milik Tuhan dan milik sesama. Sekarang yang dirampas adalah kepercayaan Tuhan atas perpuluhan kepada hamba Tuhan. Perpuluhan itu di mana kita makan Firman, di situ kita kembalikan milik Tuhan.

 

Keinginan najis mengarah pada dosa makan minum dan dosa kawin mengawinkan. Banyak yang hancur karena keinginan ini! Hofni dan Pinehas hancur karena keinginan jahat dan keinginan najis. Yudas hancur karena keingian jahat. Juga banyak yang hancur karena kepahitan hati. Bintang gugur karena kepahitan hati, apsintus itu bintang gugur karena kepahitan. Kepahitan-kepahitan ini harus ditusuk oleh pedang Firman. Jangan ada akar jahat, akar najis, akar pahit, sebab kalau 3 ini ada mengarah ada akar busuk, berarti menghina pengajaran, sudah menolak Firman pengajaran yang benar. Kalau hati tidak disucikan arahnya ke Babel, kejahatan, kenajisan, kepahitan itu mengarah ke Babel. 7 itu angka sempurna, Babel itu sempurna dalam kenajisan, sempurna dalam kejahatan, sempurna dalam kepahitan.

 

b)      Betis disucikan artinya pendirian disucikan. Sebagai hamba Tuhan dan pelayan Tuhan kita harus memiliki pendirian yang kuat dan teguh yaitu:

1)      Berdiri teguh di atas Korban Kristus. Artinya tetap hidup benar dan suci, tidak mau dicemari oleh dosa-dosa. Korban Kristus yang melepaskan kita dari dosa. Sekarang dosa sudah begitu luar biasa, dunia ini sudah gelap, kegelapan dosa sudah begitu pekat. Dosa kenajisan dan kejahatan ada di mana-mana, ada di handphone, di televisi, di mana saja. Roh jahat dan roh najis itu di udara, udara ada di mana saja, di mana ada udara di situ ada dosa. Makanya kita perlu waspada, perlu penyucian betis, penyucian pendirian kita. Sekalipun digoda, dipaksa, diancam, kita tidak mau, tetap hidup suci apapun resikonya.

 

2)      Berdiri teguh di atas Firman pengajaran yang benar.

Efesus 2:20

2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

 

Dasar tempat kita berdiri adalah rasul dan nabi. Rasul bicara pengajaran, nabi kaitannya dengan nubuatan. Pengajaran dan nubuatan tidak bisa dipisah, itulah Kabar Mempelai. Pengajaran yang benar dan murni, di situlah kita berdiri teguh. Pengajaran ini sudah murni, Alkitab katakan sudah 7 kali dimurnikan, kita tidak perlu meragukan keabsahannya. Sekarang orangnya yang dimurnikan, berdiri teguh di atas pengajaran yang benar atau goyah, bimbang.

 

5.      Dibakar sampai habis, berarti menjadi asap. Artinya bisa mengosongkan diri, menghampakan diri kita. Tidak ada lagi pikiran daging, perasaan daging, kehendak daging, kekuatan daging. Tetapi menerima pikiran Yesus, perasaan Yesus, kehendak Yesus dan kekuatan Yesus. Kalau ikut pikiran daging, kami hamba Tuhan lebih enak melayani 1 kali dalam seminggu, tidak usah capek-capek pergi melayani sana-sini, cukup dari satu tempat lalu yang lain ikuti secara online. Tetapi tidak boleh seperti itu, tanggalkan semua itu. Kosongkan semua itu! Biarlah pikiran, perasaan, kehendak Yesus yang ada pada kita.

Filipi 2:5-8

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

 

Kosongkan semua kedagingan, jangan dituruti. Kadangkala kedagingan kita yang terlalu menonjol. Saat melayani lalu tidak dihargai langsung muncul perasaan daging sehingga tersinggung. Pikiran daging muncul, mulai berpikiran yang aneh-aneh. Gembala juga mulai berpikir "jangan-jangan jemaat ini begini dan begitu” padahal tidak. Atau melayani dengan kekuatan daging “saya bisa!”. Sekalipun kita bisa, tetapi kosongkan semua itu. Petrus merasa bisa, waktu Yesus berkata semua akan tergoncang imannya dia berkata “biar semua tergoncang imannya, aku tidak”. Begitu di taman Getsemani yang potong telinga malah Petrus, yang menyangkal malah Petrus.

 

Pakai pikiran, perasaan, kehendak, kekuatan yang ada pada Yesus. Apa itu? Merendahkan diri dan taat sampai mati. Dalam melayani Tuhan harus dengan sikap merendahkan diri dan taat sampai daging tidak bersuara. Kita bisa merendahkan diri dan direndahkan, sekalipun direndahkan orang tidak marah. Saul sebelum kehilangan urapan, waktu dia masih taat, dia dihina “bisakah orang ini membebaskan kami?” tetapi dia pura-pura tuli. Waktu Saul sudah menang, orang yang membela Saul berkata “mana itu yang tadi menghina supaya dibunuh”. Saul katakan tidak usah. Ini merendahkan diri, biar dikata-katai orang terserah, orang mau ngomong apa terserah.

 

Hamba Tuhan itu hanya keset. Keset itu tempat orang bersihkan kaki, diinjak-injak. Belajar dari guru-guru kami, hikmat yang Tuhan berikan kepada mereka, istilah-istilahnya sederhana-sederhana saja tetapi mantap menusuk di dalam hati dan pikiran. Memang kami hanya keset, mau orang bilang apa terserah. Rendahkan diri dan taat sampai daging tidak bersuara lagi, pasti Tuhan pakai. Ketaatan kita harus ditingkatkan. Daging masih bersuara mungkin 50%, terus taat. Berkurang 40% terus taat, sampai suara daging habis sama sekali, seperti Yesus sampai mati di kayu salib.

 

Kalau semua proses ini bisa kita lakukan, kita bisa menyerahkan diri kepada Tuhan maka kita menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan seperti Yesus.

Efesus 5:1-2

5:1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih

5:2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

 

Mari belajar untuk menyerah sepenuh sekalipun memang sakit bagi daging kita. Yesus menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan. Kita juga kalau mau menyerah sepenuh maka kita menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan. Berarti dengan penyerahan sepenuh kita dibawa menjadi sama mulia dengan Yesus, menjadi Mempelai Wanita Tuhan. Makanya ditampilkan dalam Wahyu 12:1 Mempelai Wanita itu dalam tanda hamil. Hamil itu penyerahan sepenuh isteri kepada suami. Bukan diperkosa suami tetapi penyerahannya kepada suami.

 

Korban dibakar, asapnya naik berbau harum. Jangan lupa abunya turun, itu berkat yang turun untuk kita. Yang penting menyerah sepenuh kepada Tuhan maka berkat dicurahkan bagi kita, Tuhan tidak pernah menipu. Kesalahan banyak orang Kristen, bahkan kami hamba Tuhan, pelayan Tuhan, mau menerima berkatnya bahkan terkesan memaksa Tuhan tetapi tidak mau menyerah sepenuh kepada Tuhan, tidak mau menjadi asap berbau harum bagi Tuhan. Tidak mau penyucian, hidup beribadah sekalipun menderita tidak mau, penyucian lebih dalam apalagi, tidak mau. Berdiri teguh, tidak mau juga, tetapi maunya berkat-berkat. Tuhan tidak menipu, Tuhan tahu kebutuhan kita. Asalkan berbau harum bagi Tuhan maka berkat itu urusan Tuhan, Tuhan berikan kepada kita. Jadilah asap yang berbau harum bagi Tuhan, penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan, Tuhan tidak pernah menipu.

 

Kalau ada persembahan berbau harum, berkat dicurahkan.

Kejadian 8:20-22

8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.

8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

 

Tuhan memberkati dengan tidak putus-putusnya. Saat kita butuh, Tuhan sediakan. Sampai berkat terbesar yang Tuhan berikan kepada kita adalah pribadiNya sendiri. Tuhan menjadi kepunyaan kita dan kita menjadi kepunyaanNya, menjadi Mempelai WanitaNya. Di depan kita ada perjamuan suci, jaminan yang pasti, jaminan yang kuat bagi kita. Kita menyerah sepenuh seperti Yesus, kita tidak kehilangan segalanya, justru kita menerima segalanya dari Tuhan. Tuhan tidak pernah menipu kita sekalian.

Kidung Agung 2:16

2:16 Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.

 

Dalam pengalaman kami melayani Tuhan, yang penting mau menyerah sepenuh Tuhan tidak pernah menipu, Tuhan menyediakan berkat bagi kita. Yang kita cari bukan berkatnya, yang kita cari Yesus yang disalib, tanda darah, mau menyenangkan hati Tuhan, mau menyerah sepenuh kepada Tuhan. Berkat yang mencari kita, Tuhan perintahkan datang kepada kita.

 

Tuhan memberkati

GPT “Kristus Penebus”

Jl. Langgadopi No.4 Tentena

Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663

HP: 081334496911

Email: imamat_raja@yahoo.com

www.gptkp.blogspot.com


20230326

Kebaktian Umum, Minggu 26 Maret 2023 Pdt. Handri Otniel Legontu

Salam damai sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Siang ini adalah penataran imam dan calon imam yang kedua. Dengan penataran ini kita melayani dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Jabatan pelayanan itu Tuhan yang berikan, kami hamba Tuhan diberikan kepercayaan memberikan penumpangan tangan tetapi tanggung jawab kepada Tuhan. Tuhan ada di mana saja, kita melayani Tuhan dengan setia tekun sampai garis akhir.

 

Wahyu 13:3-4

13:3 Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu.

13:4 Dan mereka menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: "Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?"

             
Antikristus tampil dengan kematian, kebangkitan serta kemuliaan yang palsu. Luka yang membahayakan hidupnya itu kematian yang palsu. Tetapi sembuh, itu kebangkitan palsu. Naga memberikan takhta dan kuasanya kepada antikristus, itu kemuliaan palsu. Semuanya hanya diukur dengan perkara-perkara yang jasmani. Kalau susah itu kematian. Kalau sudah diberkati itu kebangkitan. Semua berhasil itu kemuliaan. Jangan diukur dengan yang jasmani! Jika ikut Tuhan hanya karena melihat mujizat-mujizat yang jasmani maka akan masuk pada penyembahan palsu, penyembahan pada antikristus. Sepertinya menyeru nama Yesus, menyebut haleluya, tetapi karena semua diukur dengan berkat-berkat jasmani akhirnya penyembahannya diselewengkan kepada antikristus. Hanya Yesus yang patut disembah. Memang antikristus itu mau menyelewengkan penyembahan, dia mau disembah sebagai Allah.

II Tesalonika 2:4

2:4 yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

 

Penyembahan itu adalah puncak pelayanan. Jangan sampai kita melayani, memuncak pada penyembahan padahal salah sasaran. Kita pikir melayani dan menyembah Yesus padahal menyembah antikristus.

Supaya penyembahan tidak salah sasaran maka kita harus masuk pada pengalaman kematian yang benar, pengalaman kebangkitan yang benar dan pengalaman kemuliaan yang benar yaitu bersama Yesus.

 

Kita baca dulu nubuatannya.

Markus 8:34-38; 9:1

8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.

8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."

9:1 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa."

 

Ini pengalaman kemuliaan, tidak mati di sini artinya tidak dikuasai maut.

 

Kita sudah mempelajari tentang pengalaman kematian yang benar yaitu menyangkal diri dan memikul salib. Menyangkal diri itu berani berkata tidak untuk dosa atau untuk sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan, mati terhadap dosa, bertobat sungguh-sungguh. Kemudian pikul salib, rela sengsara daging bersama Yesus dalam kita melayani Tuhan. Menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan kenginannya sehingga kita berkenan kepada Tuhan.

 

Siang ini kita lanjut pengalaman kebangkitan bersama Yesus. Di sini gambarkan dengan rela kehilangan nyawa untuk Tuhan. Artinya kebangkitan yang benar itu rela mengorbankan segala sesuatu, bahkan sampai korban nyawa untuk melayani Tuhan. Jadi kebangkitan itu bukan untuk mendapatkan yang jasmani. Yang kita pikirkan dan cari hanya satu yaitu perkara yang di atas, perkara yang rohani.

Kolose 3:1-2

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

 

Karena mencari perkara yang di bumi kita bisa mengorbankan segala sesuatu untuk mendapatkan yang rohani. Inilah yang disebut pelayanan kasih. Kita melayani bidang apa saja sebagai imam dan raja, baik sebagai paduan suara, pemain musik, pembersih gereja, khotbah dan lain-lain, kita harus melayani dengan kasih, bukan dengan kekuatan daging kita, dengan emosi daging kita, tetapi dengan kasih.

 

Saya ingatkan semua yang melayani apalagi yang tampil di depan, jangan nanti tugas baru kelihatan beribadah, kalau bukan tugasnya tidak datang. Jangan alasan ini itu lalu ikut ibadah online. Ibadah online itu bukan suatu keharusan tetapi karena keadaan. Dan berdoa supaya Tuhan tunjukan penggembalaan yang benar. Jangan dijadikan alasan untuk menghindar tidak datang beribadah padahal bisa datang beribadah di gereja. Jangan ada kesibukan sedikit sudah ditinggal ibadah dan online saja. Semua harus kita korbankan, kalau bisa ibadah tatap muka langsung mari datang, ini prioritas utama. Kecuali karena keadaan memang tidak bisa yah tidak apa-apa, tetapi kita upaya supaya bisa dan tidak terhalang.

 

Kalau saya sebagai gembala mau gampang-gampangan saya siaran online saja dari Tonusu, jemaat di sini ikut secara online. Saya bisa jalan-jalan, saya ke Malang dulu nanti ibadah online dari sana. Dulu saya ke Malang membawa isteri berobat sampai harus memimpin ibadah secara online. Itupun sudah tidak nyaman, lebih nyaman ibadah tatap muka langsung. Tetapi kalau sudah tidak bisa mau diapa lagi.

 

Cari perkara di atas, rela korbankan segala sesuatu sampai korbankan nyawa, itu pelayanan kasih. Apapun pelayanan kita harus mengarah pada pelayanan kasih kepada Tuhan. Praktek pelayanan kasih kepada Tuhan:

1.      Lukas 17:7-10

17:7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

 

Ini praktek pelayanan kasih, hanya melakukan kewajiban tanpa menuntut hak.

Lukas 17:10 (Terjemahan Lama)

17:10 Demikianlah juga kamu, apabila kamu sudah berbuat segala perkara yang diperintahkan atasmu itu, berkatalah: Bahwa kami ini hamba yang tiada berguna; kami hanya berbuat barang yang wajib atas kami."

 

Pelayanan itu dimulai dari dalam nikah. Jangan dulu mau tampil melayani keluar kalau dalam nikah belum bisa melayani. Lakukan dulu kewajiban kita baru menerima hak. Kalau kita melakukan kewajiban maka hak kita terjamin di tangan Tuhan.

Yesaya 49:3-4

49:3 Ia berfirman kepadaku: "Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku."

49:4 Tetapi aku berkata: "Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku."

 

Ayo melayani Tuhan, lakukan kewajiban. Kewajiban kita sebagai hamba Tuhan adalah menyatakan kemuliaan Tuhan, memuliakan Tuhan di dalam segala hal. Sekalipun harus berkorban apapun, sampai berkorban nyawa, Tuhan sudah menjamin hak itu ada di tangan Tuhan. Seorang imam dan raja adalah orang yang melayani Tuhan, dimulai dari melayani di dalam nikah. Kita perhatikan pelayanan kita di dalam nikah, pelayanan berdasarkan apa? Pelayanan kasih atau ada motivasi yang lain, motivasi yang jasmani. Pelayanan kasih di dalam nikah adalah melakukan kewajiban utama dalam nikah baru dapat hak.

I Korintus 7:3-4

7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.

7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.

 

Mana yang lebih dahulu di sini, hak atau kewajiban? Ayat 3 itu kewajiban, ayat 4 baru hak. Kadangkala kita melayani banyak menuntut. Di rumah sudah menuntut, di gereja juga sudah menuntut. Apa yang dituntut? Hak! Mau ini mau itu tetapi kewajibannya tidak dilakukan. Ayo dalam nikah dulu melayani, nanti membesar dalam penggembalaan. Kewajiban utama suami apa? Menafkahi isteri dan anak? Bukan itu yang utama. Saya bicara yang rohani, yang jasmani nanti menyusul. Ada orang bisa melakukan kewajiban yang jasmani, tetapi tidak bisa yang rohani, bukan itu yang Tuhan cari! Kebangkitan itu mencari yang rohani. Mulai dari dalam nikah, biarlah nikah kita semua mengalami kebangkitan.

Efesus 5:25-29

5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,

5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

 

a)      Kewajiban utama suami adalah mengasihi isteri seperti diri sendiri dan jangan berlaku kasar terhadap isteri.

Kolose 3:16

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

 

Mau jadi hamba Tuhan, pelayan Tuhan, seorang imam tetapi di rumah tidak mau melayani. Misalnya pendeta di gereja khotbah, tetapi di rumah pukul isteri, bentak isteri kasar sama isterinya. Di rumah saja tidak bisa melayani masa mau melayani di gereja. Akhirnya pelayanannya hanya menonjolkan emosi daging untuk mendapatkan keuntungan daging, dihormati dan lain sebagainya. Di rumah dulu mengasihi isteri seperti diri sendiri, jangan kasar, maka akan menerima hak. Apa haknya? Menerima penundukan dari isteri dan anak-anak. Kadangkala suami itu kasar, memukul, lalu mau minta hak padahal kewajibannya tidak dilakukan. Pemuda kalau masih kasar jangan dulu menikah. Mengasihi isteri ini kewajiban utama, baru nanti menerima hak, isteri bisa tunduk dan anak-anak bisa hormat kepada bapaknya.

 

b)      Kewajiban utama isteri:

Efesus 5:22-24

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

 

Kewajiban isteri tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan. Bukan berarti suami kita jadikan Tuhan. Tuhan itu tidak pernah mengajak umatNya berbuat dosa. Jadi tunduk kepada Tuhan, kalau suami ajak berbuat dosa, isteri berdoa mohon hikmat kepada Tuhan supaya tidak berbuat dosa seperti Abigael. Setelah itu baru dapat hak. Apa hak isteri? Dikasihi suami. Minta disayang tetapi isteri tidak tunduk pada suami! “Saya sudah tunduk pak gembala, tetapi suami kasar terus”. Hak itu terjamin di tangan Tuhan, jadi lapor kepada Tuhan, nanti Tuhan yang kasih haknya. Tuhan yang bisa stel hati suami untuk mengasihi isteri. Kalau masih keras kepala, Tuhan yang jewer telinga suami.

 

Pengalaman kebangkitan itu rela kehilangan nyawa. Mau lakukan kewajibannya sampai rela kehilangan semuanya. “Saya suami sudah korban harga diri, korban perasaan tetapi isteri tidak tunduk-tunduk juga!” yah korban semua sampai korban nyawa. Belum ada di sini suami mengasihi isteri sampai rela mati atau isteri tunduk pada suami sampai rela mati. Jadi lakukan kewajiban sampai korban semua, sampai rela mati maka hak kita di tangan Tuhan. Tuhan tidak pernah menipu!

 

c)      Kewajiban orang tua:

Efesus 6:4

6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Kewajiban orang tua mendidik anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan maka orang tua memperoleh hak yaitu dihormati oleh anak-anaknya. Anak dididik di dalam Firman pengajaran yang benar. Bukan dengan emosi daging, anak tidak turut langsung dihajar, bukan begitu.

Kolose 3:21

3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

 

Boleh marah tetapi sesuai Firman pengajaran yang benar, marah dengan kasih untuk menolong anak. Jangan sudah memaki dan lain sebagainya. Jangan disakit hati anak sampai tawar hatinya. Dia keras daging, bukan keras Fiman. Kita mohon kepada Tuhan bagaimana menasihati anak sesuai dengan nasihat dan didikan Firman pengajaran yang benar. Dinasihati sesuai Firman pengajaran, bukan sesuai ajaran-ajaran nenek moyang. Anak mau menikah harus dinasihati sesuai Firrman pengajaran, bukan sesuai aturan nenek moyang.

 

d)      Kewajiban anak:

Efesus 6:1-2

6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:

6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

 

Kewajiban anak adalah hormat dan mentaati orang tua dan meringankan beban orang tua. Maka akan memperoleh hak yaitu kasih sayang orang tua serta didikan dari orang tua. Kadangkala anak sebenarnya bukan hormat tetapi takut, karena gerak sedikit dipukul. Begitu orang tua tidak ada, kucing pergi tikus menari-nari. Begitu jauh dari jangkauan orang tua dia lakukan semua yang dilarang.

 

Kadang kita orang tua salah mendidik, dengan mendidik keras kita pikir dia takut. Memang mereka takut waktu kita ada, tetapi begitu tidak ada mereka merasa bebas, merdeka mau bikin apa saja.

 

Kewajiban utama kita lakukan baru hak kita dapatkan. Melayani dulu dalam nikah baru melayani dalam penggembalaan. Jika hak dan upah kita ada di tangan Tuhan, berarti hidup dan nikah kita ada di dalam tangan Tuhan. Suami lakukan kewajiban, dia ada di dalam tangan Tuhan, nanti isterinya ditolong, begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, lakukan dulu kewajiban maka hak kita ada di tangan Tuhan. Urusan rumah tangga kita Tuhan yang atur semua.

 

Mungkin anak terlanjur dididik dengan kasar, sekarang sudah jadi berandalan. Lakukan saja dulu kewajiban utama maka hak kita di tangan Tuhan dan Tuhan pasti menolong. Contoh saya dulu kasar, saya maki-maki orang tua. Tetapi setelah orang tua berdamai dengan Tuhan, saya juga berdamai dengan Tuhan bisa Tuhan pulihkan. Anak yang berandalan bisa dijamah oleh Tuhan bahkan menjadi hamba Tuhan meneruskan pelayanan orang tua. Tidak ada perkara yang mustahil.

 

Hamba Tuhan, pelayan Tuhan yang ada di tangan Tuhan adalah bintang yang ada di tangan kanan Tuhan.

Wahyu 1:16

1:16 Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

 

Tetap waspada, ada bintang yang gugur. Apa penyebab hamba Tuhan pelayan Tuhan bisa gugur, kenapa bisa gugur?

a)      Karena seperti anak yang bungsu yang menuntut warisan, menuntut hak.

Lukas 15:12,15

15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

 

Ayo melayani jangan menuntut, nanti akibatnya bukan di ladang Bapa lagi tetapi masuk di ladang babi. Bukan duduk di bawah kaki Tuhan tetapi duduk di pinggir jalan, duduk di tepi sungai Babel. Jangan menuntut ini itu, kewajibannya saja dulu kita lakukan. Babi itu simbol kenajisan. Ke ladang babi berarti hidup dalam dosa, menjadi hamba dosa. Dari hamba Tuhan jadi hamba dosa, dari bintang jadi binatang. Itu kalau menuntut. Dalam nikah menuntut terus tidak pernah melakukan kewajiban malah jadi hamba dosa. Karena tidak dapat hak dari isteri tidak dihormati isterinya karena dia juga tidak lakukan kewajibannya, maka ketemu dengan lawan jenis yang hormat tunduk mulai lirik “lebih baik dia dari isteriku” akhirnya jatuh! Atau isteri tidak mendapat hak dari suami karena dia tidak tunduk, ketemu dengan teman pria yang baik “ini lebih baik dari suamiku” akhirnya jatuh, melayani dosa! Kaum muda kalau di rumah tangga tidak pernah melayani, malah menuntut belikan ini itu padahal tidak pernah hormat pada orang tua, nanti hidupnya berakhir di ladang babi, jatuh dalam dosa kenajisan. Saya juga gembala selalu menuntut dihormati tetapi tidak pernah lakukan kewajiban melayani jemaat dengan sungguh-sungguh, nanti berakhir ke ladang babi.

 

Syukur waktu si bungsu di ladang babi dia ingat 1 hal, dia ingat makanan di rumah bapanya.

Lukas 15:16-17

15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.

15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Kalau sekarang untuk kita adalah makanan Firman Tuhan. Siang ini mungkin sudah di ladang babi, karena banyak menuntut akhirnya kecemplung dalam dosa kenajisan, hidup dalam kenajisan, ingat kembali Firman itulah makanan di rumah Bapa. Kembali pada Firman, itu yang akan memperdamaikan kita dengan Bapa di Sorga, mendorong kita kembali ke ladang Bapa, kembali melayani Tuhan dengan melakukan kewajiban.

 

Lukas 15:18

15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

 

Akhirnya dia kembali kepada Bapa dan diberikan pakaian pesta, disembelih lembu tambun dan masuk dalam pesta. Sekarang menunjuk pesta nikah Anak Domba Allah, kita akan dibawa ke sana.

 

Menuntut hak ini menjadi penyebab bintang gugur, hamba Tuhan pelayan Tuhan gugur karena menuntut, menuntut dihargai dan dihormati. Gembala menuntut dihormati dan dihargai oleh pendeta lain akhirnya gugur. Jangan menuntut-menuntut, nantinya bukan dapat berkat malah ke ladang babi.

 

b)      Seperti Esau yang menjual hak sulung untuk sesuatu yang remeh. Esau menjual hak sulung untuk sepiring kacang merah Yakub, padahal dia punya banyak pembantu yang bisa berikan itu. Jangan kita menjual hak kesulungan karena sesuatu yang bisa kita dapatkan, yang sebenarnya tidak memberikan keselamatan kepada kita. Contohnya diajak rekreasi, kita korbankan ibadah demi rekreasi. Kalau ini kita teruskan nanti gugur seperti Esau. Esau tidak mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sekalipun mencucurkan air mata selamanya.

Ibrani 12:16-17

12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.

12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

 

Mau kembali pada pelayanan sudah tidak bisa, jubahnya sudah diambil Yakub, Yakub yang memperoleh berkat sulung, Esau tidak mendapatkannya. Berkat sulung itu hak untuk menikah, hak untuk menjadi Mempelai Wanita Tuhan, mewarisi kerajaan sorga. Esau tidak mendapatkan itu, hidupnya dalam air mata sampai menangis selamanya di neraka. Jangan terjadi dalam kehidupan kita sekalian. Tetapi yang gugur itu pasti diganti dengan yang lain, bintang gugur diganti dengan yang lain. Lucifer bintang timur yang gugur, diganti dengan Yesus bintang timur yang gilang gemilang. Wasti gugur di ganti Ester. Yudas gugur diganti Matias. Jadi kalau sudah gugur, ada penggantinya, dia tidak bisa kembali lagi. Yang sudah melayani lalu sudah hilang dalam pelayanan, maka ada penggantinya sebab Tuhan tidak pernah membiarkan kerajaan sorga itu kosong. Kalau sudah ada penggantinya tidak bisa kembali. Ayo kembali aktif melayani, jangan gugur, tetap berada di tangan kanan Tuhan.

 

2.      Yohanes 12:25-26

12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

 

Menjadi pelayan Tuhan yang mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu bahkan lebih dari nyawanya. Jangan karena masalah yang jasmani, terutama masalah fisik sehingga kita sudah tidak melayani Tuhan lagi. Ayo layani Tuhan bahkan sampai tidak menghiraukan nyawa. Dan pelayan seperti ini dihormati oleh Tuhan. Tuhan tidak hanya mau dihormati tetapi Tuhan juga mau menghormati kita asalkan kita melayani dengan mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu sampai lebih dari nyawa kita. Penyakit tidak menjadi halangan untuk melayani Tuhan, usia tua tidak menjadi halangan untuk melayani Tuhan. Yang masih muda-muda ayo layani Tuhan sungguh-sungguh. Dalam keadaan fisiknya lemah, tetap bisa melayani, bisa menyembah Tuhan. Tetap mengasihi Tuhan lebih dari segala-galanya, tidak mudah terhalang oleh apapun.

 

Yohanes 14:15

14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

 

Bukti kita mengasihi Tuhan kita menuruti segala perintah Tuhan, taat pada segala Firman Tuhan sekalipun harus korban segalanya. Memang sakit bagi daging, korban waktu, tenaga, harta, korban seluruh hidup demi taat pada Firman Tuhan. Tuhan tidak pernah menipu.

 

Petrus rasul yang hebat, dipakai Tuhan luar biasa, sempat melayani tanpa kasih. Sempat gugur, tetapi dapat kesempatan untuk kembali. Dari batu karang yang teguh menjadi batu sandungan. Tanda melayani tanpa kasih seperti Petrus:

a)      Matius 16:23

16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

 

Bandingkan dengan ayat sebelumnya:

Matius 16:18

16:18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

 

Petrus sempat menjadi batu sandunggan bagi sesama. Menjadi batu sandungan dan tersandung itu sama-sama tanpa kasih. Yang menjadi sandungan dan yang tersandung itu sama saja.

 

Dikatakan Petrus bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah tetapi yang dipikirkan manusia. Ini pelayanan yang hanya menjadi sandungan, pikirannya hanya memikirkan yang daging, hanya mencari yang daging, semua daging, kesenangan daging. Pikiran tertuju pada yang jasmani, kalau melayani dapat apa. Ikut KKR mau dapat apa? Semua diukur dengan daging. Kaum muda melayani Tuhan jangan berpikir hanya untuk menyenangkan daging.

 

Kalau orang yang pikirannya hanya mencari yang daging akan seperti ini:

Matius 16:22

16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."

 

Petrus menarik Yesus ke samping. Yesus adalah gembala, seorang gembala seharusnya berjalan di depan tetapi Petrus tidak mau mengikuti Yesus di depan malah dia tarik ke samping. Jadi artinya kalau sudah berpikiran daging pasti sulit untuk tergembala. Sebagai gembala juga seperti itu, kalau mau khotbah 3 macam ibadah di 3 tempat, waktu untuk keluarga bagaimana, untuk kesehatan bagaimana, sehingga sulit untuk tergembala. Tetapi jangan seperti itu, harus mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, jangan jadi sandungan apalagi mudah tersandung.

 

b)      Markus 14:27-29

14:27 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai.

14:28 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea."

14:29 Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak."

 

Ini artinya merasa lebih hebat dari orang lain. Banyak bicara tetapi tanpa praktek. Seperti Petrus, begitu Yesus ditangkap di taman Getsemani yang potong telinga orang yah Petrus, yang menyangkal juga Petrus. Inilah akibatnya kalau merasa lebih hebat dari yang lain. Jangan terjadi dalam kehidupan kita. Selagi Tuhan masih berikan kekuatan layani Tuhan, bahkan dalam keadaan sudah terbataspun Tuhan berikan kemampuan kepada kita kalau mengasihi Tuhan lebih dari apapun.

 

Lewat 3 kali pertanyaan Yesus didapatilah ternyata Petrus melayani tanpa kasih.

Yohanes 21:15-17

21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

 

3 kali pertanyaan Yesus memulihkan kasihnya Petrus. 3 kali ini menunjuk Firman penggembalaan dalam 3 macam ibadah pokok. Lewat Firman penggembalaan dalam 3 macam ibadah pokok, kasih kita kepada Tuhan dipulihkan. Firman penggembalaan ini sumber dari kasih. Jangan tinggalkan penggembalaan. Kalau tinggalkan penggembalaan kasih merosot, yang meningkat malah kedurhakaan. Mendurhaka dalam nikah, mendurhaka dalam penggembalaan, mendurhaka terhadap pengajaran. Jangan kita seperti itu. Tekuni, nikmati Firman dalam 3 macam ibadah pokok maka kita bisa melayani Tuhan dengan kasih.

 

Praktek melayani Tuhan dengan kasih.

Yohanes 21:18

21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

 

Praktek melayani Tuhan dengan kasih adalah banyak mengulurkan tangan kepada Tuhan. Petrus sempat ulurkan tangan untuk memotong telinga orang. Sekarang harus ulurkan tangan kepada Tuhan. Artinya:

a)      Harus taat kepada kehendak Tuhan sekalipun tidak sesuai kehendak kita. Kehendak kita A, tetapi kehendak Firman Tuhan B, yah lakukan B turuti kehendak Tuhan.

   

b)      I Timotius 2:8

2:8 Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.

 

Bertekun dalam doa penyembahan kepada Tuhan. Disebut orang laki-laki berdoa. Laki-laki itu simbol kekuatan. Artinya kalau kita bisa berdoa menyembah dengan sungguh-sungguh maka Tuhan menguatkan kita untuk taat. Seperti yang ditunjukan oleh Yesus, Dia menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, malaikat datang itu gambaran Roh Kudus yang menguatkan Yesus untuk melakukan kehendak Bapa sampai mati di kayu salib. Mari kita banyak menyembah Tuhan hari-hari terakhir ini.

 

Kita ulurkan tangan kepada Tuhan, mau taat pada Firman apapun resikonya dan mau menyembah Tuhan dalam situasi kondisi apapun maka Tuhan menguatkan kita untuk bisa taat. Hasilnya:

Mazmur 95:6-7

95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.

95:7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

 

Hasilnya tangan kasih Tuhan menuntun kita semua. Artinya:

a)      Tangan kasih setia Yesus Gembala memberikan daya tahan menghadapi segala tantangan dan himpitan. Sehebat apapun keadaan kita, pandai, punya ijazah, punya kekayaan, punya kedudukan, di hadapan Tuhan kita hanya domba sembelihan. Seperti domba yang sudah diikat keempat kakinya dan sebentar lagi disembelih. Tetapi tangan kasih setia Tuhan Yesus Gembala memberikan daya tahan dan memberikan kemenangan bahkan menjadikan kita lebih dari pemenang.

Roma 8:35-37

8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? 1Penindasan atau 2kesesakan atau 3penganiayaan, atau 4kelaparan atau 5ketelanjangan, atau 6bahaya, atau 7pedang?

8:36 Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." 

8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Ada 7 senjata iblis yang kita hadapi hari-hari terakhir ini, krisis di berbagai bidang. Kita tidak mampu berbuat apa-apa tetapi bisa menang.

 

b)      Wahyu 7:17

7:17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."

 

Tangan kasih setia Yesus Gembala Agung menuntun kita sampai ke mata air kehidupan= menuntun kita ke masa depan yang indah dan berhasil, sampai menuntun kita ke takhta Sorga, Yerusalem Baru, di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi ratap tangis, hanya bahagia bersama Yesus selamanya. Dituntun di sini berarti disucikan, dibaharui, sampai disempurnakan.

Wahyu 22:7

22:7 "Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!"

 

Biarlah kita tergembala, layani Tuhan dengan kasih. Pertanyaan siang ini apakah kita melayani Tuhan dengan kasih atau tanpa kasih. Apapun yang kita kerjakan kalau tanpa kasih tidak ada gunanya. Hebat melayani tetapi kalau jadi sandungan dan gampang tersandung tidak ada gunanya. Apalagi kalau kita merasa lebih dari yang lain, tidak ada gunanya! Biarlah kita mau belajar melayani seperti Petrus, lewat koreksi Firman penggembalaan dalam 3 macam ibadah Petrus dipulihkan kasihnya. Dia bisa taat, bisa mengulurkan tangan dan hanya menyembah Tuhan dalam segala situasi kondisi. Maka tangan kasih setia Tuhan diulurkan kepada kita, menuntun kita, menjadikan lebih dari pemenang, sampai berhasil menjadi Mempelai Wanita Tuhan yang sempurna.

 

Tuhan Memberkati.

GPT “Kristus Penebus”

Jl. Langgadopi No.4 Tentena

Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663

HP: 081334496911

Email: imamat_raja@yahoo.com

www.gptkp.blogspot.com