20160514

Kebaktian Doa, Sabtu 14 Mei 2016 Pdt. Bernard Legontu


Salam sejahtera di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
                                  
Yohanes 1:14
1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Firman menjadi manusia yang kita kenal  adalah Tuhan Yesus. Kita tahu awalnya dikatakan Maria mengandung oleh karena Roh Kudus. Jadi Firman menjadi manusia itu adalah karya Roh Kudus. Jadi kita manusia untuk menjadi sama seperti Tuhan itu adalah karya Roh Kudus.

Dua hal ajaib:
1.      Firman menjadi manusia.
2.      Manusia menjadi sama dengan Allah

Keduanya itu adalah karya Roh Kudus. Kita menerima Firman dalam urapan Roh Kudus dan yang mendengar juga dalam urapan Roh Kudus sehingga kita semua dituntun menjadi Tubuh Kristus, menjadi sama seperti Allah.

Kita ambil 4 contoh di dalam Alkitab kehidupan yang mendapat kasih karunia. Yang kelima yang menerima kasih karunia adalah kita gereja Tuhan.
Efesus 4:7
4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

Setiap pribadi yang ada sore hari ini akan membuktikan, benarkah kita sudah dianugerahi kasih karunia itu. Lewat empat pribadi yaitu Nuh, Yusuf, Musa dan Daud maka kita akan melihat apakah ciri dari keempat orang itu ada pada kita.

Kita telah mengikuti tentang Nuh yang mendapat kasih karunia. Di tengah-tengah kebejatan moral manusia, masih ada orang yang dikatakan Firman Tuhan mendapat kasih karunia. Yang ditonjolkan di situ adalah Nuh. Disebut juga isteri Nuh, Sem bersama isteri, Yafet bersama isteri dan Ham bersama isteri. Jadi tiga anaknya ini ikut membonceng pada nikah Nuh. Jadi peran Nuh yang mendapat kasih karunia, memberikan imbas kepada Sem, Ham dan Yafet beserta isteri-isteri mereka.

Kalau anda dan saya mendapat kasih karunia maka akan terasa bagi orang yang dekat dengan saudara bahwa anda mendapat kasih karunia. Kalau suami mendapat kasih karunia maka akan terasa imbasnya kepada isteri. Kalau isteri mendapat kasih karunia maka kecipratan kepada suami. Kalau orang tua mendapat kasih karunia maka kecipratan kepada anak.

Kalau kita mendapat kasih karunia maka Tuhan tidak memberikan itu untuk kita miliki sendiri sebab kalau seperti itu berarti kita egois. Tetapi Tuhan ingin supaya kita menularkan kasih karunia kepada orang lain mulai dari orang yang dekat dengan kita, minimal di dalam keluarga kita.

Walaupun tidak disinggung-singgung siapa isteri Nuh tetapi berkali-kali disebutkan suami isteri. Jadi mulai dari persekutuan kecil yaitu nikah kita harus ada warna bahwa kita mendapat kasih karunia. Harus ada citra di dalamnya, harus ada suasana bahwa hidup kita mendapat kasih karunia. Begitu indah kehidupan yang mendapat kasih karunia, sebab kalau tidak orang itu berada di luar rencana Allah.

Buktinya Nuh. Karena dia mendapat kasih karunia maka orang yang dekat dengan dia ikut selamat. Orang-orang yang tidak mendapat kasih karunia itu tenggelam binasa.

Kita akan melihat ciri-ciri orang yang mendapat kasih karunia ini apa kegiatannya. Dia diperintahkan Tuhan membangun Bahtera yang dimulai dengan mutu. Setelah itu diperlihatkan model, semua datang dari Tuhan. Model ini tidak asal, jadi Nuh tidak boleh menambah ataupun mengurangi ukuran yang Tuhan berikan kepadanya sebagai bukti dia mendapat kasih karunia. Tetapi manusia merasa ukuran yang Tuhan berikan itu kelebihan atau kurang sehingga berani menjamah dengan akalnya. Itu bukti kehidupan itu tidak mengerti apa itu kasih karunia karena dia berani menambah dan mengurangi. Dalam Alkitab ada 5 tempat di mana Tuhan melarang supaya jangan menambah dan mengurangi.

Ø  Bahtera itu panjanganya 300 hasta.
Angka 300 itu menunjuk sisa yang setia. Dalam kitab Hakim-hakim ada pribadi yang kita temukan di dalamnya bahwa Tuhan memilih 300 orang untuk bersama dengan Gideon.

Tiga ratus orang ini turun ke sungai lalu menghirup air dengan tangannya, tangan berbicara pelayanan. Ini berarti orang yang tidak malas, mereka rajin menggunakan tangannya.  Amsal mengatakan orang malas itu mengambil roti tetapi tangannya terlalu malas untuk membawa itu ke mulutnya.
Amsal 19:24
19:24 Si pemalas mencelup tangannya ke dalam pinggan, tetapi tidak juga mengembalikannya ke mulut.

Itu sebabnya yang dipilih di sini adalah 300 orang yang sujud dan mencedok air lalu dibawa ke mulutnya. Bukan seperti yang menjilat langsung ke air.

Hakim-hakim 7:7,6
7:7 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya."
7:6 Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air.

Mereka ada tanda kesetiaan dalam menggunakan tangan berarti memberi pelayanan. Kita harus membuktikan apakah ukuran setia dan rajin itu ada atau tidak. Banyak yang setia tetapi tidak rajin.

Anak sulung dalam Lukas pasal 15 itu setia di rumah Bapa, tetapi tidak nampak kerajinannya bagaimana. Kalau dia mendapat kasih karunia maka dia ada inisiatif untuk mencari adiknya yang hilang. Dia tidak seperti itu bahkan mengomel ketika adinya kembali.

Tidak hanya setia dan rajin tetapi juga ada teladannya. Yang menjadi teladan di sini adalah Gideon.
Hakim-hakim 7:17
7:17 Dan berkatalah ia kepada mereka: "Perhatikanlah aku dan lakukanlah seperti yang kulakukan. Maka apabila aku sampai ke ujung perkemahan itu, haruslah kamu lakukan seperti yang kulakukan.

Kalau saya berbicara setia dan rajin lalu saya sendiri tidak setia dan tidak rajin maka teladan apa yang bisa saya tunjukan. Contoh yang tidak ada cacat celanya adalah kesetiaan Tuhan Yesus.
II Timotius 2:13
2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."

Kasih karunia yang ada pada kita coba kita warnai dengan setia dan rajin serta ada keteladanan. Teladan yang kita terima dari Tuhan Yesus kemudian harus turun kepada kita. Bukan hanya mengatakan Tuhan Yesus teladan kita, tetapi apakah kita mengambil keteladanan itu menjadi warna hidup kita. Kalau kita mengambil keteladanan dari Tuhan Yesus maka otomatis orang lain kena imbas.

Tidak semua pemimpin itu dapat kita teladani. Yang paling tepat kita teladani adalah Tuhan Yesus. Anak dari Gideon yaitu Abimelekh mau coba mengambil peran seperti Gideon, dia mengatakan kepada pengikutinya “ikutilah apa yang aku lakukan” namun teladan yang dia berikan itu untuk membunuh. Teladan yang dia berikan bukan untuk memberi keselamatan tetapi untuk membunuh.
Anda bisa melihat orang setia, tetapi apakah kesetiaan itu mengarahkan kita untuk menjadi Tubuh Kristus, menjadi Mempelai Wanita alias ada kehidupan, atau teladan orang itu malah membunuh rohani kita. Jadi keteladanan itu perlu diuji, kesetiaan itu harus diuji begitu juga dengan kerajinan harus diuji.

Hakim-hakim 9:48
9:48 Lalu Abimelekh dan seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia naik ke gunung Zalmon. Abimelekh mengambil kapak, lalu memotong dahan-dahan kayu, mengangkatnya dan meletakkannya ke atas bahunya sambil berkata kepada rakyatnya yang bersama-sama dengan dia: "Turutilah dengan segera perbuatanku yang kamu lihat ini."

Dia sudah menjumpai orang-orang yang melawan dia yang ada di dalam gua. Dia mengambil kayu dan diikuti oleh orang banyak yang beserta dengan dia kemudian diletakkan di mulut gua lalu dibakar sehingga banyak orang yang mati dalam gua. Jadi ada kegiatan, ada kesetiaan tetapi mencelakakan. Sedangkan pekerjaan Roh Kudus masih harus kita selidiki, masih perlu diuji benar atau tidak, apalagi hanya keteladanan dari manusia (Abimelekh).

Kita menjadi umat Tuhan jangan sampai terkecoh. Apakah keteladanan yang kita ikuti itu membuat rohani kita bertumbuh sampai menjadi Mempelai Wanita Tuhan atau tidak. Kita dianjurkan setia dan rajin tetapi apakah rohani kita berkembang? Jangan sampai nampaknya ada kesetiaan dan keteladanan tetapi sebenarnya rohaninya mati.

Rasul Paulus berani berkata “teladanilah aku” sebab rasul Paulus meneladani Tuhan Yesus. Jadi kalau orang meneladani Tuhan Yesus maka kita tidak meragukan keteladanannya.

Ø  Lebar Bahtera itu 50 hasta.
Angka 50 ini juga kita dapati dalam kisah Gideon.

Ada 2 tanda yang diminta Gideon kepada Tuhan dan kedua-duanya Tuhan lakukan. Lalu ada dua tanda lagi yang Tuhan berikan pada Gideon tanpa dia minta. Tanda yang terakhir adalah tanda bahasa asing, itu menunjuk angka 50 yaitu angka Pantekosta. Orang yang dipenuhkan Roh Kudus pasti berbahasa asing. Itu bukan hanya menguatkan orang lain, seharusnya juga menguatkan dirinya sendiri.

Ini adalah tanda kedua yang Tuhan berikan.
Hakim-hakim 7:9-11
7:9 Pada malam itu berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Bangunlah, turunlah menyerbu perkemahan itu, sebab telah Kuserahkan itu ke dalam tanganmu.
7:10 Tetapi jika engkau takut untuk turun menyerbu, turunlah bersama dengan Pura, bujangmu, ke perkemahan itu;
7:11 maka kaudengarlah apa yang mereka katakan; kemudian engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu." Lalu turunlah ia bersama dengan Pura, bujangnya itu, sampai kepada penjagaan terdepan laskar di perkemahan itu.

Gideon mendengar mimpi yang diceritakan bukan oleh orang Yahudi tetapi oleh orang asing, jadi ini adalah bahasa asing dan itu memberikan keberanian kepadanya. Bahasa asing di sini menunjuk bahasa Roh, itu memberikan kita keberanian, memberikan kita kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi musuh. Kalau ada orang berbahasa Roh maka harusnya dia menjadi kuat, bukan menjadi kehidupan yang mudah lemah. Kalau mengaku penuh Roh Kudus bukti berkata-kata asing namun gampang lemah maka dipertanyakan apakah betul dia dipenuhi dengan Roh Kudus atau tidak.

Hakim-hakim 7:12-14
7:12 Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya.
7:13 Ketika Gideon sampai ke situ, kebetulan ada seorang menceritakan mimpinya kepada temannya, katanya: "Aku bermimpi: tampak sekeping roti jelai terguling masuk ke perkemahan orang Midian; setelah sampai ke kemah ini, dilanggarnyalah kemah ini, sehingga roboh, dan dibongkar-bangkirkannya, demikianlah kemah ini habis runtuh."
7:14 Lalu temannya menjawab: "Ini tidak lain dari pedang Gideon bin Yoas, orang Israel itu; Allah telah menyerahkan orang Midian dan seluruh perkemahan ini ke dalam tangannya."

Ketika dipenuhkan dengan Roh Kudus maka bahasa yang kita terima adalah bahasa yang tidak kita tahu, itulah bahasa asing.

Yesaya 28:11-12
28:11 Sungguh, oleh orang-orang yang berlogat ganjil dan oleh orang-orang yang berbahasa asing akan berbicara kepada bangsa ini
28:12 Dia yang telah berfirman kepada mereka: "Inilah tempat perhentian, berilah perhentian kepada orang yang lelah; inilah tempat peristirahatan!" Tetapi mereka tidak mau mendengarkan.

Logat ganjil atau bahasa asing itu dihubungkan dengan Roh Kudus. Berbahasa asing di sini adalah berbahasa Roh dan Roh Kudus itu memberikan perhentian.

Jadi bahasa asing itu menguatkan dan memberikan keberanian. Setelah Gideon mendengar bahasa asing itu maka tidak ada lagi keragu-raguan dan ketakutannya. Dengan 300 prajurit menghadapi pasukan yang sekitar ratusan ribu itu di atas kertas Gideon pasti kalah. Tetapi karena kekuatan Roh Kudus maka jumlah tentara yang besar itu berhasil dikalahkan. Inilah puncak keberanian Gideon.

Roh Kudus diberikan kepada kita bukan untuk popularitas tetapi supaya kita kuat mengerjakan Firman. Bukannya malah membuat daging kita merasa lebih hebat, tetapi supaya kita kuat menghadapi tantangan.
50 ini adalah angka Pantekosta. Dari Tuhan Yesus bangkit sampai Roh Kudus dicurahkan ada 50 hari. Dari bangsa Israel keluar dari Mesir sampai hari di mana Musa naik di gunung Torsina adalah 50 hari. Dari pesta Paskah yang disertai dengan pesta roti fatir dan pesta timang-timangan setelah dihitung 7 kali sabat dan ditambah satu hari, itulah hari ke-50 merupakah hari raya Pentakosta.

Kita membutuhkan keberanian dan kemampuan lewat kuasa Roh Kudus. Ketika Yesus mati dan dikubur dan Dia bangkit serta menampakkan diri namun Petrus dan kawan-kawannya mengunci diri, berarti mereka takut. Tetapi setelah mereka dipenuhi Roh Kudus maka tidak ada rasa takut lagi.

Jadilah umat Tuhan yang merindukan Roh Kudus. Ketika hadir dalam satu ibadah, datanglah dengan satu kerinduan hati “saya ingin jumpa dengan Tuhan Yesus” berarti berjumpa dengan Roh Kudus dan berjumpa dengan Firman pengajaran.

Kita beribadah bukan hanya mengisi upacara tetapi supaya kehidupan kita diisi dengan Firman dan Roh Kudus sehingga kita memiliki keberanian untuk menantang semua yang ada di depan kita dan bukannya menjadi lemas dan loyo.

Kita diberikan Roh Kudus supaya kita berani menghadapi situasi dan kondisi. Kadang kita menerima ancaman tetapi kalau ada Roh Kudus kita akan mampu. Kita juga akan mengalami kesulitan-kesulitan ekonomi entah lapar atau haus, tetapi kalau ada Roh Kudus maka kita pasti kuat.

Kalau ada mengatakan “saya ada Roh Kudus” tetapi takut lapar dan haus serta takut pada ancaman sehingga tidak berani memberitakan Firman berarti itu bukan Roh Kudus dalam dirinya.

Sebagai umat Tuhan kita perlu bekal Firman dan Roh Kudus supaya kita berani. Utamanya bukan hanya berani menghadapi dunia tetapi berani menghadap takhta kasih karunia Tuhan.
Ibrani 4:16; 10:19
4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

Jadi ada dua sarana di sini yaitu Firman dan Roh Kudus yang membuat kita berani menghadap takhta kasih karunia Tuhan sehingga kita mendapat pertolongan tepat pada waktunya.

Jadi bahasa Roh itu bukan hanya sekedar popularitas. Ketika menghadapi situasi dan kondisi apakah tetap setia, kuat, rajin dan meneladani Tuhan Yesus sehingga kita menjadi teladan atau hilang bahasa Rohnya.

Saya mengucap syukur kepada Tuhan, saya diberikan Firman dan Roh Kudus sehingga berani menghadapi kelaparan di sini. Sehingga ada imbasnya, ada pengaruh pada isteri dan anak-anak.

Kita harus belajar menjadi umat Tuhan yang memiliki angka 300 dan angka 50. 50 adalah angka Pantekosta yang tandanya berbahasa asing. Bahasa asing inilah yang memberikan keberanian kepada Gideon. Gideon ini memberikan keteladanan kepada pasukan yang dia bagi menjadi tiga, masing-masing 100 orang. Mereka semua membawa obor yang ditutup dengan buyung. Gideon berkata “apa yang aku katakan dan lakukan itu yang kamu lakukan”. Mereka masuk di tengah-tengah pasukan musuh lalu Gideon berteriak “pedang Allah dan pedang Gideon” lalu semuanya mengikuti. Mereka mengambil buyung lalu dengan serempak mereka pecahkan di tanah dan langsung obor menyala. Pasukan musuh yang mendengar itu langsung lari tunggang-langgang dan bukan hanya lari tetapi mereka juga saling membunuh satu dengan yang lain.

Apa maksudnya obor menyala? Supaya melihat ke mana musuh lari, ke mana dosa lari dan ke mana kita bergerak.

Serempak mereka semua memecahkan buyung artinya serempak memecahkan hatinya di hadapan Tuhan. Kalau kita semua sama-sama memecahkan buyung hati kita di hadapan Tuhan maka itu indah di hadapan Tuhan.

Marilah kita gereja Tuhan yang ada pada sore ini kita merindukan keberanian. Di depan kita terbentang masa yang sukar sulit. Mau apa kita jika kita tidak dibekali Firman dan Roh Kudus maka gampang kita dipermainkan iblis dan menjadi mangsa binatang buas. Kalau ada Firman dan Roh Kudus maka ada kekuatan dan keberanian menghadapinya.

Petrus dihadapkan pada pengadilan dan ditatap oleh musuhnya yang rasanya mau mencekik dia namun dengan berani Petrus berkata “mana yang mau kami dengar, kamu atau Tuhan!” mau tunduk pada manusia atau pada Tuhan. Kenapa Petrus berani? Karena ada Roh Kudus dalam dirinya.

Situasi di depan ini adalah masa yang sukar.
II Timotius 3:1
3:1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.

II Timotius 3:1 (Terjemahan Lama)
3:1 Perhatikanlah! Pada akhir zaman akan datang kelak suatu masa yang sukar.
Kita tidak akan kuat menghadapi masa yang sukar kalau Firman dan Roh Kudus tidak ada. Kita butuh Roh Kudus untuk memberikan kita kekuatan.

Gideon sudah punya Firman tetapi dia masih harus dilengkapi oleh Tuhan dengan Roh Kudus. Roh Kudus yang memberikan dia keberanian. Dia mendengarkan bahasa asing. Ini menunjukkan pada kita bahwa bahasa Roh Kudus ini adalah bahasa asing yang menguatkan iman percaya kita.

GPT “Kristus Penebus”
Jl. Langgadopi No.4 Tentena
Kec. Pamona Puselemba, Kab. Poso, 94663
Telp: (0458) 21415
HP: 085241270477
Tuhan Memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar